Perundingan putaran ke-2 Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA) yang berlangsung pada 24-27 Januari 2017 di Bali berjalan konstruktif. Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengungkapkan kedua belah pihak saling memperlihatkan tingkat komitmen yang kuat untuk memajukan proses perundingan.
“Perundingan IEU CEPA pada putaran ke-2 ini terlihat semakin matang dari tingkat pengorganisasian dan proses perundingannya. Kami optimistis pada putaran berikutnya tahapan negosiasi akan lebih komprehensif dan teknis,” ujar Iman dalam keterangan resmi, Minggu (29/1/2017).
Adapun kemajuan yang dicapai pada perundingan di Bali, lanjut Iman, yaitu penyusunan aspek modalitas secara umum dan penajaman persepsi mengenai tingkat ambisi pada beberapa isu perundingan, antara lain bidang perdagangan barang dan jasa, trade remedies, kepabeanan dan fasilitasi perdagangan, regulasi teknis di bidang sanitari dan fitosanitasi (SPS), belanja pemerintah, Hak Kekayaan Intelektual, persaingan usaha, transparansi kebijakan, penyelesaian sengketa, perdagangan dan pembangunan yang berkelanjutan, serta beberapa isu runding lainnya.
"Selama perundingan berlangsung kedua belah pihak melakukan pertukaran informasi mengenai aspek kebijakan isu-isu terkait. Selain itu juga dibahas mengenai papers maupun teks yang merefleksikan pandangan masing-masing pihak terhadap isu-isu perundingan secara prinsip, aturan, dan implementasi di lapangan," lanjut Iman.
Iman menegaskan, hasil perundingan putaran ke-2 ini memiliki arti strategis mengingat hasil perundingan ini akan menjadi landasan penentuan mekanisme dan arah perundingan selanjutnya. Putaran ke-2 ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan perundingan putaran pertama yang dilaksanakan pada 20-21 September 2016 di Brussel, Belgia. Dengan hasil signifikan yang dicapai pada putaran ke-2 perundingan IEU CEPA, proses perundingan IEU CEPA diharapkan dapat dilaksanakan sesuai tenggat waktu yang direncanakan.
Di samping itu, pada kesempatan pertemuan di Bali terdapat sekitar 15 Working Group yang mengadakan pertemuan secara pararel. Delegasi RI terdiri atas berbagai negosiator dan anggota dari seluruh kementerian dan lembaga yang terkait dengan Working Group dan isu yang dibahas.
WGTI
Setelah perundingan putaran ke-2 IEU CEPA selesai, Indonesia dan Uni Eropa melaksanakan Working Group on Trade and Investment (WGTI) ke-8 pada 28 Januari 2017 di Bali.
Baca Juga: Para Menteri WTO Perkuat Sistem Perdagangan Multilateral
WGTI merupakan forum bilateral yang bertujuan membahas permasalahan terkait kelancaran arus perdagangan dan investasi kedua belah pihak melalui pertukaran informasi kebijakan dan peraturan yang saat ini berlaku.
Beberapa isu yang menjadi perhatian pada pertemuan WGTI ke-8 antara lain terkait kebijakan Indonesia di bidang investasi, prosedur ekspor dan impor, pre-shipment inspection, ketentuan impor produk alkohol, besi, baja dan ban, ketentuan SNI, isu halal, pembatasan pintu masuk pelabuhan impor, kepatuhan terhadap ketentuan standar internasional terkait hewan dan produk hewan, serta ketentuan mengenai SPS.
Sedangkan, beberapa kebijakan Uni Eropa yang menjadi perhatian Indonesia pada pertemuan tersebut adalah kebijakan mengenai isu akses pasar bagi produk-produk pertanian, kayu, dan perikanan Indonesia, di antaranya kelapa sawit, kakao, dan produk kayu. Selain itu juga beberapa kebijakan EU, seperti EU’s New Directive On Renewable Energy, Modernization Of EU's Trade Remedies Policies, European Food Safety Agency (EFSA) mengenai unsur senyawa 3 MCPD (3-monochloropropane- 1,2 - diol), serta monitoring FLEGT-VPA.
Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar ke-4 bagi Indonesia dengan produk ekspor utama antara lain mencakup produk-produk pertanian dan perikanan, furnitur, komponen mesin, tekstil dan alas kaki, serta produk plastik dan karet.
Sementara itu bagi Uni Eropa, Indonesia adalah mitra dagang dari Asia Tenggara terbesar ke-5 namun berada di peringkat ke-30 dalam urutan mitra dagang Uni Eropa secara global. Ekspor utama Uni Eropa ke Indonesia antara lain terfokus pada mesin, peralatan transportasi, dan produk kimia selain jasa. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa (2015) mencapai 14,8 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) dan impor dari Uni Eropa 11,3 miliar Dolar AS sehingga Indonesia mengalami surplus sebesar 3,5 milliar Dolar AS.
Bagi Indonesia, pembahasan secara komprehensif dalam perundingan IEU CEPA harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan (sustainability), peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), akses pasar, serta pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Putaran ke-3 Indonesia-EU CEPA direncakan akan diadakan pada paruh kedua 2017 di mana EU akan menjadi tuan rumah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Inabuyer B2B2G Expo 2026 Dibuka, Target Transaksi UMKM Tembus Rp2,5 Triliun
-
Ekonomi Indonesia Melesat 5,61 Persen saat Rupiah Pecahkan Rekor Terlemah
-
Pertukaran Mata Uang dengan China dan Jepang Jadi Strategi Jaga Nilai Tukar Rupiah
-
Rupiah Masih Melemah Akibat Turunnya Surplus Perdagangan
-
Ikon Kota yang Terawat Bisa Menggerakkan Ekonomi, AVIA Ungkap Alasannya
-
Purbaya Bantah Ekonomi RI Seperti Krisis 1998: Ekonom Salah Prediksi, Kecele
-
Pemerintah Bidik Hilirisasi Industri demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen di 2029
-
Pelemahan Rupiah yang Terparah dalam Sejarah Bisa Picu Gagal Bayar dan PHK
-
Bahlil Tegaskan Tarif Listrik Tak Naik pada Mei
-
OJK: DSI Masih Nunggak Bayar Dana Nasabah Rp 2,4 Triliun