/
Selasa, 09 Mei 2023 | 11:25 WIB
Raja Inal Siregar

Mantan Gubernur Sumatera Utara dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sumatera Utara Raja Inal Siregar, meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat Mandala di Medan, Senin 5 September 2005. 

Mantan Gubernur Sumatera Utara (1988-1998), pria kelahiran Medan, 5 Maret 1938. Meninggal bersama dengan Gubernur Sumatera Utara penggantinya Tengku Rizal Nurdin, dan Anggota DPD asal Sumatera Utara lainnya Abdul Halim Harahap.

Kecelakaan naas itu juga menewaskan lebih 100 orang penumpang, awak pesawat, dan warga di sekitar lokasi kejadian.

Pesawat jenis Boeing 737-200 buatan tahun 1981 bernomor penerbangan RI-091 yang membawa 94 penumpang dan lima awak pesawat tersebut jatuh dan meledak di Jalan Jamin Ginting, kawasan Padang Bulan, Kota Medan, Sumatera Utara.

Sesaat setelah lepas landas dari Bandar Udara Polonia pukul 10.06. Pesawat itu rencananya akan bertolak ke Jakarta via Padang.

Letnan Jenderal TNI (HOR) (Purnawirawan) Raja Inal Siregar adalah Gubernur Sumatera Utara ke-13. Mantan Panglima Komando Daerah Militer Sliwangi 1986-1988.

Raja Inal Siregar jadi pemimpin dari tahun 1988 hingga 1998. Setelah tidak menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara, Raja kemudian menjadi Anggota DPD dari Sumatera Utara.

Putra pasangan Kario Siregar dan Rodiah Harahap ini lulus Akademi Militer pada tahun 1961.

Ayahnya berasal dari daerah Sipirok. Ratusan kilometer dari Kota Medan.

Baca Juga: Rekam Jejak Yamitema Laoly, Anak Menkumham Dilaporkan ke KPK Dugaan Monopoli Bisnis

Muliakan Orang Tua

Oleh Tengku Zulkarnain, Raja Inal Siregar disebut sebagai gubernur paling tampan saat itu. Juga memiliki perilaku yang perlu diteladani.

Suatu hari, Senin, Raja Inal sedang memimpin upacara bendera. Bus dari kampung ayahnya berhenti depan Kantor Gubernur Sumatera Utara.

Teman ayahnya tersebut turun dengan membawa ayam, talas, singkong, dan sejumlah oleh-oleh khas daerah. Langsung meneriaki Gubernur Raja Inal yang saat itu sedang memimpin upacara bendera.

"Inal, Inal, Inal," kata Tengku Zulkarnain meniru ucapan sahabat orang tua Raja Inal Siregar.

Gubernur Sumatera Utara yang sedang memimpin upacara pun langsung menghentikan upacara. Menyuruh seluruh peserta upacara istirahat di tempat.

Gubernur Raja Inal turun dari panggung dan menyambut orang tua dari kampung tersebut. Salaman dan berbicara dengan sahabat ayahnya tersebut.

"Subhanallah, kita belajar memang tidak hanya dari alim saja," kata Tengku Zulkarnain.

Gubernur Raja pun meminta sopirnya mengantar sahabat ayahnya ke rumah dengan mobil sedan untuk istirahat. Bertemu anak dan istrinya. Mandi dan tidur.

"Nanti siang baru saya pulang kita makan bersama," kata Tengku Zulkarnain mengutip perkataan Raja Inal Siregar kala itu.

Setelah menyapa sahabat ayahnya, Gubernur Raja Inal kembali ke atas panggung upacara.

"Itu sahabat bapak saya dari kampung datang,"

"Tidak jatuh gengsi toh," kata Tengku Zulkarnain.

Bagi anak yang ingin berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya memuliakan sahabat orang tua yang masih hidup.

Peninggalan

Marsipature Hutana Be. Istilah yang dipopulerkan almarhum Raja Inal Siregar. 
Diambil dari bahasa batak yang gunanya adalah "Membangun/membenahi kampung halaman sendiri". 

Pemikiran ini ditujukan untuk orang-orang yang telah sukses di perantauan.

Yayasan Pendidikan Marsipature Hutana Be (YPmhb), merupakan suatu yayasan yang mengasuh SMAN 2 Plus YPmhb Sipirok. 

Sekolah susunan pada tahun 1995 ini terletak di Desa Padang Bujur, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan - Sumatera Utara. 

Didirikan oleh Almarhum Raja Inal Siregar Utara bersama dengan warga Tapanuli Selatan. 

Saat ini merupakan satu-satunya SMA yang berstatus Plus di Tapanuli selatan. 
Pada tahun 2010 telah meluluskan sebanyak tiga belas angkatan yang tersebar di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Anak-anak didik selalu akrab menyapanya dengan sebutan "Pak Raja".

Load More