Potensi Stunting Kini Bisa Didiagnosis Lebih Awal lewat Teknologi

Jum'at, 25 September 2026 | 07:50 WIB
Petugas melakukan pemeriksaan kepada anak-anak dalam kegiatan Cegah Stunting (Centing) yang digelar di Jimmy Hantu Foundation, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Kemenkes mencatat prevalensi stunting nasional tahun 2024 mencapai 19,8 persen dengan spektrum gangguan pertumbuhan yang luas.
  • PT Merck Tbk meluncurkan situs Takartinggi.com dan buku edukasi untuk membantu orang tua memantau pertumbuhan anak.
  • Presiden Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin menyatakan inisiatif ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gangguan pertumbuhan anak.

Suara.com - Masalah pertumbuhan pada anak, baik stunting maupun gangguan akibat faktor hormonal dan genetik, kini semakin mudah diantisipasi sejak dini lewat kehadiran teknologi maupun sarana edukatif digital.

Pasalnya saat ini stunting dan masalah nutrisi menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai pertumbuhan anak di Indonesia, sehingga perhatian terhadap pertumbuhan anak kerap hanya fokus pada pemenuhan dan perbaikan gizi.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tercatat prevalensi stunting nasional sebesar 19,8 persen. Namun gangguan pertumbuhan pada anak justru memiliki spektrum yang lebih luas.

Perawakan pendek, misalnya, tidak hanya dapat disebabkan oleh faktor nutrisi, tetapi juga dapat berkaitan dengan Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), hypothyroidism.

Selain itu, juga terdapat faktor genetik seperti Turner Syndrome maupun kondisi medis kronis lainnya. Pada sebagian anak dengan perawakan pendek, penyebab spesifik juga tidak dapat diidentifikasi meskipun telah dilakukan evaluasi menyeluruh.

Kondisi ini dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS). Selain berdampak pada pertumbuhan fisik, gangguan pertumbuhan juga dapat memengaruhi aspek psikososial anak.

PT Merck Tbk (MERK).

Sejalan dengan upaya tersebut, PT Merck Tbk (MERK) menghadirkan laman interaktif Takartinggi.com untuk membantu orang tua memantau pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan tinggi badan orang tua dan memahami potensi pertumbuhan anak.

Presiden Direktur PT Merck Tbk, Evie Yulin menyebut kalau inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mendorong orang tua lebih peka terhadap pola pertumbuhan anak dan mengambil langkah yang tepat apabila terdapat hal yang perlu diperhatikan.

“Merck berkomitmen mendukung pertumbuhan optimal anak-anak Indonesia melalui edukasi yang berkelanjutan. Bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk media dan komunitas, kami mendorong pemahaman masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan mengenali potensi gangguan, termasuk perawakan pendek (short stature), sejak dini," katanya, dikutip Jumat (25/9/2026).

Selain takartinggi.com, Merck juga meluncurkan buku cerita anak “Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa” sebagai sarana edukasi yang menarik dan mudah dipahami oleh seluruh anggota keluarga.

Evie menambahkan, kedua inisiatif ini dihadirkan untuk membantu keluarga Indonesia untuk memahami dan lebih aktif  memantau pertumbuhan anak sejak dini.

Lebih lanjut ia berharap edukasi ini membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

“Kami percaya edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan dapat membantu membangun pemahaman serta kewaspadaan yang lebih baik mengenai gangguan pertumbuhan anak. Melalui berbagai upaya ini, Merck berharap semakin banyak anak-anak Indonesia yang dapat tumbuh dengan optimal sesuai dengan potensinya,” jelasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com