SUARA BANDUNG BARAT- Lahan pertanian di empat kecamatan di Kabupaten Bandung Barat terdampak kekeringan akibat kemarau panjang yang sampai saat ini terjadi.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) KBB menyebut setidaknya ada 179 hektar lahan di wilayahnya terdampak kekeringan.
Kepala DPKP KBB, Lukmanul Hakim menjelaskan, kekeringan lahan tersebut merupakan dampak kemarau yang akhir-akhir ini terjadi.
"Lahan pertanian padi yang mengalami kekeringan tersebut berasal dari 4 kecamatan, 13 desa yakni Kecamatan Sindangkerta, Cililin, Cihampelas dan Batujajar,” katanya, Jumat (11/8/2023).
Ia menambahkan, berdasarkan data tersebut lahan kekeringan terdiri dari Sindangkerta sebanyak 20 ha, Cililin 33 ha, Cihampelas 13 ha, dan Batujajar 113 ha.
“Paling banyak wilayah batujajar yang terdampak kekeringan pertanian padinya,” tambahnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, musim kemarau akibat fenomena El Nino tersebut diakuinya memang berdampak besar terhadap sektor pertanian di Kabupaten Bandung Barat.
"Tentu itu mengganggu pola cuaca yang berdampak pada produksi pertanian dan kesejahteraan petani. Dengan begitu, pemantauan dan pemahaman yang baik tentang El Nino dianggap sangat penting," katanya.
Ia menyebut, pihaknya saat ini berupaya maksimal mengurangi dampak kekeringan ini terutama bagi para petani yang ada di Kabupaten Bandung Barat.
Baca Juga: Heboh Air Sikumbang Kampar Mengandung Bakteri, Harus Direbus sebelum Diminum
"Kita tengah melaksanakan sejumlah langkah operasional jangka panjang dan pendek. Langkah pertama, DPKP akan menggunakan dana insentif untuk pengaman pangan di wilayah terdampak kekeringan," katanya.
"Kemudian langkah yang kedua, kita tengah mengoptimalkan dukungan sarana prasarana berupa pompa air yang telah tersedia antara lain perpompaan besar," imbuhnya.
Ia menegaskan, pihaknya juga tengah mendorong perpompaan melalui sumur yang dibangun secara swadaya oleh petani.
“Selain kedua itu, kami pun meminta para petani untuk melakukan budi daya tanaman sesuai iklim dan kondisi setempat. Beberapa di antaranya dengan melaksanakan pemilihan varietas benih tahan OPT dan toleran kekeringan,” pungkasnya. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Berapa Gaji Sus Rini? Gaya Pengasuh Rayyanza Pakai Tas Mewah Jadi Perbincangan
-
Siapa John Lennon 07? Sosok di Balik Kode Rahasia Suap Tambang Ketua Ombudsman
-
Di Balik Kenaikan Tarif Visa Jepang: Ada Saringan Kelas yang Disembunyikan?
-
Eks Bos ASTRA Infra Port Easkal Wisnu Prabakti Diperiksa KPK Terkait Korupsi Investasi RI-Jepang
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
5 Kulkas Tanpa Bunga Es Harga Rp3 Jutaan, Hemat Listrik dan Anti Bau
-
Mees Hilgers Mangkir dari Latihan FC Twente, Masa Depannya Makin Runyam
-
Gaji Rp8 Juta Kena Pajak Berapa? Begini Panduan Menghitungnya
-
Sindrom Ring of Fire: Mengapa Gempa Jepang Bikin Kita Refleks Panik?
-
Gebrakan PBSI: Apriyani Rahayu Resmi Pindah ke Ganda Campuran, Siap Duet Bareng Dejan Ferdinansyah