Kalimantan Timur memiliki banyak desa wisata, salah satunya adalah Desa Pela yang berlokasi Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Desa ini menjadi salah satu pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Desa ini berada di tepi anak Sungai Mahakam dan ujung mulut Danau Semayang sehingga mayoritas masyarakat Desa Wisata Pela berprofesi sebagai nelayan air tawar dengan etnis Kutai.
Masyarakat Desa Pela terbagi atas 6 RT dengan jumlah 172 kepala keluarga serta 577 jiwa. Dari letak geografis, desa sebelah utara berbatasan dengan desa Muhuran, sebelah selatan desa Sangkuliman, sebelah barat dengan desa Semayang, dan sebelah timur dengan desa Liang Ulu.
Uniknya, desa wisata ini ditetapkan sebagai desa dengan basis wisata Sungai dan danau dengan ekosistem Mamalia Langka pesut Mahakam Atau lumba-lumba air tawar.
Wisata danau menjadi ciri khas desa ini karena letak geografis desa yang berada di dekat danau semayang.
Desa wisata pela juga menjadi daerah Kawasan konservasi perairan dan kawasan ekonomi esensial untuk keberlangsungan dan kelestarian Pesut Mahakam.
Desa Pela menawarkan beberapa destinasi wisata seperti susur sungai dari dermaga di Kota Bangun menuju Desa Pela yang dapat ditempuh sekitar 30 menit menggunakan longboat (perahu panjang).
Kemudian, wisata kampung pesisir dengan menginap dan melihat langsung aktivitas para nelayan desa.
Baca Juga: Menteri dan Wakil Menteri Jokowi yang Maju Nyaleg di Pemilu 2024, Siapa Saja?
Desa ini juga menyediakan homestay yang disiapkan langsung dari rumah warga desa setempat.
Wajah Desa Pela kini sudah ditata menjadi sangat ciamik sebagai objek wisata dengan menampilkan beberapa titik spot foto yang kini disebut 'instagramable'.
Di banyak sisi juga disediakan papan informasi tentang Desa Pela dan peta wisata sekitar.
Selain itu, desa wisata ini juga menawarkan wisata edukasi melalui museum Desa Pela atau museum nelayan.
Di dalam museum tersebut, berisi alat tangkap nelayan yang ramah lingkungan karena masyarakat sudah berkomitmen untuk menjaga lingkungan dengan melakukan aktivitas nelayan secara tradisonal tanpa illegal fishing.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Dirjen Pajak Akui MBG dan Kopdes Merah Putih Berpotensi Hilangkan Penerimaan Negara
-
IHSG Dibayangi Sentimen Global dan MSCI, Cek Rekomendasi Saham Senin Ini!
-
Tanpa APBD! Pramono Anung Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas, Jamin Patung Sudirman Tak Digeser
-
4 Headset Gaming Murah dengan Active Noise Cancellation, Mulai 300 Ribuan
-
Menghadapi Krisis Iklim dari Desa: Sinergi KAGAMA dan UGM Lewat KKN-PPM 2026
-
Buntut Kasus Sulis, Dishub DKI Janji Siapkan Parkir Khusus Ojol di Mal
-
Pemadaman Listrik PLN Sampai Kapan? Ini Penjelasannya
-
Purbaya Kini Punya Alat Canggih buat Awasi Anggaran TKD Pemda
-
Situasi Serba Salah: Antara Opang, Gojek, dan Hak Penumpang
-
Penyintas Bencana di Pidie Jaya Ubah Dana Stimulan Jadi Modal Usaha