Suara.com - Vice Presiden Corporate Communication PT Pertamina, Wianda Pusponegoro menjelaskan, mahalnya harga avtur di Indonesia dibandingkan dengan harga avtur internasional lantaran pajak yang dikenakan oleh PT Angkasa Pura II terlalu tinggi.
"Jadi kita ini dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sekitar 10 persen. Selain PPN juga ada biaya seperti consesion fee dan beberapa sewa peralatan di bandara-bandara yang bersangkutan makanya itu harga kita menjadi tidak kompetitif," kata Wianda saat dihubungi suara.com, Selasa (15/9/2015).
Selain itu, faktor lain yang menjadi penyebab mahalnya avtur adalah kondisi geografis Indonesia yang membuat pendistribusian avtur ke lokasi bandara-bandara yang lokasinya sulit dijangkau.
Biaya pendistribusian ini dimasukkan ke dalam biaya operasional Pertamina yang kemudian mempengaruhui harga jual avtur.
"Kami kan nyalurin ke seluruh Indonesia kan ya mbak, sampai Tual Maluku, Mamuju, Sorong, Berau, Papua, Manokwari dan sekitarnya. Kan biaya pendistribusiannya mahal karena transportasinya kan terbatas. Makanya ini jadi mempengaruhi harga avtur," katanya.
Dia mengaku hingga saat ini akan terus mencari solusi dan berdiskusi dengan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan pihak Angkasa Pura untuk menyelesaikan permasalahaan ini.
"Kita tetap diskusi. Mencari jalan tengah dan solusi agar harga avtur ini bisa bersaing. Kita masih membicarakan dengan pihak Angkasa Pura," tegasnya.
Terpopuler
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia
-
Pertamina Integrasikan Tiga Anak Usaha ke Sub Holding Downstream
-
PANI Tutup 2025 dengan Pra Penjualan Rp4,3 Triliun, Capai Target 100%
-
Moodys Goyang Outlook 7 Raksasa Korporasi Indonesia: BUMN Mendominasi
-
IHSG Loyo ke Level 7.935 Pekan Ini, Investor Asing Masih 'Buang Barang' Rp11 Triliun
-
MBG Diperlukan Di Tengah Tantangan Ekonomi?
-
POP Merek: Terobosan DJKI Percepat Layanan Publik Dalam 10 Menit
-
Pupuk Indonesia Gandeng 1.620 Inovator Demi Perkuat Kemandirian Pangan Nasional
-
Industri Sawit RI Sumbang Output Rp1.119 Triliun dan Serap 16,5 Juta Pekerja
-
Tukar Uang di BCA Minimal Berapa? Ini Tata Cara Jelang Ramadan 2026