/
Senin, 05 Desember 2022 | 09:04 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi). [Istimewa]

Relawan Jokowi yang masih eksis mengundang tanya sejumlah pihak. Padahal tugas relawan tersebut seharusnya sudah selesai. Ketika pemilu berakhir.

Mengutip Terkini.id -- jaringan Suara.com, Pengamat politik Universitas Padjajaran Kunto Adi Wibowo dalam acara diskusi ‘Menelisik Zona Nyaman Jokowi’, Kunto Adi Wibowo memberikan pendapat terkait eksistensi relawan di Indonesia.

“Problemnya adalah biasanya relawan-relawan ini bubar setelah pemilu. Karena terpilih atau kalah, ya selesai. Di Indonesia problemnya ini, (keberadaan) relawan (adalah) baru. Tapi kemudian relawan ini tidak membubarkan diri. Harusnya relawan ini ya udah selesai,” ujar Kunto Adi Wibowo.

Menurut Kunto, saat ini kinerja Jokowi jauh lebih mengutamakan pembangunan IKN dibanding kepentingan masyarakat Indonesia.

“IKN itu survei Kedai Kopi sebelum UU (IKN) terbit, 60 persen lebih itu menolak IKN. Interest public bilang kita gak butuh IKN, tapi Jokowi justru mendorong IKN,” jelasnya.

“Menurut saya seakan-akan Pak Jokowi ini ingin dinilai negarawan, punya legacy. Tapi akhirnya dia memilih legacy-legacy yang sifatnya bangunan monumen besar, tapi tidak melayani interest public yang besar yang keseluruhan atau yang umum,” tambahnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kedai Kopi mencurigai telah terjadi simbiosis mutualisme antara Jokowi dan relawannya.

“Makanya kami bilang zona nyaman, jangan-jangan ada simbiosis mutualisme di sini. Pak Jokowi merasa dinyamankan oleh relawan karena relawan tetap ada, yang seharusnya gak ada,” katanya.

Oleh karena itu, Kunto Adi Wibowo berharap Jokowi berani untuk keluar dari zona nyamannya dengan memutuskan untuk berpisah dari relawan dan fokus bekerja sebagai kepala negara.

Baca Juga: LPEI Hormati Proses Hukum Kasus Korupsi Internal Perseroan Tahun 2014-2018

Sebagai informasi, aksi relawan Jokowi yang menggelar acara Gerakan Nusantara Bersatu mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat Indonesia.

Salah satu yang aktif menyuarakan keberatannya atas kehadiran Jokowi di acara tersebut adalah politikus PDIP Masinton Pasaribu.

Menurut Masinton Pasaribu, acara yang didirikan oleh relawan Jokowi ini tidak pantas dilakukan di tengah keadaan Indonesia yang masih berkutat dengan pandemi Covid-19 dan gempa Cianjur.

Kemudian, Masinton Pasaribu turut menyinggung mengenai sumber pembiayaan untuk menggelar acara Gerakan Nusantara Bersatu di Stadion GBK.

“Apa sih urgensinya dengan acara hura-hura seperti itu? Acara Senayan kemarin itu apa gitu loh. Pesan apa yang mau disampaikan ke publik selain hura-hura?” ucap Masinton Pasaribu.

“Ada berapa puluh miliar duit ke sana, bahkan mungkin ratusan miliar hanya untuk acara hura-hura di tengah situasi yang sulit,” lanjutnya.

Load More