- Sawit sumbang output Rp1.119 T & serap 16,5 juta pekerja di 25 provinsi.
- Produktivitas terhambat isu modal, legalitas lahan, & skala usaha kecil.
- Perlunya sinkronisasi aturan domestik guna penuhi standar global.
Suara.com - Industri kelapa sawit kembali ditegaskan sebagai aset strategis yang tak tergantikan bagi Indonesia. Selain menjadi penopang utama neraca perdagangan, sektor ini memiliki peran krusial dalam ketahanan sosial dan pembangunan daerah di lebih dari 300 kabupaten di Indonesia.
Dalam diskusi bertajuk “Reshaping Indonesia’s Palm Oil Foundations in an Era of Climate Risk and Governance Standards” yang digelar oleh Prasasti Center for Policy Studies, terungkap bahwa Indonesia menguasai 58,7% pangsa pasar global sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar. Sektor ini menyerap 16,5 juta tenaga kerja dan menghidupi 2,6 juta petani swadaya.
Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti Center, menyebut sawit sebagai motor penggerak hilirisasi, pangan, dan energi. Secara angka, industri ini menghasilkan output sebesar Rp1.119 triliun dengan nilai tambah mencapai Rp510 triliun per tahun.
Namun, daya saing nasional masih terganjal isu struktural. Akademisi Witjaksana Darmosarkoro menyoroti dominasi petani kecil yang masih terkendala keterbatasan akses permodalan dan teknologi digital, rendahnya literasi teknis dan skala usaha yang terfragmentasi dan hambatan pada program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Dari sisi pelaku usaha, Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menegaskan bahwa industri dalam negeri sebenarnya mampu melampaui standar keberlanjutan global. Masalah utama justru terletak pada ketidaksinkronan regulasi domestik yang memicu ketidakpastian usaha.
Senada dengan hal tersebut, Rizalmi Fitrah ZA dari PalmCo menambahkan bahwa legalitas lahan dan kelembagaan petani plasma menjadi ganjalan utama dalam implementasi sertifikasi seperti ISPO dan RSPO di lapangan.
Sebagai penutup, forum ini menekankan perlunya konsistensi kebijakan agar sawit tetap menjadi pilar pertumbuhan ekonomi sekaligus mampu menjawab tuntutan standar lingkungan global yang kian ketat.
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Purbaya Serang Balik Ekonom Ferry Latuhihin: Dia Tak Pernah Pegang Data Ekonomi
-
PT BSA Logistic Indonesia Segera IPO, yang Pertama di 2026
-
Purbaya Pastikan Indonesia Aman dari Status Darurat Energi, Beda dari Filipina
-
Batas Pelaporan SPT Diperpanjang hingga 30 April 2026
-
Jasamarga: Volume Kendaraan Masuk Jakarta Naik 41,8 Persen
-
Disetujui Prabowo, Purbaya Sebut Bea Keluar Batu Bara Bisa Berlaku 1 April 2026
-
Menkeu Purbaya: Kebijakan Wajib WFH Segera Diumumkan
-
Diskon Tarif 30% Mulai Berlaku Besok untuk 9 Ruas Tol, Ini Daftarnya
-
RI Jepang Kerja Sama Energi, Pengamat: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pemasok
-
Purbaya Kesal Diserang Ekonom Terus Menerus: Mereka Gembar-gembor Ketakutan