- Misi BepiColombo bersiap meneliti rahasia dan asal-usul planet Merkurius.
- Misi BepiColombo menerjunkan dua wahana antariksa milik ESA dan JAXA.
- Misi BepiColombo akan memetakan kawah es di belahan selatan Merkurius.
Suara.com - Merkurius, salah satu planet di dalam tata surya kita yang paling sedikit dieksplorasi oleh manusia. Planet ini menyimpan misteri yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Akhirnya ilmuwan mendapatkan kesempatan untuk menjelajah planet ini dan akan segera memecahkan misteri yang tersimpan di dalamnya.
Misi BepiColombo merupakan sebuah proyek penjelajahan luar angkasa bersama European Space Agency (ESA) dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) yang diluncurkan pada bulan Oktober 2018.
Dikutip dari Space.com, BepiColombo menempuh rute panjang yang berliku-liku dan memutar untuk menuju Merkurius. Perjalanan panjang itu kini hampir berhasil, dan misi yang telah dinantikan selama 8 tahun ini sedang bersiap untuk tiba.
Dua wahana antariksa BepiColombo ini dioperasikan terpisah, satu dioperasikan oleh European Space Agency (ESA) dan yang lainnya dioperasikan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA).
Dua wahana ini akan terpisah pada hari Kamis, 3 September 2026 sekitar pukul 8 pagi EDT (1200 GMT).
Memasuki April 2027, diharapkan serangkaian pengamatan dari kedua wahana yang dilengkapi berbagai instrumen tersebut dapat membantu para peneliti memecahkan misteri Merkurius dan sistem tata surya kita.
Sampai saat ini, Merkurius masih memegang predikat sebagai planet di tata surya bagian dalam yang paling jarang dilirik, dengan catatan baru dua misi yang berhasil menjangkaunya.
Penjelajahan awal dimulai saat wahana Mariner 10 milik NASA melintas tiga kali pada rentang 1974 hingga 1975, memperlihatkan permukaannya yang penuh kawah dan retakan, sekaligus memverifikasi bahwa planet ini memiliki medan magnet serta atmosfer yang tipis.
“Ini memberikan kita pengetahuan lebih banyak tentang Merkurius,” kata Sean Solomon, seorang ilmuwan di Universitas Columbia.
Misi Sebelumnya
Eksplorasi Merkurius sempat terhenti selama beberapa waktu hingga tim peneliti yang dipimpin Solomon meluncurkan wahana MESSENGER milik NASA yang tiba di lokasi pada 2011. Meskipun Merkurius berukuran relatif kecil dengan radius sekitar 2.440 kilometer.
Dikutip dari Space.com, wahana ini membawa seperangkat alat ukur presisi, termasuk spektrometer sinar gamma, sinar-X, dan neutron, serta instrumen deteksi atmosfer dan medan magnetik.
Observasi selama empat tahun tersebut berhasil menyajikan pemetaan permukaan Merkurius secara utuh, dengan jarak melintas terdekat mencapai 24,9 km dari permukaan.
“Namun MESSENGER pun tidak cukup canggih untuk mengungkap teka-teki planet tersebut, dari mana asal-usul Merkurius dan bagaimana ia terbentuk belum jelas kepastiannya,” ungkap Solomon.
MESSENGER mengungkap sejumlah teka-teki lain di Merkurius, termasuk struktur ceruk terang bersisi curam “hollows” serta keberadaan unsur volatil di permukaan Merkurius yang melimpah jika dibandingkan dengan Bumi.
Selain itu, kalkulasi data menunjukkan bahwa pusat medan magnetik planet mengalami pergeseran signifikan dari titik intinya. Keterbatasan orbit mengakibatkan resolusi pemetaan belahan selatan tidak seoptimal wilayah utara.
Misteri ini yang ingin dipecahkan oleh para ilmuwan melalui misi BepiColombo. Mereka sangat ambisius dan antusias untuk mempersiapkan misi ini dan dapat menemukan jawaban dari apa yang hanya menjadi hipotesis dan pertanyaan para ilmuwan.
Pada bulan April 2027, jika semuanya tidak ada kendala, misi ini yang terdiri dari dua wahana antariksa tersebut akan mengumpulkan data yang sangat terkoordinasi mengenai planet Merkurius.
Mercury Planetary Orbiter (MPO) dari Eropa dirancang untuk berfokus pada fisik planet itu sendiri.
Berbekal 11 science instruments, wahana ini akan melakukan pemetaan topografi, mineralogi kerak, dan medan gravitasi, sekaligus menganalisis hollows, deposit vulkanik, serta mengamati bagaimana hujan partikel bermuatan dari Matahari memengaruhi planet terdekat dari pusat tata surya ini.
Sementara itu, wahana Mercury Magnetospheric Orbiter (Mio) dari Jepang ditugaskan untuk meneliti wilayah di sekitar planet, khususnya magnetosfer, lapisan atmosfer yang tipis, serta akumulasi debu di sekitarnya.
Selama perjalanan panjang dan enam kali melintas di dekat Merkurius, beberapa instrumen di BepiColombo memang sudah mulai diaktifkan.
Tapi karena posisi wahana masih dalam mode jelajah, sebagian besar instrumen baru bisa aktif total setelah MPO dan Mio berpisah pada Desember mendatang.
Tidak heran jika temuan ilmiahnya baru keluar sedikit demi sedikit, dan Solomon meyakini hasilnya akan "meledak" begitu mereka benar-benar mengorbit.
Ilmuwan sangat antusias untuk melihat landscape belahan Merkurius bagian selatan yang akan diambil dari wahana antariksa tersebut.
Khususnya ketika pada akhirnya wahana antariksa tersebut dapat menemukan endapan es tersembunyi di seluruh area tersebut. Endapan ini akan berada di kawah-kawah yang tidak pernah terkena panas dari Matahari.
Dengan memeriksa wilayah selatan ini, para ilmuwan akan dapat melengkapi data yang mereka miliki dari data utama yang sudah MESSENGER peroleh, dan gambaran lengkap Merkurius yang lebih sempurna.
Dengan adanya misi ini, BepiColombo diharapkan dapat membangkitkan minat orang-orang terhadap Merkurius.
“Planet ini jelas kurang mendapatkan perhatian tidak seperti Mars, Venus, dan planet lainnya,” tambah Klima.