- Kaspersky mencatat serangan malware NFC pada perangkat Android melonjak 188 persen selama periode Januari hingga April 2026.
- Pelaku kejahatan siber menggunakan modus NFC langsung dan terbalik untuk mencuri data serta dana rekening nasabah.
- Serangan tersebut kini menyebar luas ke berbagai wilayah dunia melalui model bisnis berbahaya bernama Malware-as-a-Service yang canggih.
2. Modus NFC Terbalik yang Lebih Berbahaya
Metode kedua yang kini semakin populer adalah skema "reverse NFC" atau NFC terbalik.
Pada modus ini, korban dibujuk untuk menginstal aplikasi berbahaya dan menjadikannya sebagai metode pembayaran nirsentuh utama di smartphone mereka.
Aplikasi tersebut kemudian menghasilkan sinyal NFC palsu yang dikenali mesin ATM seolah-olah berasal dari kartu milik pelaku.
Korban lalu diminta menyetorkan uang ke rekening yang disebut sebagai "akun aman" melalui ATM menggunakan smartphone yang telah terinfeksi.
Padahal, dana tersebut justru masuk langsung ke rekening yang dikendalikan pelaku kejahatan siber.
Kaspersky: Modus Baru Jauh Lebih Sulit Dideteksi
Kepala Ahli Keamanan Kaspersky, Sergey Golovanov, menjelaskan bahwa tren serangan NFC kini mengalami perubahan signifikan.
"Dulu para penyerang lebih banyak menggunakan skema NFC langsung. Namun sekarang metode NFC terbalik tampaknya semakin sering digunakan," ujar Golovanov dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Update Harga HP Baru Rilisan 2026 dari Berbagai Merek, Mulai Rp1 Jutaan
Ia menilai, modus terbaru tersebut jauh lebih berbahaya karena transaksi dilakukan langsung oleh korban sehingga terlihat seperti aktivitas perbankan yang sah.
"Bahaya dari skema yang lebih baru dan lebih canggih ini adalah jenis penipuan tersebut jauh lebih sulit dideteksi dan dihentikan. Korban sendiri yang mentransfer uang ke rekening penyerang dan transaksi tersebut sulit dibedakan dari transaksi normal," jelasnya.
Golovanov juga memperingatkan bahwa malware relay NFC diperkirakan akan terus berkembang dan menyasar lebih banyak negara.
"Kami tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa malware relay NFC akan terus berevolusi dan jangkauan serangannya semakin luas. Karena itu ancaman ini harus dipantau dengan lebih serius," tambahnya.
Malware-as-a-Service Mempermudah Aksi Penjahat Siber
Pakar keamanan siber Kaspersky, Dmitry Kalinin, mengungkapkan bahwa serangan NFC relay pertama kali terdeteksi secara publik pada akhir 2023 dan awalnya banyak ditemukan di Eropa.
Seiring waktu, serangan tersebut menyebar ke Rusia dan berbagai wilayah lainnya dengan metode yang semakin canggih.
Menurut Kalinin, para pelaku kini bahkan menawarkan malware NFC relay melalui model Malware-as-a-Service (MaaS), sehingga pelaku lain dapat dengan mudah menyewa atau membeli alat serangan tersebut.
"Serangan pertama yang menggunakan alat NFC sah yang telah dimodifikasi muncul pada akhir 2023 dan awalnya banyak terdeteksi di Eropa. Setelah itu pengguna di Rusia dan berbagai wilayah lain mulai menjadi target," kata Kalinin.
Ia menambahkan bahwa tren ini menunjukkan bagaimana kelompok kriminal siber terus beradaptasi dengan teknologi baru untuk mencuri uang dan data pengguna.
"Kampanye relay NFC memperlihatkan bagaimana pelaku ancaman terus mengembangkan dan memanfaatkan metode baru untuk mencuri dana pengguna," ujarnya.
Pengguna Android Diminta Lebih Waspada
Lonjakan hampir tiga kali lipat dalam serangan NFC menjadi sinyal bahwa teknologi pembayaran digital kini menjadi salah satu target utama kejahatan siber.
Pengguna Android disarankan untuk tidak menginstal aplikasi dari sumber yang tidak resmi, menghindari tautan mencurigakan yang dikirim melalui pesan instan, serta tidak pernah memberikan akses terhadap kartu perbankan atau PIN kepada aplikasi yang tidak terpercaya.
Berita Terkait
-
7 HP Xiaomi NFC Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Cek Saldo dan Bayar Tinggal Tap
-
5 HP Samsung dengan Fitur NFC Canggih, Siap Jadi Andalan Harian!
-
Serangan Siber di Indonesia Tembus 14,9 Juta, Kaspersky Dorong SOC Berbasis AI
-
5 HP Infinix Termurah dengan Fitur NFC yang Canggih, Mulai Rp1 Jutaan
-
5 HP dengan Fitur NFC Cepat dan Responsif, Transaksi Cashless Jadi Lebih Praktis
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
AI Percepat Serangan Siber, CrowdStrike Sebut Industri Keuangan dalam Bahaya
-
Asus Luncurkan Laptop ProArt P16 dan ProArt P14 yang Ditenagai oleh Superchip Nvidia RTX Spark
-
Daftar HP Samsung Ini Terancam Tidak Kebagian One UI 8.5, Galaxy S22 hingga Z Fold 4 Masuk?
-
Terpopuler: Baterai Realme C100i Awet 6 Tahun, Top 3 HP Kamera Terbaik Harga Rp2 Jutaan
-
4 Rekomendasi HP Baterai Jumbo dengan Fitur Reverse Charging, Bisa Jadi Powerbank
-
56 Kode Redeem FF Max Terbaru 1 Juni 2026: Raih Skin MAG-7, SG2, dan Bundel Eclipse
-
5 Pilihan Smart TV 32 Inch Terbaik Harga Rp2 Jutaan, Canggih dengan Fitur Modern
-
Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan Terbaik Menurut Review Pengguna
-
5 HP Midrange Paling Dicari Juni 2026: Chip Kencang, Skor AnTuTu 2,1 Juta Poin
-
Budget Rp3 Juta Dapat iPhone Apa? Ini 4 Pilihan HP yang Masih Sangat Layak Pakai di 2026