/
Jum'at, 03 Maret 2023 | 11:27 WIB
Ilustrasi, materi khutbah Jumat tentang ridha saat ketentuan itu tiba. (suaramuhammadiyah.id)

SuaraBandungBarat.id - Simak materi khutbah Jumat berikut ini tentang ridha saat ketentuan itu tiba.

Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha untuk mendapatkan segala kebaikan, Allah SWT yang menentukan.

Maka dari itu, jangan sampai Kita melupakan kewajiban yang tidak lain alasan diciptakan manusia yaitu untuk beribadah.

Tidak ada batas waktu, usia, atau tempat dalam beribadah, jangan sampai akhirat dilupakan karena sibuk mengejar dunia.

Hal tersebut merupakan salah satu bentuk Kita dalam menerima setiap bentuk ketentuan yang ditetapkan Allah SWT.

Sebagaimana dikutip dari suaramuhammadiyah.id, berikut ini materi khutbah Jumat tentang ridha saat ketentuan itu tiba.

Khutbah I

. .

Sidang Jum’at yang dirahmati Allah

Baca Juga: Habis Bercinta Bukannya Puas Malah Galau Parah? Waspadai Post-Sex Blues

Pentingnya menjaga stabilitas iman dalam hati disaat Allah menentukan hal yang pasti kepada hambaNya.  Seraya mengingat akan keperkasaan dan kebesaran Allah ‘Azza wajalla.  Manusia yang ada dalam genggamanNya memaksa manusia untuk mau menerima ujian dan ketentuan yang pasti, seperti musibah dan ujian lainnya. Inilah sikap ridha.

Dalam hal ini sangat relevan dengan sunnah Rasulullah dimana setiap usai shalatnya beliau mencontohkan dengan dzikir,

“Ya Allah, tidak ada yang mampu mencegah hal yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi hal yang Engkau cegah”.

Demikian juga, ketika Allah menghendaki diri kita jatuh mendapatkan ketentuan pasti , baik secara fisik maupun psikis.

Terasa sangat berat beban yang kita pikul lalu munculnya rasa pesimis, galau dan rasa ketakutan atas keadaan yang menimpanya saat ini.

Seperti saat ini Allah menampakkan keperkasaanNya dengan menurunkan musibah, dengan mengguncang belahan bumi dekat dengan kita yaitu gempa di Cianjur Jawa Barat.

Itu semuanya adalah kebaikan yang diberikan kepada orang mukmin.

Karena ia meyakini dengan sepenuhnya bahwa keadaan bagaimanapun yang ia rasakan adalah bagian dari skenario Allah yang Maha berkehendak.

Maka kata kunci untuk menghadapi semuanya yang datangnya dari Allah Swt, kalau berupa nikmat yang identiknya adalah kebahagiaan, ia bersyukur dengan memaksimalkan nikmat dan rahmatNya ia pergunakan untuk muqarabah, mendekatkan dirinya kepada Allah sedekat-dekatnya sebagai wujud syukur atau sebaliknya ia menata hati untuk menjaga amarah dan emosi, tetapi bersabar atas musibah yang ia deritanya.

Sebagaimana dalam sebuah hadits Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Itulah ketakajuban yang melekat pada diri seorang mukmin. Seluruh kebaikan yang dominan ia merasakannya sudah seharusnya ia mensyukurinya.

Sebaliknya kekurangan, sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hati, rasa gundah, khawatir dan takut yang hanya sesaat, moment tertentu saja dibandingkan dengan perasaan yang dominan perasaan kebahagiaan yang dialaminya.

Itu sebagai perasaan berimbang proporsional yang diturunkan dari Allah dan sengaja menjadi semangat dan spirit  dalam menjalani kehidupan.

Allah hendak menilai sejauh mana nilai kesyukuran dan kesabaran yang diupayakan oleh hambaNya.

Karena sangat jelas, kedua macam perasaan yang selalu mewarnai kehidupan seseorang itu selalu bertolak belakang dan  pasti terus ada lalu  menyelinap bahkan ndompleng dalam hati kita sampai kematiannya tiba.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

– – : : : : : : :

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepada penghuni surga, “Wahai penghuni surga.” Mereka berkata, “Kami memenuhi panggilan-Mu, kami mentaati-Mu.” Allah berfirman, “Apakah kalian ridha (puas)?” Mereka menjawab, “Kenapa kami tidak ridha (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari ciptaan-Mu.” Maka Allah berfirman, “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?” Mereka berkata, “Adakah yang lebih baik dari ini?” Allah berfirman, “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhaan-Ku, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya.” (HR. Bukhari, no. 6549, 7518 dan Muslim, no. 2829)

Maka dari itu, kita harus terus menata untuk belajar ridha (puas) atas keputusan yang dijatuhkan Allah kepada hambaNya termasuk diri kita.

Sebagaimana ikrar kita sebagaimana dalam dzikir kita setiap saat.

Tidak ada upaya dalam kesungguhan kita  selain saling wasiat dalam kebenaran dan wasiat dalam kesabaran (watawa shaubil haq wa tawa shobil shobr).

Mari saling mendoakan agar dimampukan dalam menata dan memanaj persaaan dalam hati kita, menjaga iman kita.

Agar iman kita terpatri dalam diri bahkan sampai sakaratul maut kita tetap dalam menguatnya keimanan kita.

Ia kita dimasukkan dalam golongan komunitas yang diridhaiNya saat ajal kita tiba dan berpredikat husnul khatimah. Amin.

. . .

Khutbah II

. .

. .

. .

Demikian materi khutbah Jumat tentang ridha saat ketentuan itu tiba.(*)

Load More