Skema ini menguntungkan, begitu penjelasan Sandra Winarsa, dari HIVOS, LSM yang selalu mendampingi warga desa. “Kami tak perlu memikirkan lagi operasional dan perawatan PLTMH yang dulu gagal dilakukan koperasi,” jelas Sandra. Hambatan satu-persatu dikenali dan berusaha diselesaikan.
Uang yang diperoleh koperasi didayagunakan untuk membangun prasarana air bersih. Air bersih disalurkan ke warga desa dan ditarik iuran. Pendapatan koperasi bertambah.
Lalu koperasi mulai mengajak masyarakat untuk membangun biogas untuk keperluan memasak. Sekarang sudah 120 kepala keluarga menggunakan bahan bakar biogas di desa Kamanggih. Perlahan mereka mulai mengurangi penggunaan kayu bakar untuk memasak yang selama ini menjadi penyebab tingginya tingkat penyakit infeksi saluran pernafasan di sana.
Pada tahun 2013 sebuah BUMN minyak dan gas memberi bantuan lagi kepada masyarakat berupa pembangkit listrik tenaga angin. Sekarang dasa-desa tetangga pun mulai bisa dipenuhi kebutuhan listriknya.
Listrik yang dihasilkan setiap kincir angin sebesar 500 watt. Ada seratus unit yang dipasang di sana, yang menghasilkan 50 KiloWatt. Di tambah daya yang dihasilkan PLTMH sebesar 37 KiloWatt. Secara keseluruhan desa Kamanggih menghasilkan listrik 87 KW. Jumlah ini cukup untuk kebutuhan listrik desa Kamanggih, bahklan berlebih.
Dampak keberadaan listrik di desa Kamanggih ternyata luas. Warga tak perlu lagi mengambil air di lembah-lembah yang jauh atau mencari kayu bakar. Waktu luang banyak di gunakan untuk bertani dan berkebun. Hasilnya mereka mulai mandiri pangan dan tentu saja energi.
Ekonomi masyarakat pun mulai membaik. Walau tidak ada data resminya tapi secara kasat mata terlihat. Hasil tani dan kebun meningkat. Ibu-ibu yang menenun lebih produktif karena bisa menenun di malam hari diterangi lampu listrik. Kemudahan air bersih juga meningkatkan kesehatan. Tahun 2014 yang lalu telah berdiri untuk pertama kali sekolah menengah atas di sana!
Dampak negatif tentu saja ada. “Anak-anak senang nonton tv sampai jauh malam,” jelas Umbu. Pemakaian lsitrik pun mulai meningkat. “Kami harus mulai memikirkan meningkatkan daya listrik. Dua atau tiga tahun ke depan kita harus mencari potensi baru untuk sumber daya,” terang Umbu.
Revolusi Mental
Ada lagi tantangan lain di depan. “Soal mentalitas!” tegas Umbu. Ia menjelaskan dengan kehadiran listrik secara swadaya dan swakelola ikut membentuk mental warga desanya. Sebelum Presiden Jokowi mencanangkan “Revolusi Mental” warga desanya sudah bisa merevolusi mentalnya sendiri.
“Masyarakat sudah mandiri secara ekonomi, pangan dan energi. Program pemerintah yang memberi bantuan tunai langsung kemasyarakat menjadi tantangan kita selanjutnya,” tegas Umbu.
Seperti diketahui selain ada dana desa dari APBN juga ada ada program Anggur Merah (Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejahtera) yang dijalankan pemerintah daerah NTT. Belum lagi ada program Bantuan Langsung Tunai, Beras Murah dan yang gratis-gratis lainnya yang semuanya bisa mempengaruhi mental masyarakat yang sudah mandiri secara energi, pangan dan ekonomi.
Tanpa disadari program pemerintah yang bertujuan baik ternyata bisa berakibat buruk pada masyarakaat. “Itu tantangan kita ke depan bagaimana agar masyarakat tidak terlena dengan segala macam bantuan dan menjadi malas,” tandas Umbu menutup perbincangan.
Di desa Kamanggih kita melihat kegigihan warga desa untuk melawan ketinggalan dengan energi baru dan terbarukan. Ternyata berdampak luas dan positif bagi kehidupan warga desanya. Too good to be true!
Ini menjadi contoh yang baik bagi kawasan lain di Indonesia yang sedang membangun energi listrik tanpa merusak lingkungan dan tetap menjaga kelestarian. (Feri Latief)
Berita Terkait
-
Jejak Perjuangan Riyan Hidayat: Dari Kebun Kopi Perbatasan Hingga ke Panggung Kepemimpinan Nasional
-
Dari Kios Sederhana ke Kairo: Kisah Ayah di Makassar Kuliahkan Anak ke Mesir Lewat Usaha Warung
-
Tak Kenal Menyerah, Ibu Anastasya Buktikan Setiap Perjuangan Layak Ditemani
-
Dari 2.000 Meter ke 30 Hektare: Kisah Rosita dan Hutan Organik yang Tumbuh dari Keteguhan
-
Cerita Perempuan di Dunia Riset, Membuktikan Karier dan Keluarga Bisa Sejalan
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Purbaya Klaim Kemenkeu Belum Berencana Punya Saham BEI Meski Diizinkan UU P2SK
-
Purbaya Ngotot Tambah Layer Cukai untuk Legalisasi Rokok Ilegal
-
Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan
-
Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak
-
Purbaya Respons Isu Tarik Dana SAL Milik Pemerintah dari Perbankan
-
Pemerintah Siapkan Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik, Upayakan Tidak Impor
-
Rute Lengkap KRL, TransJakarta dan Mikrotrans Menuju ke JIS
-
Daftar Saham yang Meroket di Tengah Koreksi IHSG Sesi I
-
Gas Mahal Picu PHK 55 Ribu Buruh, ESDM: Industri yang Mana Dulu!
-
IHSG Ambrol Nyaris ke Level 5.900, TPIA Jadi Beban