Tekno / Internet
Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:12 WIB
Direktur Eksekutif Catalyst Policy Works, Wahyudi Djafar dalam DeepTalk Podcast Suara.com, Jakarta, belum lama ini. [Suara.com/Dhani]
Baca 10 detik
  • Direktur Eksekutif Catalyst Policy Works, Wahyudi Djafar, menyatakan rendahnya literasi konsumen membuat pelanggan sering kesulitan memperjuangkan haknya terkait kuota internet yang hangus.
  • Putusan Mahkamah Konstitusi berpotensi mengubah cara operator seluler memberikan pilihan layanan serta kejelasan konsekuensi paket internet kepada pelanggan.
  • Operator seluler didorong menggunakan aplikasi untuk mengedukasi pelanggan mengenai perbedaan skema rollover dan transparansi informasi paket data sebelum dibeli.

Suara.com - Persoalan kuota internet yang hangus ketika masa berlaku paket berakhir selama ini sering dilihat sebagai masalah sederhana, dimana konsumen membeli kuota, tetapi tidak sempat menghabiskannya sebelum masa aktif berakhir. 

Namun, di balik persoalan tersebut terdapat masalah yang lebih besar, yakni seberapa jauh konsumen memahami haknya dan pilihan layanan yang sebenarnya tersedia.

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait kuota hangus kini berpotensi mengubah cara operator seluler berkomunikasi dengan pelanggan. 

Persoalannya bukan semata apakah sisa kuota harus otomatis dibawa ke periode berikutnya, melainkan bagaimana operator memberikan pilihan yang jelas agar konsumen dapat memahami konsekuensi dari paket yang mereka beli.

Direktur Eksekutif Catalyst Policy Works, Wahyudi Djafar, menilai rendahnya literasi konsumen menjadi salah satu persoalan yang tidak boleh dilewatkan dalam implementasi putusan tersebut.

“Jadi kan di satu sisi harus kita akui ya secara jujur bahwa pemahaman literasi konsumen kita tuh rendah,” ujar Wahyudi dalam DeepTalk Podcast Suara.com, belum lama ini.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat konsumen belum selalu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan atau memperjuangkan haknya ketika berhadapan dengan pelaku usaha.

Konsumen Sering Baru Sadar Saat Kuota Sudah Hangus

Dalam praktiknya, persoalan kuota hangus biasanya baru terasa ketika konsumen membuka aplikasi dan mendapati sebagian besar paket data yang dibeli sudah tidak dapat digunakan.

Baca Juga: Putusan MK soal Kuota Hangus Bakal Ubah Harga Paket?

Situasinya sederhana, seseorang membeli paket 30 GB, tetapi hanya menggunakan 20 GB. Ketika masa berlaku berakhir, 10 GB yang tersisa ikut hilang.

Masalahnya, tidak semua konsumen memahami sejak awal bagaimana mekanisme paket tersebut bekerja, termasuk apakah kuota dapat dibawa ke periode berikutnya atau tidak.

Menurut Wahyudi, desain produk digital dan cara informasi layanan disampaikan kepada pelanggan juga menjadi bagian dari inovasi layanan telekomunikasi.

Putusan MK Bisa Mengubah Cara Operator Menjual Paket Internet

Selama ini, fitur seperti rollover, kemampuan membawa sisa kuota ke periode berikutnya, dapat menjadi pembeda antaroperator.

Operator yang menawarkan rollover bisa menjadikannya sebagai nilai tambah untuk menarik pelanggan, sementara operator lain memilih skema paket berbeda.

Load More