Suara.com - Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digagas oleh pemerintah dan dijalankan oleh banyak perusahaan di berbagai daerah, meninggalkan banyak jejak permasalahan.
Sejumlah masyarakat adat merasa wilayah adatnya diambil paksa dengan uang pengganti yang jauh dari kata pantas, hutan dan sumber daya alam yang rusak, hingga konflik antar warga yang tak terelakkan.
Salah satu konflik antar warga diceritakan oleh Vincen Kwipalo, seorang warga di Kampung Blandin Kakayu, Distrik Jagebob, Merauke, Papua Selatan, sekaligus ketua Marga Kwipalo dari Suku Yei.
Vincen menolak dengan tegas menjual lahannya ke perusahaan tebu di bawah Proyek Strategis Nasional. Akibatnya, dia kerap didatangi sejumlah warga dari marga lain sesama Suku Yei yang sudah bersepakat menjual lahannya.
Marga Kwipalo dianggap sebagai penghalang lancarnya urusan transaksi jual beli lahan antara perusahaan dan marga lain yang sudah menerima kesepakatan.
Sementara warga Merauke lainnya, Yacobus, mempunyai kisah yang hampir mirip dengan Vincen. Awalnya dia menolak kesepakatan dengan perusahaan untuk menjual wilayah adatnya. Namun karena tekanan serta ancaman berbau mistis, akhirnya Yakobus terpaksa menjual sebagian lahannya dengan harga Rp300.000 per hektare.
Berita Terkait
-
Kritik kepada Pemerintah Bukan Berarti Sedang Mencari Pengganti Presiden
-
Mengejar Koruptor Tak Perlu ke Antartika! Cukup Penegakan Hukum Konsisten
-
Dari Istana ke Paspor: Mengapa Politik Menentukan Kesempatan Kerja?
-
Ketika Negara Tidak Kompak, Rakyat Harus Apa?
-
Kopdes Bisa Dibangun Cepat, Mengapa Fasilitas Kesehatan Primer Tidak?
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
Terkini
-
Menteri Bahlil Cerita Lobi-lobi BBM di Afrika: Ada Untungnya Juga Jadi Bolu Ketan
-
Rejo Andoyo: Pahlawan Senyap Penjaga Listrik Mandiri di Desa Kedungrong Kulon Progo DIY
-
Drama Inggris vs Norwegia: Gol Jude Bellingham Diprotes, FIFA Buka Suara!
-
Misi Pertahankan Gelar! Argentina Tantang Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026
-
Fajar Nugra & Raffan Al Aryan Blak-blakan soal Teror di Lokasi Syuting Pemikat Jiwa
-
Habiburokhman Tegaskan Pengusutan Kasus Korupsi Jampidsus
-
Listrik Gratis dari Air: Rahasia Desa di Kulon Progo yang Tetap Menyala Saat PLN Padam
-
Usai Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Resmi Pakai Rompi Oranye
-
Febrie Adriansyah Mundur, Rudi Margono Resmi Jabat Plt Jampidsus
-
Terkuak Alasan Mundurnya Jampidsus Febrie Adriansyah: