Tekno / Sains
Jum'at, 03 April 2026 | 18:05 WIB
Penemuan Canggih Ilmuwan China: Ubah Karbondioksida Jadi BBM Mirip Bensin, Ilustrasi Emisi Karbon ( freepik/freepik)
Baca 10 detik
  • Ilmuwan China menemukan cara mengubah karbondioksida dan air menjadi BBM menggunakan sinar matahari. 
  • Proses ini meniru fotosintesis tumbuhan dan menghasilkan bahan bakar yang sangat mirip dengan bensin.
  • Penemuan ini berpotensi menjadi solusi energi berkelanjutan untuk berbagai sektor industri besar tanpa modifikasi. 

Suara.com - Di tengah fluktuasi harga energi global, penemuan BBM baru oleh ilmuwan China bisa menjadi alternatif revolusioner bagi masa depan bumi. Teknologi canggih ini diklaim mampu menyulap karbondioksida dan air menjadi bahan bakar cair hanya bermodalkan sinar matahari.

Bagaimana rasanya jika emisi buangan yang mengotori udara justru bisa menggerakkan kendaraan Anda?

Terdengar seperti fiksi ilmiah, namun jurnal Nature Communications baru-baru ini menerbitkan terobosan nyata.

Dilansir dari Green Matters, Tim dari Chinese Academy of Sciences dan Hong Kong University of Science and Technology sukses mengembangkan material pintar yang meniru cara tumbuhan makan, alias fotosintesis.

Bedanya, yang diproduksi dari proses ini bukanlah nutrisi tumbuhan, melainkan senyawa penting bahan pembuat bensin.

Secara sederhana, teknologi ini menangkap energi listrik berskala kecil dari matahari untuk memicu reaksi kimia.

Karbondioksida yang selama ini dituding sebagai biang kerok pemanasan global, justru disulap menjadi karbonmonoksida dan bahan kimia berharga lainnya.

Uji emisi kendaraan di sisi utara Lapangan Denggung Sleman, Selasa (29/4/2025) pagi tadi. (dok.Istimewa)

Para peneliti menyebut sistem ini sebagai strategi penyimpanan energi yang meniru alam. Tujuan utamanya sangat jelas: menciptakan sumber bahan bakar yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga benar-benar berkelanjutan untuk peradaban manusia.

Kabar baiknya lagi, bahan bakar yang dihasilkan melalui tahapan ini punya karakteristik identik dengan bensin atau solar konvensional yang kita pakai sekarang.

Baca Juga: Harga Pangan Hari Ini Melonjak, Cabai Rawit Tembus Rp119 Ribu/Kg, Ayam Rp52 Ribu

Artinya, jika suatu saat dipasarkan, kita tidak perlu repot merombak mesin kendaraan atau mengganti infrastruktur pompa bensin di SPBU. Tinggal isi dan jalan.

Kehadiran inovasi ini sekaligus menambal kelemahan energi terbarukan saat ini. Panel surya biasa seringkali belum cukup kuat untuk memasok kebutuhan industri kelas berat yang butuh tenaga dorong raksasa, seperti sektor penerbangan komersial.

Tentu saja, lompatan ini bukan satu-satunya di dunia sains. Beberapa tim peneliti lain juga tengah berpacu mengakali karbondioksida agar bisa diubah menjadi gas metana.

Namun, langkah meniru fotosintesis ini menjadi sinyal kuat bahwa peralihan energi dunia bergerak ke arah yang benar.

Seperti yang ditegaskan oleh Profesor Suil In terkait tren inovasi semacam ini, riset berkelanjutan akan sangat membantu mempercepat proses pematangan teknologi.

Harapannya, mesin pengubah polusi menjadi bahan bakar ini tidak sekadar berdiam di laboratorium, melainkan bisa segera dijual dan digunakan secara luas oleh masyarakat.

Load More