Suara.com - Tenaga Ahli Bidang Energi Kementerian Koordinator Kemaritiman Haposan Napitupulu, menampik semua tuduhan terkait pengembangan lapangan gas alam cair Abadi Blok Masela, Maluku, yang sarat akan kepentingan.
"Ini tidak ada sama sekali faktor kepentingan sektor, apalagi soal bagi hasil yang tidak sesuai. Perihal Blok Masela, bagi hasil atau split Blok Masela adalah 60/40 atau 60 persen untuk Pemerintah dan 40 persen untuk kontraktor setelah dikurangi cost recovery. Jadi penting untuk menekan cost recovery ini agar pemerintah tidak menanggung terlalu besar," kata Haposan saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta Pusat, Jumat (11/3/2016).
Pihaknya juga tak sepakat apabila skema pengembangan Blok Masela secara Onshore (di darat) yang ditawarkan oleh Menko Kemaritiman Rizal Ramli dikatakan sebagai pemborosan karena dinilai sebagai proyek pipa gas terpanjang di Indonesia.
Ia menjelaskan, jenis pipa yang akan digunakan untuk mengangkut gas dari laut merupakan jenis pipa khusus yang dapat menahan tekanan kedalaman air sekian ribu meter.
"Ini bukan proyek pipa terbesar, hanya 90 kilometer dari lapangan gas di Selaru. Dulu ada yang lebih besar dari ini. Jenis pipa yang akan dipergunakan untuk transportasi gas di laut merupakan jenis pipa khusus yang dapat menahan tekanan kedalaman air sekian ribu meter. Sampai saat ini, jenis pipa dengan spek tersebut belum diproduksikan di Indonesia, artinya masih diimpor. Sebagaimana juga sebelumnya, untuk beberapa jalur pipa gas seperti Natuna-Singapura, Kangean – Gresik, dan lain-lain,” katanya.
Meski harus impor pipa, Haposan menghitung biaya pembangunan kilang LNG Laut mencapai 23 – 26 miliar dolar AS. Ini masih lebih mahal ketimbang pembangunan kilang darat yang hanya memakan biaya 16 miliar dolar AS. Biaya itu sudah termasuk biaya pembangunan jalur pipa laut 1,2 miliar dolar AS.
"Sehingga, secara keekonomian skenario kilang LNG laut lebih mahal, yang akan berakibat tingginya cost recovery atau semakin berkurangnya pendapatan bagian negara," ungkapnya.
Tag
Berita Terkait
-
Indonesia Dorong Jepang Percepat Pengembangan Blok Masela
-
Proyek Gas Masela Mandek, Bahlil Minta INPEX Segera Putuskan Investasi
-
Pertamina dan Petronas Resmi Gantikan Shell di Blok Masela, Ini Kata Nicke Widyawati
-
Pertamina dan Petronas Teken Perjanjian Jual Beli dengan Shell untuk 35% Kepemilikan di Blok Masela
-
Kronologi Kisruh Pemerintah-Shell Terkait Blok Masela
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri
-
Jawaban Menohok Purbaya Saat Dikritik Pertumbuhan Ekonomi Gegara Stimulus Pemerintah
-
Tersiar Kabar PPPK Kena PHK Massal Setelah APBD Dipotong, Apa Kata Pemerintah?
-
Rupiah Kembali Merosot ke Level Rp 17.382, Apa Penyebabnya?