Tekno / Sains
Selasa, 25 Agustus 2026 | 15:15 WIB
ilustrasi pelangi (magnific)
Baca 10 detik
  • Pelangi adalah fenomena optik berupa busur warna di langit yang terbentuk akibat interaksi cahaya matahari dan tetesan air hujan.
  • Proses pembentukan pelangi melibatkan mekanisme fisika berupa pembiasan, pemantulan internal, dan dispersi cahaya saat menembus tetesan air hujan di atmosfer.
  • Ukuran tetesan air serta posisi pengamat yang berada di antara matahari dan hujan menentukan kejelasan dan bentuk busur pelangi.

Suara.com - Pernahkah Anda berdiri di bawah langit yang baru saja diguyur hujan, lalu melihat busur warna-warni yang indah membentang di angkasa? Pemandangan itu sering membuat siapa pun terdiam sejenak, terpesona oleh keindahan yang seolah-olah dilukis oleh tangan alam sendiri.

Pelangi memang selalu berhasil menarik perhatian, baik anak-anak maupun orang dewasa, karena warnanya yang cerah dan bentuknya yang sempurna. Banyak orang menganggap pelangi sebagai tanda bahwa hujan sudah reda dan matahari mulai bersinar kembali.

Di berbagai budaya, pelangi juga sering dikaitkan dengan legenda atau harapan, seperti jembatan menuju kebahagiaan atau tanda perjanjian. Namun di balik keindahannya yang memukau, sebenarnya terdapat proses fisika yang sangat menakjubkan dan dapat dijelaskan secara ilmiah.

Tidak semua orang tahu bahwa pelangi bukanlah benda padat yang bisa disentuh atau didekati. Ia hanyalah fenomena optik yang muncul karena interaksi antara cahaya matahari dan tetesan air di udara.

Ketika kondisi cuaca tepat, mata kita dapat menangkap permainan cahaya tersebut dalam bentuk busur warna yang menawan.

Untuk memahami bagaimana pelangi bisa muncul, kita perlu melihat lebih dekat perjalanan sinar matahari saat menembus tetesan air hujan. Proses ini melibatkan pembiasan, pemantulan, dan dispersi cahaya—tiga fenomena fisika yang bekerja sama menciptakan spektakel warna di langit.

Pelangi terjadi ketika sinar matahari mengenai tetesan air hujan yang masih tersisa di atmosfer setelah hujan turun. Agar pelangi terlihat, posisi pengamat harus berada di antara matahari dan hujan.

Matahari harus berada di belakang pengamat, sementara hujan atau awan yang mengandung tetesan air berada di depan. Sudut yang ideal biasanya terbentuk ketika matahari berada di posisi rendah, misalnya di pagi atau sore hari.

Ketika sinar matahari yang terdiri dari berbagai warna (spektrum putih) memasuki sebuah tetesan air, cahaya tersebut mengalami pembiasan atau refraksi.

Baca Juga: Cerdas Cermat MPR Disebut Rekonstruksi Adegan Laskar Pelangi, Bedanya Juri di Film Bersikap Kesatria

Indeks bias air berbeda dengan udara, sehingga cahaya dibelokkan saat masuk ke dalam tetesan. Tidak hanya dibelokkan, cahaya juga dipisahkan menjadi warna-warna penyusunnya karena setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda.

Merah memiliki panjang gelombang lebih panjang sehingga dibelokkan lebih sedikit, sedangkan ungu atau violet dibelokkan lebih tajam. Proses pemisahan warna ini disebut dispersi.

Di dalam tetesan air, cahaya yang sudah terdispersi kemudian dipantulkan oleh permukaan belakang tetesan. Pemantulan internal ini biasanya terjadi satu kali untuk pelangi primer.

Setelah dipantulkan, cahaya kembali dibelokkan saat keluar dari tetesan air menuju mata pengamat. Hasilnya, kita melihat busur warna dengan urutan merah di bagian luar, diikuti oranye, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu di bagian dalam.

Sudut yang tepat sangat penting. Cahaya merah keluar dari tetesan air dengan sudut sekitar 42 derajat terhadap arah datangnya sinar matahari, sementara cahaya ungu keluar dengan sudut sekitar 40 derajat.

Itulah sebabnya pelangi selalu berbentuk busur, karena hanya tetesan-tetesan air yang berada pada sudut tersebut yang dapat mengarahkan cahaya ke mata kita.

Load More