86% Warga RI Pede Bisa Kenali Scam, tapi 2 dari 3 Tetap Terpapar

Sabtu, 12 September 2026 | 15:13 WIB
DeepTalk Podcast Suara.com dengan judul Merdeka dari Scam Gotong Royong Digital Melindungi Konsumen Indonesia di Jakarta, belum lama ini. [Suara.com/Alfian]
  • Riset GASA Indonesia 2025 menyatakan 86 persen responden merasa mampu mengenali penipuan, namun 66 persen tetap terpapar.
  • OJK melaporkan Indonesia berada dalam status darurat scam dengan penerimaan laporan mencapai 1.300 aduan setiap hari.
  • Komdigi dan GASA menegaskan perlunya kolaborasi lintas pihak untuk memperkuat sistem perlindungan digital secara kolektif.

“Semua bahwa saat ini Indonesia dalam posisi waspada atau bahkan darurat scam,” ujarnya.

Kepala Direktorat Pemberantasan Aktivitas Keuanga Ilegal dan Penipuan Transaksi Keuangan OJK sekaligus Ketua Satgas Pasti, Hudiyanto dalam DeepTalk Podcast Suara.com di Jakarta, belum lama ini. [Suara.com/Alfian]

Laporan yang diterima OJK, kata dia, terus meningkat. Dalam sehari, jumlah laporan yang masuk mencapai sekitar 1.000 hingga 1.300 laporan.

Hal yang membuat persoalan ini semakin serius, scam kini dinilai sudah berkembang menjadi sebuah industri.

“Yang kita lawan sekarang adalah matian. Dalam arti bahwa mereka itu bukan kayak orang yang dulu menipu sendiri atau berkelompok. Ini sudah industri. Scam ini sudah industri,” katanya.

Karena itu, melawan scam juga tidak bisa dilakukan sendirian. Pemerintah, industri, asosiasi, dan masyarakat harus bergerak bersama dalam satu ekosistem.

Ruang Digital Tak Punya Batas

Komdigi melihat tantangan yang sama. Pemerintah disebut sudah menyadari bahwa persoalan scam tidak cukup ditangani secara parsial.

Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi, Teguh Arief Yadi, mengatakan ruang digital memiliki dua karakter yang membuat scam semakin sulit dihadapi, yakni borderless dan anonimitas.

Borderless berarti orang bisa mengakses ruang digital dari mana pun dan mendapatkan konten dari mana pun. Sementara anonimitas memungkinkan seseorang menggunakan identitas atau kondisi tertentu untuk kepentingan ilegal.

Karena itu, penanganan scam membutuhkan kerja bersama. Namun, dukungan masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.

“Pemerintah tidak bisa bekerja dalam konteks parsial. Ini perang kolektif. Perang kolektif harus bekerja secara bersama-sama,” ujarnya.

Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi, Teguh Arief Yadi dalam DeepTalk Podcast Suara.com di Jakarta, belum lama ini. [Suara.com/Alfian]

Data GASA pada akhirnya menunjukkan bahwa merasa mampu mengenali scam belum cukup. Sebab, ketika teknologi membuat penipuan terus berkembang, masyarakat yang sudah merasa waspada pun masih bisa terpapar.

Tantangannya bukan lagi sekadar membuat masyarakat lebih pintar mengenali scam, tetapi bagaimana membuat scam lebih sulit sampai ke masyarakat.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com