Tekno / Sains
Senin, 17 Agustus 2026 | 11:15 WIB
Foto Lukisan Batu di Gunung Hua. [Wikipedia Common/ Rolfmueller]
Baca 10 detik
  • Lukisan tebing Huashan bertahan dua milenium berkat campuran darah.
  • Studi ungkap pigmen cat kuno mengandung protein darah manusia.
  • Peradaban Luoyue menguasai teknik pencampuran mineral dan bahan organik.

Mereka meneliti serpihan material yang jatuh dari tiga situs Huashan tanpa merusak struktur asli di tebing.

Tim peneliti menggunakan berbagai teknologi modern seperti spektroskopi Raman, mikroskopi elektron, analisis inframerah, dan proteomik.

Pengujian tersebut membuktikan bahwa pigmen merahnya berasal dari tanah liat lokal yang kaya akan kandungan nano-hematit.

Analisis kimiawi menunjukkan bahwa pigmen tersebut direkatkan menggunakan mortar khusus berbahan dasar kapur dan darah.

Para peneliti juga menemukan adanya kandungan kalsium fosfat di dalam campuran bahan pengikat cat kuno tersebut.

Penerapan metode pengecatan dilakukan melalui dua tahapan sistematis oleh para perajin zaman dahulu.

Pertama, mereka melapisi tebing dengan adukan kapur tohor, kalsium fosfat, dan darah sebelum menimpanya dengan pigmen tanah liat.

Reaksi kimia antara kapur dan karbon dioksida di udara menghasilkan kalsium karbonat yang sangat kuat.

Protein darah membantu menciptakan struktur mineral padat yang mengunci partikel nano-hematit agar terikat sempurna pada batu kapur.

Baca Juga: El Nino Ancam Lukisan Gua Berusia 50.000 Tahun: Studi Ungkap Dampak Mengerikan Perubahan Iklim pada Warisan Budaya

Temuan uji proteomik turut mengidentifikasi keberadaan protein serum manusia di dalam sampel fragmen cat kuno.

Para peneliti mengemukakan hipotesis bahwa komponen darah tersebut mungkin berasal dari kaum wanita yang baru melahirkan.

Aspek biologis ini sejalan dengan pandangan budaya masyarakat Luoyue yang menjunjung tinggi kesuburan perempuan dalam ritual tradisional.

Oleh karena itu, darah memiliki fungsi teknis sekaligus nilai simbolis yang amat penting dalam pembuatan karya seni.

Studi inovatif yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science ini memberikan perspektif baru bagi para sejarawan.

Masyarakat purba ternyata memiliki pengetahuan teknik pencampuran material organik dan mineral yang sangat matang.

Situs Huashan bukan sekadar proyek pengerjaan seni berskala masif di tebing curam. Keberhasilan karya tersebut melintasi zaman membuktikan tingkat kecerdasan peradaban masa lalu dalam menguasai sains material.

Perpaduan elemen budaya dan penguasaan teknik alam membuat karya lukisan tebing ini tetap lestari hingga era modern.

Warisan leluhur ini terus menjadi objek penelitian berharga untuk mengungkap misteri teknologi kuno dunia.

Load More