- Wamen Komdigi Nezar Patria menyatakan agentic AI kini dapat mengambil keputusan dan bertransaksi secara mandiri di sektor keuangan.
- Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan regulasi khusus dan peta jalan untuk mengantisipasi risiko serta menetapkan batas kewenangan sistem AI.
- Talenta masa depan wajib memahami manajemen risiko dan etika guna memastikan teknologi kecerdasan buatan tetap berpihak pada manusia.
Suara.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memasuki fase baru di sektor keuangan. Teknologi ini tak lagi hanya digunakan untuk membantu manusia menganalisis data atau memberikan rekomendasi.
Perkembangan agentic AI memungkinkan sistem kecerdasan buatan mengambil keputusan secara lebih mandiri, bahkan menjalankan transaksi berdasarkan kewenangan yang diberikan kepadanya.
Ketika keputusan tersebut menimbulkan kesalahan atau kerugian, muncul pertanyaan besar: siapa yang harus bertanggung jawab?
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, mengatakan perkembangan ini membawa risiko baru yang tidak bisa diabaikan.
Regulasi dan tata kelola AI, menurutnya, perlu disiapkan sejak sekarang sebelum penggunaan teknologi dengan tingkat otonomi tinggi semakin meluas.
“Agentic AI apabila diberikan otoritas tertentu untuk decision making, dia bisa juga melakukan transaksi. Dan transaksi itu dilakukan antara agentic AI juga. AI dan AI berkomunikasi untuk memutuskan transaksi,” ujar Nezar dalam OJK Digination Day 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan mendasar dalam perkembangan AI. Selama ini, AI umumnya masih berperan sebagai alat bantu. Sistem dapat memberikan analisis, rekomendasi, atau memproses data, tetapi manusia tetap berada di posisi pengambil keputusan akhir.
Situasinya berbeda ketika AI diberi kewenangan untuk menentukan tindakan dan langsung mengeksekusinya.
Risiko Berubah Ketika AI Mulai Bertindak Sendiri
Baca Juga: Penonton Makin Pindah ke Streaming, Menkomdigi Minta KPI Tak Ketinggalan Zaman
Nezar menilai, semakin besar otonomi yang diberikan kepada AI, semakin besar pula risiko yang harus diantisipasi.
Kesalahan sistem tak lagi berhenti pada rekomendasi yang keliru. Dalam sektor keuangan, keputusan yang diambil AI berpotensi langsung memengaruhi transaksi, layanan, data pribadi, hingga akses konsumen terhadap produk keuangan.
“Risikonya tentu besar juga sehingga mitigasi, regulasi, dalam soal ini harus kita siapkan juga mulai sekarang,” tegas Nezar.
Tantangan yang muncul bukan sekadar soal memastikan teknologi bekerja dengan benar. Pemerintah dan pelaku industri juga perlu menentukan batas kewenangan AI, sejauh mana manusia tetap melakukan pengawasan, serta mekanisme pertanggungjawaban ketika keputusan yang dihasilkan sistem menimbulkan kerugian.
Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika satu sistem AI dapat berinteraksi dengan sistem AI lain untuk mengambil atau mengeksekusi keputusan.
Dalam kondisi tersebut, jejak pengambilan keputusan menjadi aspek penting. Ketika terjadi masalah, perlu ada kejelasan mengenai bagaimana keputusan dibuat, sistem mana yang terlibat, siapa yang memberikan kewenangan, dan pihak mana yang bertanggung jawab.
Berita Terkait
-
Google Gratiskan Gemini AI Plus 1 Tahun untuk Mahasiswa Indonesia, Ini Cara Klaimnya
-
Apple Diam-Diam Siapkan Server AI Berbasis Chip M5, Ini Bocoran Wujudnya
-
80,6 Persen Orang Indonesia Terhubung Internet, UMKM Ditantang Naik Kelas
-
Makin Canggih tapi Jangan Terlalu Percaya, 92 Ribu Serangan Menyamar sebagai Layanan AI
-
AI Mulai Masuk Industri Manufaktur, Integrasi Data Jadi Kunci Sebelum Terapkan Teknologi
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
Pilihan
-
Massa Bikin Barikade di Jalan Palmerah Utara, Hadapi Polisi yang Tembakkan Gas Air Mata
-
Palmerah Dihujani Gas Air Mata oleh Polisi, Massa Terus Melawan
-
Dua Sepeda Motor yang Dibakar Massa di Pos Polisi Pejompongan Diduga Milik Intel
-
Sepeda Motor Dibakar Dekat Pos Polisi Pejompongan, Bentrok Pecah
-
Tolak MBG dan Kopdes, FMN: Anggaran Hanya Lari ke Prabowo dan Kroni-kroninya!
Terkini
-
Ketika AI Bisa Memutuskan Transaksi Sendiri, Siapa yang Bertanggung Jawab Jika Terjadi Kerugian?
-
Siapa Saja? Ini 3 Zodiak yang Diprediksi Ketiban Rezeki Sepanjang September 2026
-
Uang Palsu Rp36 M Bukan Sekadar Kerugian, Akademisi: Bisa Gerus Kepercayaan Publik terhadap Rupiah
-
5 Cara Membersihkan Noda di Celana Jeans, Perhatikan agar Tidak Merusak Warna
-
Sampah Pasar Malam Sekaten Menumpuk di Alun-alun Kidul Keraton Solo
-
Iklan Shopee 9.9 Super Shopping Day bareng Naykilla & Tenxi Bikin Netizen Auto Joget!
-
Ulasan Pelukis Bisu dan Rahasia Kelam di Balik Sebuah Pembunuhan
-
Proyeksi IHSG Hari Ini: Asing Kabur Bawa Investasi Rp113 M Pasca Aksi Demo
-
Imbas Demo DPR, Sejumlah Rute Transjakarta Tak Beroperasi Jumat Pagi
-
Ekonomi Tumbuh 5,11%, Purbaya Klaim Kemiskinan dan Pengangguran Makin Susut di Era Prabowo