Tekno / Internet
Senin, 29 Juni 2026 | 14:58 WIB
Ilustrasi Love Scamming atau pelecehan digital. (Unsplash)
Baca 10 detik
  • Riset Kaspersky terhadap 7.600 responden di 19 negara menunjukkan pelecehan digital memicu trauma psikologis serta gangguan sosial nyata.
  • Dampak negatif pelecehan digital mencakup rusaknya karier, pendidikan, hubungan pribadi, hingga risiko ancaman fisik di dunia nyata.
  • Banyak korban tidak mencari bantuan karena minimnya pemahaman serta kebingungan mengenai prosedur pelaporan dan langkah penanganan yang tepat.

Secara global, alasan utama bukanlah ketidakpedulian, melainkan kebingungan. Sebanyak 32 persen responden mengaku tidak mengetahui cara memberikan bantuan, sedangkan 23 persen merasa ragu apakah mereka perlu ikut terlibat.

ilustrasi pelecehan seksual (freepik)

Tatyana Shishkova, Peneliti Keamanan Utama sekaligus Pejabat Kepala Pusat Penelitian Amerika & Eropa di Tim Penelitian dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky, menilai masih terdapat kesenjangan besar antara kesadaran masyarakat terhadap dampak emosional dan pemahaman mengenai konsekuensi jangka panjang dari pelecehan digital.

Fenomena serupa juga terjadi pada para saksi. Sebanyak sembilan persen responden yang mengetahui orang terdekatnya mengalami pelecehan digital memilih tidak melakukan apa pun.

Secara global, alasan utama bukanlah ketidakpedulian, melainkan kebingungan. Sebanyak 32 persen responden mengaku tidak mengetahui cara memberikan bantuan, sedangkan 23 persen merasa ragu apakah mereka perlu ikut terlibat.

"Data menunjukkan kesenjangan yang mengkhawatirkan. Orang-orang menyadari rasa sakit emosional akibat pelecehan digital tetapi masih meremehkan seberapa jauh konsekuensinya dapat menjangkau karier, pendidikan, dan hubungan di dunia nyata," ujar Tatyana Shishkova dalam keterangan resminya, Senin (29/6/2026).

Dia menambahkan, yang sama mengkhawatirkannya adalah keheningan yang mengelilinginya. 

"Ketika korban tidak bertindak, seringkali bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka tidak tahu ke mana harus berpaling. Menutup kesenjangan itu melalui kesadaran, alat yang mudah diakses, dan panduan yang lebih jelas, adalah persis apa yang kami serukan dan upayakan," tuturnya.

Pelecehan Digital Masih Sulit Diidentifikasi

Senada dengan itu, Dr. Leonie Maria Tanczer, Associate Professor di UCL Computer Science sekaligus Kepala Laboratorium Penelitian

Baca Juga: Musik dan Literasi Digital Berpadu di Momenta Festival 2026

Departemen Gender dan Teknologi, mengatakan penyalahgunaan teknologi masih sering dianggap sebagai persoalan yang tidak terlalu serius dibandingkan kekerasan di dunia nyata.

"Temuan ini mencerminkan tantangan yang lebih luas yang kami lihat di seluruh penyalahgunaan yang difasilitasi teknologi, yakni pengakuan tidak selalu diterjemahkan menjadi tindakan," katamya.

ilustrasi hacker. [Ist]

Ia melihat, dalam penelitian terbarunya tentang penguntitan siber, ditemukan bahwa bentuk penguntitan daring sering dianggap tidak lebih kriminal daripada penguntitan luring, meskipun dampaknya serius.

Menurutnya, banyak korban tidak segera mencari bantuan karena bentuk pelecehan digital sulit dikenali, kerap dianggap sebagai hal yang lumrah di internet, serta tidak mudah dibuktikan.

Ia menambahkan bahwa pemerintah, platform digital, komunitas, hingga masyarakat umum memiliki tanggung jawab bersama untuk mengenali, menghentikan, dan mencegah penyalahgunaan teknologi sebelum menjadi budaya yang dianggap normal.

Sementara itu, Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia, mengingatkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga keamanan siber harus menjadi perhatian semua pihak.

"Di era digital saat ini, ruang siber telah menjadi rumah kedua, tempat kita terhubung dan berkreasi. Namun, bagi terlalu banyak orang, ruang-ruang ini juga telah berubah menjadi medan pertempuran permusuhan," jelasnya.

Dia mengungkapkan, meningkatnya ancaman yang didukung teknologi adalah realitas mendesak yang harus disadari dan dihadapi. 

"Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat pertahanan siber kita, dan menumbuhkan tanggung jawab kolektif, kita dapat bekerja untuk memastikan lingkungan digital yang lebih aman bagi kita semua," tambahnya.

Laporan Kaspersky tersebut menjadi pengingat bahwa pelecehan digital bukan lagi sekadar persoalan interaksi di internet. 

Dampaknya dapat menghancurkan kehidupan korban di dunia nyata, sehingga edukasi, pelaporan, dan akses terhadap layanan bantuan menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman.

Load More