Bentuk Bumi Semakin Membulat Akibat Perubahan Iklim, Ini Dampaknya Bagi Manusia

Minggu, 01 November 2026 | 21:22 WIB
Ilustrasi bumi. [shutterstock]
BACA 10 DETIK
  • Christoforos Kotsakis menerbitkan penelitian pada 9 September 2026 yang menyatakan bentuk padat Bumi semakin membulat.
  • Pencairan es kutub akibat perubahan iklim mengurangi tekanan kerak Bumi sehingga wilayah kutub terangkat perlahan.
  • Pengangkatan kutub meningkat dari 0,5 milimeter per tahun pada periode 1997–2000 menjadi hampir 1 milimeter pada 2011–2015.

Suara.com - Selama ini, Bumi dikenal sebagai planet berbentuk bulat yang sedikit pepat di bagian kutub dan menggembung di sekitar garis khatulistiwa. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa bentuk fisik Bumi ternyata terus mengalami perubahan dan perlahan semakin membulat.

Fenomena ini berkaitan dengan perubahan iklim, terutama mencairnya lapisan es di wilayah kutub akibat pemanasan global. Ketika es dalam jumlah besar mencair, tekanan terhadap kerak Bumi berkurang sehingga permukaan padat di wilayah kutub perlahan terangkat.

Di sisi lain, wilayah sekitar khatulistiwa mengalami perubahan bentuk berupa penyusutan tonjolan pada bagian padat Bumi. Kondisi tersebut membuat bentuk fisik Bumi semakin mendekati bola sempurna.

Temuan ini menjadi salah satu bukti bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi suhu, cuaca ekstrem, dan kenaikan permukaan laut, tetapi juga dapat mengubah karakteristik fisik planet.

Lantas, mengapa Bumi semakin membulat? Seberapa cepat perubahan tersebut terjadi dan apakah fenomena ini berbahaya bagi manusia?

Mengapa Bumi Semakin Membulat?

Ilustrasi Bumi. [Freepik]

Bumi semakin membulat karena adanya perubahan distribusi massa di permukaannya, terutama akibat mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika.

Pada dasarnya, Bumi bukanlah bola sempurna. Rotasi atau perputaran Bumi menyebabkan bagian tengahnya, khususnya wilayah khatulistiwa, sedikit menggembung. Sementara itu, bagian kutub terlihat lebih pepat.

Bentuk ini dikenal sebagai oblate spheroid atau sferoid pepat.

Namun, ketika lapisan es di wilayah kutub mencair, beban yang selama ini menekan kerak Bumi berkurang. Akibatnya, daratan di bawah lapisan es tersebut perlahan mengalami pengangkatan.

Fenomena ini dikenal sebagai glacial isostatic adjustment (GIA), yaitu proses penyesuaian kerak Bumi akibat perubahan beban es dalam jangka waktu panjang.

Proses tersebut dapat diibaratkan seperti spons yang kembali mengembang setelah tekanan di atasnya dilepaskan.

Sementara itu, air hasil pencairan es berpindah ke lautan dan mengubah distribusi massa di berbagai wilayah Bumi. Perubahan pada bagian kutub dan khatulistiwa inilah yang memengaruhi bentuk geometris Bumi.

Penelitian Terbaru Ungkap Bumi Semakin Membulat

Temuan mengenai perubahan bentuk Bumi ini dipublikasikan oleh Christoforos Kotsakis, profesor geodesi dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani.

Penelitian berjudul Mapping Global GNSS Vertical Velocities to Solid Earth Figure Change tersebut diterbitkan dalam jurnal Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada 9 September 2026.

Dalam penelitian tersebut, Kotsakis mengembangkan metode untuk menganalisis data pergerakan vertikal permukaan Bumi menggunakan sistem satelit navigasi global atau Global Navigation Satellite System (GNSS).

Teknologi ini memungkinkan peneliti mengukur perubahan posisi permukaan Bumi dengan tingkat ketelitian tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah kutub mengalami pengangkatan yang semakin cepat, sementara wilayah sekitar khatulistiwa mengalami penurunan pada bagian padatnya.

Kedua perubahan tersebut menunjukkan bahwa bentuk geometris Bumi padat semakin tidak pepat dibandingkan sebelumnya.

Penelitian ini menganalisis data GNSS dari kerangka referensi ITRF2014 dan ITRF2020 selama periode 1997 hingga 2015.

Seberapa Cepat Bentuk Bumi Berubah?

Perubahan bentuk Bumi memang sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran planet. Namun, pengukuran satelit menunjukkan bahwa laju perubahan tersebut mengalami peningkatan.

Dalam penelitian Kotsakis, pengangkatan wilayah kutub meningkat dari sekitar 0,5 milimeter per tahun pada periode 1997–2000 menjadi hampir 1 milimeter per tahun pada periode 2011–2015.

Pada saat yang sama, wilayah khatulistiwa mengalami penurunan permukaan padat dengan besaran yang sebanding. Berikut gambaran hasil pengukuran tersebut:

1997–2000 Sekitar 0,5 mm per tahun
2011–2015 Hampir 1 mm per tahun

Penelitian tersebut juga memperkirakan percepatan perubahan bentuk Bumi padat sekitar 0,4 milimeter per tahun per dekade.

Artinya, perubahan bentuk Bumi semakin terlihat dalam data pengukuran geodesi, meskipun ukurannya masih sangat kecil dan tidak dapat diamati secara langsung oleh manusia.

Apa Hubungan Pencairan Es Kutub dengan Bentuk Bumi?

