Relawan Jokowi yang masih eksis mengundang tanya sejumlah pihak. Padahal tugas relawan tersebut seharusnya sudah selesai. Ketika pemilu berakhir.
Mengutip Terkini.id -- jaringan Suara.com, Pengamat politik Universitas Padjajaran Kunto Adi Wibowo dalam acara diskusi ‘Menelisik Zona Nyaman Jokowi’, Kunto Adi Wibowo memberikan pendapat terkait eksistensi relawan di Indonesia.
“Problemnya adalah biasanya relawan-relawan ini bubar setelah pemilu. Karena terpilih atau kalah, ya selesai. Di Indonesia problemnya ini, (keberadaan) relawan (adalah) baru. Tapi kemudian relawan ini tidak membubarkan diri. Harusnya relawan ini ya udah selesai,” ujar Kunto Adi Wibowo.
Menurut Kunto, saat ini kinerja Jokowi jauh lebih mengutamakan pembangunan IKN dibanding kepentingan masyarakat Indonesia.
“IKN itu survei Kedai Kopi sebelum UU (IKN) terbit, 60 persen lebih itu menolak IKN. Interest public bilang kita gak butuh IKN, tapi Jokowi justru mendorong IKN,” jelasnya.
“Menurut saya seakan-akan Pak Jokowi ini ingin dinilai negarawan, punya legacy. Tapi akhirnya dia memilih legacy-legacy yang sifatnya bangunan monumen besar, tapi tidak melayani interest public yang besar yang keseluruhan atau yang umum,” tambahnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kedai Kopi mencurigai telah terjadi simbiosis mutualisme antara Jokowi dan relawannya.
“Makanya kami bilang zona nyaman, jangan-jangan ada simbiosis mutualisme di sini. Pak Jokowi merasa dinyamankan oleh relawan karena relawan tetap ada, yang seharusnya gak ada,” katanya.
Oleh karena itu, Kunto Adi Wibowo berharap Jokowi berani untuk keluar dari zona nyamannya dengan memutuskan untuk berpisah dari relawan dan fokus bekerja sebagai kepala negara.
Baca Juga: LPEI Hormati Proses Hukum Kasus Korupsi Internal Perseroan Tahun 2014-2018
Sebagai informasi, aksi relawan Jokowi yang menggelar acara Gerakan Nusantara Bersatu mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat Indonesia.
Salah satu yang aktif menyuarakan keberatannya atas kehadiran Jokowi di acara tersebut adalah politikus PDIP Masinton Pasaribu.
Menurut Masinton Pasaribu, acara yang didirikan oleh relawan Jokowi ini tidak pantas dilakukan di tengah keadaan Indonesia yang masih berkutat dengan pandemi Covid-19 dan gempa Cianjur.
Kemudian, Masinton Pasaribu turut menyinggung mengenai sumber pembiayaan untuk menggelar acara Gerakan Nusantara Bersatu di Stadion GBK.
“Apa sih urgensinya dengan acara hura-hura seperti itu? Acara Senayan kemarin itu apa gitu loh. Pesan apa yang mau disampaikan ke publik selain hura-hura?” ucap Masinton Pasaribu.
“Ada berapa puluh miliar duit ke sana, bahkan mungkin ratusan miliar hanya untuk acara hura-hura di tengah situasi yang sulit,” lanjutnya.
“Itu biasa sangat besar, hitung saja kalau mendatangkan 100.000 kali bus, butuh berapa ribu bus ke sana. Kalau 100.000 kali 1 bus itu 50, butuh 2000 bus dan itu bus rata-rata semua dari luar Jawa,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
5 Slip On Lokal Terbaik yang Anti Ribet dan Nyaman untuk Jalan Kaki Menurut Reviewer
-
Disdik Sulsel Dukung Kantin Sekolah Kelola MBG
-
Bukan Sekadar Nama! Ini 8 Julukan Unik Timnas Peserta Piala Dunia 2026
-
Kapal Mulai Keluar Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melemah
-
Jakarta Luncurkan Website HUT ke-500, Warga Bisa Daftar Jadi Mitra Perayaan
-
Generasi Muda Makin Ramai Masuk Bisnis Waralaba, Mengapa Sektor F&B hingga Ritel Jadi Favorit?
-
Dugaan Aliran Uang ke BEM UBK Bentuk Represi Halus terhadap Mahasiswa
-
Lolos dari Lubang Jarum, Ekuador Tebas Jerman dan Melaju ke Babak 32 Besar
-
LPS Pastikan Keamanan Tabungan, Ratusan Juta Rekening Dijamin hingga Rp2 Miliar
-
Zulhas Respons Keluhan Mitra MBG, Janji Libatkan dalam Perumusan Kebijakan