Tekno / Internet
Senin, 15 Juni 2026 | 15:29 WIB
Ilustrasi Pekerja kantoran atau Sumber Daya Manusia. [IWG]
Baca 10 detik
  • Ekonomi Keterampilan Manusia menjadi kunci sukses inovasi perusahaan saat era AI.
  • Mayoritas pemimpin SDM fokus membangun Ekonomi Keterampilan Manusia lewat kerja hibrida.
  • Perusahaan wajib menerapkan Ekonomi Keterampilan Manusia agar tidak tertinggal dari kompetitor.

Suara.com - Kehadiran kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar tren inovasi sesaat, melainkan bagian dari transformasi mendasar dalam dinamika kehidupan dan dunia kerja modern.

Akselerasi teknologi ini berjalan sangat masif, mengubah berbagai fungsi pekerjaan secara real-time sekaligus melahirkan bidang baru dalam waktu singkat.

Kondisi ini membuat kesuksesan bisnis kini bertumpu pada kesiapan korporasi dalam menyelaraskan potensi karyawan dengan teknologi.

Riset teranyar dari International Workplace Group (IWG) menunjukkan peran vital aspek humanis di tengah adopsi AI.

Mayoritas pemimpin SDM (90%) sepakat bahwa mengabaikan kapasitas manusia dapat mengancam keberlanjutan inovasi bisnis.

Fenomena ini menandai lahirnya era Ekonomi Keterampilan Manusia, sebuah ekosistem kerja yang menempatkan empati, penilaian objektif, kreativitas, serta kepemimpinan sebagai motor utama performa perusahaan.

Kebangkitan AI: Realitas Operasional Baru dalam Dunia Kerja

Kecerdasan buatan kini telah menyatu dengan aktivitas operasional harian di berbagai sektor bisnis.

Survei IWG terhadap ratusan pembuat keputusan di bidang SDM mencatat bahwa 73 persen tim kerja hibrida telah memanfaatkan solusi AI seperti ChatGPT, dan 82 persen perusahaan sudah memfasilitasi pelatihan AI.

Kendati demikian, para pemimpin SDM mengakui proses peningkatan kecakapan ini harus dipacu lebih cepat.

Mengingat baru 45 persen perusahaan yang dinilai berhasil mengatasi kesenjangan kompetensi teknologi, masih banyak korporasi yang belum optimal dalam mengeksplorasi potensi AI.

Manusia + AI: Model Kinerja Baru

Ketatnya persaingan bursa kerja, khususnya bagi lulusan baru (entry-level), memaksa perusahaan merumuskan ulang standar penilaian performa karyawan.

Data dari Randstad serta Institute of Student Employers menunjukkan penurunan lowongan kerja tingkat pemula sebesar 29 persen secara global sepanjang periode Januari 2024 hingga akhir 2025. Alhasil, kriteria seleksi kandidat kini menjadi jauh lebih tinggi.

Meskipun Generasi Z unggul dalam penguasaan teknologi digital, keterampilan teknis semata tidak lagi menjadi jaminan.

Load More