- Riset Kaspersky terhadap 7.600 responden di 19 negara menunjukkan pelecehan digital memicu trauma psikologis serta gangguan sosial nyata.
- Dampak negatif pelecehan digital mencakup rusaknya karier, pendidikan, hubungan pribadi, hingga risiko ancaman fisik di dunia nyata.
- Banyak korban tidak mencari bantuan karena minimnya pemahaman serta kebingungan mengenai prosedur pelaporan dan langkah penanganan yang tepat.
Secara global, alasan utama bukanlah ketidakpedulian, melainkan kebingungan. Sebanyak 32 persen responden mengaku tidak mengetahui cara memberikan bantuan, sedangkan 23 persen merasa ragu apakah mereka perlu ikut terlibat.
Tatyana Shishkova, Peneliti Keamanan Utama sekaligus Pejabat Kepala Pusat Penelitian Amerika & Eropa di Tim Penelitian dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky, menilai masih terdapat kesenjangan besar antara kesadaran masyarakat terhadap dampak emosional dan pemahaman mengenai konsekuensi jangka panjang dari pelecehan digital.
Fenomena serupa juga terjadi pada para saksi. Sebanyak sembilan persen responden yang mengetahui orang terdekatnya mengalami pelecehan digital memilih tidak melakukan apa pun.
Secara global, alasan utama bukanlah ketidakpedulian, melainkan kebingungan. Sebanyak 32 persen responden mengaku tidak mengetahui cara memberikan bantuan, sedangkan 23 persen merasa ragu apakah mereka perlu ikut terlibat.
"Data menunjukkan kesenjangan yang mengkhawatirkan. Orang-orang menyadari rasa sakit emosional akibat pelecehan digital tetapi masih meremehkan seberapa jauh konsekuensinya dapat menjangkau karier, pendidikan, dan hubungan di dunia nyata," ujar Tatyana Shishkova dalam keterangan resminya, Senin (29/6/2026).
Dia menambahkan, yang sama mengkhawatirkannya adalah keheningan yang mengelilinginya.
"Ketika korban tidak bertindak, seringkali bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka tidak tahu ke mana harus berpaling. Menutup kesenjangan itu melalui kesadaran, alat yang mudah diakses, dan panduan yang lebih jelas, adalah persis apa yang kami serukan dan upayakan," tuturnya.
Pelecehan Digital Masih Sulit Diidentifikasi
Senada dengan itu, Dr. Leonie Maria Tanczer, Associate Professor di UCL Computer Science sekaligus Kepala Laboratorium Penelitian
Baca Juga: Musik dan Literasi Digital Berpadu di Momenta Festival 2026
Departemen Gender dan Teknologi, mengatakan penyalahgunaan teknologi masih sering dianggap sebagai persoalan yang tidak terlalu serius dibandingkan kekerasan di dunia nyata.
"Temuan ini mencerminkan tantangan yang lebih luas yang kami lihat di seluruh penyalahgunaan yang difasilitasi teknologi, yakni pengakuan tidak selalu diterjemahkan menjadi tindakan," katamya.
Ia melihat, dalam penelitian terbarunya tentang penguntitan siber, ditemukan bahwa bentuk penguntitan daring sering dianggap tidak lebih kriminal daripada penguntitan luring, meskipun dampaknya serius.
Menurutnya, banyak korban tidak segera mencari bantuan karena bentuk pelecehan digital sulit dikenali, kerap dianggap sebagai hal yang lumrah di internet, serta tidak mudah dibuktikan.
Ia menambahkan bahwa pemerintah, platform digital, komunitas, hingga masyarakat umum memiliki tanggung jawab bersama untuk mengenali, menghentikan, dan mencegah penyalahgunaan teknologi sebelum menjadi budaya yang dianggap normal.
Sementara itu, Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia, mengingatkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga keamanan siber harus menjadi perhatian semua pihak.
"Di era digital saat ini, ruang siber telah menjadi rumah kedua, tempat kita terhubung dan berkreasi. Namun, bagi terlalu banyak orang, ruang-ruang ini juga telah berubah menjadi medan pertempuran permusuhan," jelasnya.
Dia mengungkapkan, meningkatnya ancaman yang didukung teknologi adalah realitas mendesak yang harus disadari dan dihadapi.
"Dengan meningkatkan kesadaran, memperkuat pertahanan siber kita, dan menumbuhkan tanggung jawab kolektif, kita dapat bekerja untuk memastikan lingkungan digital yang lebih aman bagi kita semua," tambahnya.
Laporan Kaspersky tersebut menjadi pengingat bahwa pelecehan digital bukan lagi sekadar persoalan interaksi di internet.
Dampaknya dapat menghancurkan kehidupan korban di dunia nyata, sehingga edukasi, pelaporan, dan akses terhadap layanan bantuan menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem digital yang lebih aman.
Berita Terkait
-
Lenovo Bawa Solusi AI End-to-End ke Indonesia, Siap Percepat Transformasi Digital Perusahaan
-
Saat Sepak Bola Bertemu Teknologi, SSD Edisi Argentina Hadir untuk Era Konten Digital
-
Dari Konten Jadi Cuan, Kolaborasi Indosat, Adobe, dan Kemenekraf Buka Jalan Baru
-
Warung Irine Viral di TikTok, Strategi Digital Antar Usaha Kuliner Gresik Naik Kelas
-
Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
5 HP Midrange dengan Kamera Rasa Flagship, Resolusi Tinggi Didukung OIS dan Baterai Badak
-
4 Tablet Murah dengan Fitur Palm Rejection, Menggambar dan Mencatat Lebih Rapi
-
Dampak Krisis Memori Global, Apple Terpaksa Menaikkan Harga MacBook dan iPad
-
Sikap Google Terhadap RUU Hak Cipta : Berisiko Hambat AI dan Ekonomi Digital Indonesia
-
8 HP Fast Charging Termurah 2026, Isi Daya Ngebut Mulai Rp1 Jutaan
-
3 Fitur HP Lipat untuk Kebutuhan Multitasking dan Produktivitas Profesional Muda
-
Galaxy Buds4 Pro Andalkan AI dan Sensor Fusion, Samsung Ungkap Rahasia Panggilan Tetap Jernih
-
Harga iPhone 18 Pro Dirumorkan Naik, iPhone Lipat Apple Bisa Tembus Rp30 Juta?
-
HP Layar Gulung Samsung Makin Dekat, Galaxy Z Slide Disebut Meluncur 2028 Berukuran 10 Inci?
-
6 HP Vivo RAM 8 GB dengan Baterai 6.000 mAh, Awet Seharian untuk Gaming hingga Kerja