AI Makin Canggih, Digital Humanities Jadi Kunci agar Teknologi Tetap Berpihak pada Manusia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 18:14 WIB
Ilustrasi AI. [Unsplash]
BACA 10 DETIK
  • BINUS University menggelar konferensi internasional CoDHES 2026 di Jakarta untuk membahas kolaborasi teknologi dan humaniora.
  • Acara ini melibatkan akademisi global guna mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan kecerdasan buatan dan tantangan global.
  • Konferensi menampilkan 192 makalah penelitian serta pameran proyek digital seperti pemanfaatan budaya Nusantara melalui AI.

Suara.com - Kecerdasan buatan (AI) semakin canggih dan mampu mengolah informasi hingga menghasilkan konten. Namun, perkembangan teknologi tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan mesin.

Pemahaman terhadap budaya, perilaku, dan kebutuhan manusia juga diperlukan agar inovasi digital benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Conference on Digital Humanities and Environmental Sustainability (CoDHES 2026), belum lama ini di BINUS @Senayan JWC Campus, Jakarta.

Mengangkat tema Collaborative Digital Humanities: Bridging Local Knowledge and Global Goals, konferensi ini membahas pemanfaatan teknologi digital dalam berbagai bidang, mulai dari AI, pendidikan, psikologi, budaya, hingga keberlanjutan lingkungan.

Dekan Faculty of Humanities BINUS University, Dr. Elisa Carolina Marion, S.S., M.Si., mengatakan perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan pendekatan yang mempertimbangkan manusia dan lingkungan.

“Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kita perlu memastikan bahwa inovasi tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi itu sendiri, tetapi juga pada manusia dan lingkungan,” ujar Elisa dalam keterangan resminya, Kamis (29/10//2026).

Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin dapat mempertemukan pengetahuan lokal, nilai budaya, dan teknologi digital untuk menjawab tantangan global.

Salah satu pendekatan yang dibahas adalah digital humanities, yakni perpaduan teknologi digital dengan ilmu humaniora untuk mengeksplorasi berbagai persoalan manusia dan masyarakat.

Pendekatan ini mencakup pemanfaatan AI, pelestarian arsip, pembelajaran digital, seni budaya, hingga diplomasi digital.

CoDHES 2026 menghadirkan 28 panel dengan total 192 makalah penelitian dari berbagai universitas dalam dan luar negeri.

Konferensi ini juga melibatkan akademisi internasional, termasuk Miguel Escobar Varela dari National University of Singapore, Prof. Su-Ling Yeh dari National Taiwan University, dan Prof. Takayuki Nakanishi dari Dokkyo University, Jepang.

Selain diskusi dan presentasi penelitian, terdapat lima proyek digital humanities yang dipamerkan. Salah satunya, AIXplorasi, mengeksplorasi cerita dan budaya Nusantara melalui AI.

Proyek lainnya mencakup tur museum virtual untuk mengenal sejarah Indonesia, pembelajaran bahasa digital, serta pemanfaatan puisi dan teknologi untuk mendukung pengalaman membaca.

General Chair CoDHES 2026, Dr. Miranda Paulina Tahalele, S.IP., M.A., menilai pengetahuan lokal Indonesia memiliki peran penting dalam menjawab persoalan global.

“Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan lokal dan keberagaman pengalaman masyarakat yang dapat memberikan perspektif penting dalam menjawab berbagai persoalan global,” ujar Miranda.

International Conference on Digital Humanities and Environmental Sustainability (CoDHES 2026). [Ist]

Konferensi ini diselenggarakan bersama Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology (TAR UMT), Malaysia, dan Shandong University of Science and Technology (SDUST), China.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com