/
Senin, 02 Januari 2023 | 19:45 WIB
Ilustrasi pemilu. [Istimewa]

Kondisi politik di Indonesia diprediksi mencemaskan. Khususnya di 2023 ini, yang katanya sudah memasuki tahun pemilu.

Disebutkan juga, bakal ada saling serang antarkubu di tahun ini. Selain politik yang memanas, kondisi ekonomi juga belum dianggap nyaman. Alasannya karena ancaman resesi. 

Siti Zuhro mengatakan, di 2023 ini memang tahun politik. Tahun untuk menyongsong pemilu serentak, mulai dari pileg, pilpres sampai pilkada.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menyebutkan, tahun politik ini sarat dengan kontestasi. Apalagi, di satu tahun ini bakal dilaksanakan 3 jenis pemilu yang beda.

"Tentunya akan penuh dengan persaingan," katanya, dikutip Senin (02/01/2023).

Dia memberikan peringatan soal pekerjaam rumah (PR). Yaitu, menghadirkan kompetisi sehat tak menghalalkan segala cara. Dia menyebut, pemilu berlandaskan itu memadai untuk tak anarki.

Dia memprediksi, konflik dan kerusuhan dalam pemilu terjadi karena banyak perilaku distortif dan melanggar hukum. Maka, semua stakeholders perlu bersinergi dalam pemilu nanti.

Lebih lanjut katanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki tanggung jawab besar untuk Pemilu 2024 bisa sukses. Dia berharap, Jokowi bisa menjaga stabilitas politik di Indonesia.

"Apalagi Jokowi tidak lagi memiliki beban politik, karena telah menjadi presiden selama dua periode, sehingga tak bisa lagi mencalonkan diri," jelasnya.

Baca Juga: Pengurus RT Ungkap Penyebab Rumah Mewah Eny Tak Terurus Hingga Ditumbuhi Semak Belukar

Dia mengingatkan, di pemilu nanti bakal berat. Lantaran, ada beberapa pemilu terjadi.

Dia menegaskan, persaingan pemilu bakal terjadi di tahun ini. Peserta pemilu sebutnya sudah ditetapkan.

“Parpol akan mulai membentuk poros-poros politik,” terangnya.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Suara.com dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.

Load More