/
Sabtu, 19 November 2022 | 11:58 WIB
Presiden Jokowi di proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung. Progeres Kereta Cepat Jakarta-Bandung khusunya yang berada di Bandung Barat, Jawa Barat tidak dirasakan langsung oleh masyarakat. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak/hp)

Warga benar-benar dibuat khawatir selama dilakukan ledakan untuk proyek terowongan KCIC yang terjadi empat hari takni tanggal 24-28 September 2019. 

Heru Agam, Ketua RT 04/13 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat Menunjukan Salah Satu Sudut Rumahnya yang Menganga Sejak Tahun 2019 Usai Adanya Blasting Tunnel 11 Kereta Cep (sumber: Ferry/Suara,com)

Jika ditotal, kata dia ada delapan kali ledakan yang mengakibatkan kerusakan terhadap 120 rumah dihuni 500 jiwa di Kompleks Tipar Silih Asih.

"Yang jelas waktu itu (peledakan gunung), air dalam aquarium bergoyak hebat dan kaca jendela bergetar," katanta. 

"Selama empat hari itu, tiap harinya ada 2 ledakan pada siang dan sore," terang Heru kepada Suara.com pada Jumat (18/11/2022).

Dampak dari ledakan langsung dirasakan luar biasa. Heru melihat sejumlah sudut dinding dan lantai rumahnya mengalami retakan. 

Aktivitas blasting proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) itu benar-benar memiliki daya hancur luar biasa bagi warga setempat.

Heru menerangkan, proses peledakan membuat terowongan kereta cepat itu tidak pernah diberitahukan kepada warga. 

Warga di Kompleks Tipar Silih Asih tahu-tahu terkejut dan kaget lantaran tiba-tiba saja terjadi ledakan yang berdampak terhadap kerusakan bangunan.

Sebagai respon atas proses ledakan, warga langsung berkumpul dan menggeruduk lokasi proyek.

Baca Juga: Momen Goyang Ranjang Uus dan Kartika, Udah Mau Keluar Malah Suruh Nahan

"Sejak hari pertama hingga hari ke empat kami warga selalu datang berbondong-bondong ke lokasi ledakan di Gunung Bihong," kata dia. 

"Warga berharap pelaksana proyek menghentikan aktivitas tersebut. Tapi ledakan terus terjadi hingga tahun 2021," terang Heru.

Heru bahkan meneghaskan perwakilan warga tidak pernah dianggap meski sudah mengadukan masalah itu ke pihak KCIC, Pemprov Jabar, KLHK hingga Komnasham. 

"Kami sudah melakukan berbagai upaya. Mendatangi Pemprov Jabar, KCIC, hingga KLHK tapi tak ada satupun yang mau tanggung jawab," jelas Heru.

Dampak besar lainnya adalah kata Heru, sejak aktivitas blasting untuk menembus Gunung Bohong di atas pemukiman, saat itu warga merasa tidak tenang lagi. 

Banuak rumah warga mengalami kerusakan. Dinding dan lantai terbelah akibat dampak ledakan.

Load More