Elektabilitas PDI Perjuangan (PDIP) tetap tangguh meski sering didera isu miring. Mengutip survei partai politik jelang Pemilu 2024 oleh Litbang Kompas, PDIP berada di posisi puncak dengan angka 22,9 persen.
Partai yang dipimpin Megawati itu meninggalkan Gerindra di urutan kedua dengan angka 14,3 persen. Sementara, Golkar berada di urutan ketiga dengan angka 9 persen.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menilai bahwa hasil survei Litbang Kompas terbaru bakal dijadikan pelecut bagi seluruh kader Partai berlambang Banteng moncong putih untuk terus bekerja keras dan tidak cepat berpuas diri.
"Seluruh anggota dan kader partai tentunya semakin bersemangat, dan ini merupakan momentum untuk terus bekerja keras memenangkan Pemilu 2024. Tidak boleh berpuas diri dan harus terus bekerja keras," kata Hasto dikutip dari Presisi.co--Jaringan Suara.com, Kamis (23/02/2023).
Menurut Hasto, sepak terjang PDIP yang tergambar dalam hasil survei Litbang Kompas itu merupakan bentuk apresiasi masyarakat atas kinerja PDIP yang tak hanya fokus pada urusan politik belaka. Tapi juga, fokus pada program pro lingkungan dan kemanusiaan.
"Selain kerja kolektif kader, PDI Perjuangan juga memiliki program yang membumi seperti menanam 10 tanaman pendamping beras, merawat pertiwi dengan gerak penghijauan, membersihkan sungai, menjaga mata air, dan merawat lingkungan hidup yang diapresiasi pemilih pemula dan pemilih milenial," tuturnya.
“Termasuk kerja kemanusiaan melalui Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) dalam membantu rakyat,” tambahnya.
Ia melanjutkan, sebagaimana kajian internal dan program yang telah dicanangkan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputeri terkait 'Desa Kuat Indonesia Maju dan Berdaulat' mampu menggerakan kader turun ke bawah.
"Juga konsistensi di dalam melakukan kaderisasi di Sekolah Partai banyak diapresiasi publik,” lugasnya.
Untuk diketahui, survei Litbang Kompas terbaru ini dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 25 Januari-4 Februari 2023. Responden sebanyak 1.202 dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan bertingkat di 38 provinsi.
Dalam survei ini margin of error kurang lebih 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Berita Terkait
-
Gaduh Ucapan Megawati Singgung Ibu-ibu Pengajian: Dilaporkan ke Komnas Perempuan, PDIP Pasang Badan
-
Klaim Tak Ada Motif Elektoral Dukung Proporsional Tertutup, PDIP: Prinsipnya Mau Tertutup Atau Terbuka Kami Siap
-
Megawati Wanti-wanti Kader Perempuan: Masuk PDIP Bukan Hanya Mikir Jadi Legislatif Nikmati Gaji!
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
SD Kristen Manahan Solo Pertahankan Juara MilkLife Soccer Challenge
-
Apa Doa 1 Ramadan Sesuai Ajaran Rasulullah? Ini Bacaan Arab, Latin, dan Artinya
-
Sianida di Balik Topeng Kesopanan Bangsawan Inggris dalam An English Murder
-
Nonton Hemat di CGV Pakai ShopeePay, Diskon Rp20 Ribu Sampai Akhir Bulan
-
Bigmo Anak Siapa? Ferry Irwandi Panen Kritik Usai Undang Anak Koruptor ke Podcast
-
Bamsoet Kenalkan Buku Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung, Ungkap Sikap Ekonomi-Politik
-
Sirine Kota Palembang Bunyi Lagi, Apa Maknanya dan Apa Fungsinya Sekarang?
-
Jeng Yah dan Perlawanan Sunyi Merebut Ruang Sejarah dalam 'Gadis Kretek'
-
Gerindra Imbau Para Pengusaha dan Taipan Bertaubat: Umur Gak Ada yang Tahu
-
Melindungi Anak, Melindungi Masa Depan: Mengapa Imunisasi Tak Bisa Ditawar?