Adik Prabowo Pesimistis Soal Penguatan Rupiah, Menteri Ekonominya Bilang Bagus Kalau Melemah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 18:04 WIB
Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo. Foto Suara.com
BACA 10 DETIK
  • Hashim memperingatkan rupiah berisiko melemah hingga Rp21.000 per dolar AS.
  • Airlangga menilai rupiah lemah bisa meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia.
  • Pelemahan rupiah juga berisiko menaikkan biaya impor dan beban utang valas.

Suara.com - Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo tampaknya pesmitis dengan kondisi nilai tukar rupiah yang saat ini terus menunjukkan pelemahan, bahkan dirinya dengan yakin menyebut bahwa mata uang Garuda bisa menembus Rp21.000.

Pernyataan ini justru berbanding terbalik dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang justru menilai pelemahan rupiah bagus dan menguntungkan.

Hashim, yang merupakan adik Presiden Prabowo Subianto, mengingatkan risiko tersebut jika arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia terus berlanjut. Ia menyampaikan peringatan itu dalam Pembukaan Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Menurut Hashim, persoalan tata kelola pasar modal, termasuk praktik saham gorengan, keterbatasan saham beredar di publik (free float), serta rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) yang tidak wajar, perlu segera dibenahi.

Ia menilai keluarnya dana asing secara berkelanjutan dapat menekan rupiah hingga Rp20.000-Rp21.000 per dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri Indonesia dan mengancam stabilitas perekonomian.

Hashim juga mengingatkan potensi kerugian bagi lebih dari 30 juta investor pasar modal akibat praktik manipulasi harga saham. Ia mendesak pemerintah menindak tegas pelaku dan mencontohkan Turkiye yang, menurutnya, telah menangkap 94 orang terkait kasus serupa.

Di sisi lain, Airlangga menyoroti potensi keuntungan dari pelemahan rupiah, terutama bagi daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Sebelumnya, saat rupiah bergerak di kisaran level psikologis Rp18.000 per dolar AS, ia menilai depresiasi mata uang dapat mendukung kinerja ekspor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bursa komoditas mineral dibentuk agar Indonesia punya harga acuan mineral sendiri. [Antara]

“Kalau buat ekspor kan menambah daya saing,” kata Airlangga saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Airlangga mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan nilai tukar. “Kita monitor aja dulu, ya,” ujarnya.

Meski demikian, pelemahan rupiah tidak otomatis menguntungkan seluruh sektor usaha. Eksportir berpotensi memperoleh keuntungan dari penerimaan dolar AS yang lebih besar ketika dikonversi ke rupiah. Namun, manfaat tersebut dapat berkurang bagi industri yang bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.

Sebaliknya, depresiasi rupiah juga meningkatkan biaya impor dan beban pembayaran utang berdenominasi valuta asing. Dengan demikian, dampaknya terhadap perekonomian bergantung pada struktur biaya, komposisi transaksi perdagangan, serta besarnya kewajiban luar negeri.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com