Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, tingkat inflasi yang diperkirakan rendah pada akhir tahun, dapat menjadi peluang untuk penurunan suku bunga acuan (BI Rate).
"Sebetulnya dilihat dari itu, mestinya ada ruang untuk tingkat bunganya turun," ujarnya, di Jakarta, Senin malam (2/11/2015).
Darmin menjelaskan, ruang untuk penurunan BI Rate bisa terlihat dari inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2015 yang baru mencapai 2,16 persen dan inflasi secara tahun ke tahun (year on year) 6,25 persen.
Namun, menurut dia, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter mempunyai pertimbangan tersendiri, sehingga masih mempertahankan BI Rate pada 7,5 persen untuk kesembilan kalinya berturut-turut.
Selain itu, Bank Sentral AS (The Fed) yang masih menunda kenaikan suku bunga acuan, juga bukan merupakan alasan bank sentral untuk menurunkan BI Rate, karena normalisasi kebijakan moneter tersebut sepertinya baru terjadi pada 2016.
"Tanya BI-nya saja, kenapa tidak diturunkan juga? Tapi saya juga mengerti, kira-kira dia masih takut sama goyang-goyangnya rupiah," kata mantan Gubernur Bank Indonesia ini.
Darmin mengatakan, idealnya selisih antara BI Rate dengan tingkat inflasi adalah 100 basis poin (satu persentase poin) bukan sebanyak 400 basis poin (empat persentase poin) seperti sekarang.
"Dengan inflasi sekarang, makin lama 'real interest rate' semakin besar. Nanti akhir tahun, inflasi di bawah empat persen. Padahal BI Ratenya 7,5 persen, ada selisih empat persentase poin. Biasanya bedanya satu (persentase poin)," jelasnya.
Lebih lanjut, Darmin menambahkan BI Rate yang terlalu tinggi dalam situasi saat ini bisa membuat masyarakat enggan mengajukan pinjaman dan menahan konsumsi, sehingga bisa memperlambat kinerja perekonomian.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kembali memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,5 persen untuk kesembilan kalinya secara berturut-turut setelah sempat diturunkan 25 basis poin pada Februari 2015.
Bank sentral juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan membaik terutama didorong oleh meningkatnya belanja modal pemerintah, walaupun aktivitas perekonomian di sektor swasta masih berjalan relatif lambat.
Dengan situasi tersebut, Bank Indonesia menilai bahwa tekanan terhadap stabilitas makro mulai mereda sehingga ke depan terdapat ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Namun, mengingat masih tingginya risiko ketidakpastian global, maka otoritas moneter akan tetap berhati-hati dan mencermati risiko global di tengah perkembangan pasar keuangan global yang lebih kondusif.
Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan pelonggaran kebijakan moneter yang akan dilakukan bank sentral, belum tentu terkait dengan kebijakan penurunan suku bunga acuan (BI Rate).
Mirza tidak menyebutkan instrumen lain dari kebijakan moneter selain penyesuaian suku bunga acuan. Namun ia memastikan adanya ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter melihat laju inflasi serta kinerja defisit transaksi berjalan hingga akhir tahun.
"Ruang pelonggaran moneter karena dua faktor utama. Satu, inflasi kita bisa di bawah empat persen tahun ini. Kedua, CAD atau defisit transaksi berjalan kita itu terkendali di bawah 2,5 persen dan bisa di 2,1 persen," ujarnya.(Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
Terkini
-
Properti Kembali Bergairah, Akses Tol Jadi Magnet Baru Kenaikan Nilai Hunian
-
BI Bidik 200 Pesantren Punya Bisnis Air Minum Kemasan, Jadi Sumber Cuan Baru
-
Purbaya Tetap Ngotot Ekonomi RI Kuat Meski Banyak Protes, Ini Buktinya
-
Rupiah Terperosok Jatuh ke Level Rp17.843/Dolar AS
-
Profil PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI): Emiten Alkes, Pemegang Saham dan Prospek
-
Industri Kopi Berpotensi Bikin Cuan Negara, Tapi Baristanya Banyak Nggak Profesional
-
Profil PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX): Prospek IPO, Pemilik Saham dan Bisnis
-
Emiten Pengolah Limbah MHKI Bagikan Dividen Rp9,9 Miliar, Catat Jadwalnya
-
Aturan Outsourcing Bakal Dirombak Total, Ini Kata Said Iqbal dan Wamenaker
-
Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp771 Miliar, BUMI hingga BUKA Jadi Sasaran