Pencairan es kutub memiliki hubungan erat dengan perubahan bentuk Bumi karena lapisan es menyimpan massa dalam jumlah sangat besar. Ketika es mencair, ada dua proses utama yang berlangsung.

Pertama, kerak Bumi di wilayah kutub terangkat. Lapisan es yang sangat tebal selama ribuan tahun memberikan tekanan besar terhadap daratan di bawahnya. Ketika es mencair, tekanan tersebut berkurang sehingga kerak Bumi perlahan kembali naik.

Proses ini tidak berlangsung seketika karena bagian dalam Bumi memiliki sifat yang dapat berubah bentuk secara perlahan dalam jangka waktu panjang.

Kedua, air hasil pencairan es berpindah ke lautan. Air dari lapisan es yang mencair masuk ke samudra dan menyebabkan distribusi massa air berubah.

Sebagian massa air tersebut berpindah menuju wilayah lintang yang lebih rendah, termasuk sekitar khatulistiwa. Penambahan beban air laut dapat menyebabkan dasar laut mengalami penurunan dan memengaruhi bentuk Bumi secara keseluruhan.

Kedua proses tersebut berlangsung bersamaan, tetapi memberikan dampak yang berbeda terhadap bentuk geometris Bumi padat dan distribusi massa planet.

Mengapa Bumi Bisa Semakin Bulat Sekaligus Semakin Pepat?

Hal menarik dari penelitian ini adalah adanya perbedaan hasil ketika ilmuwan mengukur bagian padat Bumi dan keseluruhan sistem Bumi yang juga mencakup lautan.

Jika hanya memperhitungkan bagian padat Bumi, pengangkatan wilayah kutub dan penurunan wilayah khatulistiwa membuat planet semakin mendekati bentuk bola sempurna.

Namun, jika distribusi massa air laut ikut diperhitungkan melalui pengukuran medan gravitasi, hasilnya dapat menunjukkan peningkatan kepipihan.

Hal tersebut terjadi karena air hasil pencairan es berpindah dari wilayah kutub menuju lintang yang lebih rendah.

Penambahan massa di sekitar khatulistiwa memengaruhi medan gravitasi dan membuat geoid semakin pepat.

Geoid sendiri merupakan model permukaan hipotetis yang menggambarkan bentuk medan gravitasi Bumi dan mendekati permukaan laut rata-rata.

Dengan demikian, istilah Bumi semakin membulat tidak berarti seluruh planet, termasuk lautan dan medan gravitasinya, mengalami perubahan ke arah yang sama.

Perbedaan ini justru memperlihatkan bahwa bentuk fisik Bumi dan distribusi massanya merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu menunjukkan perubahan identik.

Bagaimana Ilmuwan Mengukur Perubahan Bentuk Bumi?

Para ilmuwan menggunakan teknologi satelit dan pengukuran geodesi untuk mengetahui perubahan bentuk Bumi. Salah satu metode yang digunakan dalam penelitian Kotsakis adalah Global Navigation Satellite System (GNSS).

GNSS merupakan sistem navigasi satelit yang mencakup berbagai konstelasi satelit, termasuk GPS. Teknologi ini dapat membantu mengukur perubahan posisi permukaan Bumi secara presisi.

Selain GNSS, terdapat beberapa teknologi lain yang digunakan untuk memantau perubahan planet, antara lain:

  • GRACE dan GRACE-FO: Misi satelit yang digunakan untuk mengamati perubahan medan gravitasi Bumi akibat perpindahan massa air, es, dan komponen lainnya.
  • Satellite Laser Ranging (SLR): Teknologi pengukuran jarak antara satelit dan stasiun di Bumi menggunakan sinar laser.
  • GPS: Salah satu sistem navigasi satelit yang membantu menentukan posisi dan pergerakan permukaan Bumi.
  • Pengukuran medan gravitasi: Digunakan untuk mengetahui perubahan distribusi massa di berbagai wilayah planet.
  • Penggabungan berbagai metode tersebut membantu ilmuwan memahami perubahan fisik Bumi sekaligus membedakan pergerakan kerak dengan perpindahan massa air.

Apakah Bumi yang Semakin Membulat Berbahaya bagi Manusia?

Perubahan bentuk Bumi yang terukur dalam penelitian tersebut tidak akan membuat manusia merasakan planet berubah bentuk secara langsung.

Laju perubahan sekitar 1 milimeter per tahun sangat kecil jika dibandingkan dengan diameter Bumi yang mencapai sekitar 12.756 kilometer di wilayah khatulistiwa.

Namun, fenomena ini tetap penting untuk dipantau karena menunjukkan bagaimana sistem Bumi merespons perubahan iklim. Beberapa hal yang dapat dipelajari dari perubahan tersebut meliputi:

  • Dampak pencairan es kutub: Pengukuran perubahan bentuk Bumi membantu ilmuwan memahami dampak kehilangan massa es di Greenland dan Antarktika.
  • Perubahan permukaan laut: Perpindahan air dari lapisan es menuju lautan turut memengaruhi distribusi massa air dan kenaikan permukaan laut.
  • Perubahan gravitasi: Perpindahan massa air dan es dapat memengaruhi medan gravitasi Bumi.
  • Perubahan rotasi Bumi: Redistribusi massa dapat memengaruhi momen inersia dan kecepatan rotasi planet, meskipun pengaruhnya sangat kecil.

Karena itu, perubahan bentuk Bumi bukanlah ancaman langsung yang dapat dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, fenomena ini menjadi indikator penting untuk memahami dampak perubahan iklim dalam jangka panjang.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com