Di bandingkan kabupaten lain di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumba Timur termasuk salah satu dari empat kabupaten yang tertinggal. Tapi siapa sangka pulau itu ternyata memiliki banyak sumber daya untuk energi baru dan terbarukan.
Lihatlah desa Kamanggih di Kabupaten Sumba Timur. Walau letaknya terpencil, jauh dari ibu kota kabupaten, Waingapu, tetapi sekitar 2000 orang penduduknya telah 100% menikmati listrik yang diperoleh dari energi baru dan terbarukan!
Bagaimana bisa? Semua bermula dari upaya Umbu Hinggu Panjanji, seorang tokoh pemuda setempat yang mendirikan koperasi di desanya. Ia menyadari betapa tertinggal desanya. “Kemajuan pertama pada tahun 1999 ada penduduk desa membeli sebuah sepeda motor. Semua penduduk desa keluar mau melihat motor itu!” Kenang Umbu, panggilan akrabnya. Sepeda motor adalah suatu kemewahan yang jarang tersentuh warga desa.
Sebagai pemuda ia gelisah melihat kemiskinan warga desanya. Apalagi kondisi ekonomi tahun 1999 tidak bagus. “Kemiri yang menjadi salah satu sumber penghasilan warga desa harganya jatuh menjadi hanya Rp.1000 per kilo!”
Warga desa yang kesusahan lalu berupaya menjual ternaknya kepada pedagang yang datang dari kota. Sayangnya terpaksa harus dijual murah karena yang menentukan harganya para pedagang kota itu. Hidup mereka bergantung pada orang-orang kota yang memiliki modal.
Kondisi kesehatan buruk, tak ada layanan kesehatan. Air bersih pun sulit didapat. Harus mencari ke lembah-lembah yang jauh dari desa. Penerangan listrik belum ada, semua masih menggunakan lampu minyak tanah yang sulit didapat. Mereka termasuk diantara 60 juta penduduk Indonesia yang tak punya listrik. Sehari-hari masyarakat menggunakan kayu bakar.
Pendidikan anak pun menjadi kendala. Siapa guru yang mau tinggal di desa terpencil yang serba kekurangan? Waktu anak banyak untuk membantu di kebun, mencari air dan ikan di lembah serta kayu bakar.
Walau desa itu miskin dan kering tapi sesungguhnya banyak potensi sumber daya alam di sekitarnya. Banyak sumber air jauh di lembah-lembah di kawasan hutan sekitar desa. Potensi itulah yang dilihat para aktivis lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam kemanusian dan lingkungan untuk membantu kehidupan warga desa Kemanggih.
Kegelisahan Umbu bertemu dengan niat para aktivis itu. Ia memberdayakan warga desa untuk melepas diri dari kendala-kendala yang selama ini membelenggu mereka. Para aktivis membantu membangun prasarana penyediaan air bersih. Umbu Panjanji bersama warga desa mendirikan koperasi untuk mengelola prasarana itu.
Sayangnya karena koperasi tidak memiliki kemampuan teknis untuk mengelola prasarana itu akhirnya ketika ada masalah teknis mereka tak mampu mengatasi akhirnya prasarana itu terongok tak bisa difungsikan lagi.
Sampai datang aktivis yang lain untuk membantu membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di salah satu sumber mata air di hutan dekat desa pada tahun 2011. Masyarakat bergotong royong membangun pembangkit listrik itu sampai selesai
Tugas koperasi mengelola listrik yang dihasilkan PLTMH. Mereka menyalurkan energi listrik ke masyarakat desa. Menjual listrik dan mengelola dana yang didapat dari warga desa.
Belajar dari pengalaman sebelumnya mereka tak punya keahlian teknis juga ada kendala maka mereka pun menjalan kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Koperasi tak lagi langsung menjual listrik ke masyarakat tapi ke PLN yang menjualnya lagi ke masyarakat.
“Kami jual Rp. 475/kwh ke PLN, setiap bulan koperasi mendapat tiga sampai empat juta rupiah bersih dari PLN. Penduduk membayar ke PLN Rp. 20,000 perbulan,” terang Umbu Panjanji. Ia menjual di bawah harga yang ditentukan pemerintah alias murah.
Keuntungan lainnya operasional dan pemeliharaan PLTMH dilakukan oleh PLN bukan koperasi lagi. PLN membayar gaji para teknisi yang memelihara setiap hari sebagai karyawannya. Teknisinya dari anggota koperasi yang dididik khusus.
Berita Terkait
-
Dari Kios Sederhana ke Kairo: Kisah Ayah di Makassar Kuliahkan Anak ke Mesir Lewat Usaha Warung
-
Tak Kenal Menyerah, Ibu Anastasya Buktikan Setiap Perjuangan Layak Ditemani
-
Dari 2.000 Meter ke 30 Hektare: Kisah Rosita dan Hutan Organik yang Tumbuh dari Keteguhan
-
Cerita Perempuan di Dunia Riset, Membuktikan Karier dan Keluarga Bisa Sejalan
-
Warren Buffett: Anak Ajaib dari Omaha yang Mengubah Dunia Investasi
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik
-
Sah! SIG Putuskan Tebar Dividen Rp190,8 Miliar ke Investor
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri
-
Jawaban Menohok Purbaya Saat Dikritik Pertumbuhan Ekonomi Gegara Stimulus Pemerintah