Suara.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) mencurigai ada indikasi oknum pedagang yang mengubah atau mengoplos beras medium menjadi premium untuk meraup lebih banyak keuntungan.
Usai melakukan tinjauan bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, Kamis, Budi Waseso mengungkapkan bahwa distribusi atau operasi pasar dengan menggelontorkan beras medium sudah dilakukan, namun harga beras medium mengalami tren kenaikan menjadi Rp 9.900 sampai Rp 10.500 per kilogram.
"Kalau saya dari penyuplai, justru ada kecurigaan ini ada perubahan beras medium menjadi premium. Bisa dilihat hari ini stok terbanyak mungkin 80 persen medium," kata pria yang akrab disapa Buwas tersebut.
Buwas menyebutkan bahwa sampai saat ini stok beras yang disimpan di gudang Bulog mencapai 2,7 juta ton.
Bahkan, Bulog telah melaksanakan operasi pasar dengan menggelontorkan sekitar 60 persen dari stok beras medium untuk menstabilisasi harga. Namun, jumlah beras yang diserap setiap hari tidak sampai 15 ribu ton.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi menyebutkan saat ini stok beras di PIBC sebanyak 50 ribu ton, atau melebihi batas stok normal sebesar 20 ribu sampai 30 ribu ton.
Namun, porsi jumlah beras di PIBC didominasi 80 persen oleh beras premium. Padahal, menurut dia, produksi beras di dalam negeri untuk kebutuhan konsumsi di Jakarta sangat cukup, hanya saja preferensi pedagang untuk menjual beras premium menjadi fenomena baru yang harus dicermati.
"Hanya saja, beras medium ini lebih cenderung ditingkatkan ke premium karena marginnya tinggi. Ini semacam fenomena baru, bukan masalah produksi," kata Arief.
Ia menambahkan bahwa saat ini beras premium memiliki kadar broken atau butir patah sebesar 15 persen, berbeda dengan sebelumnya yang hanya 5 persen.
Oleh karena itu, Bulog pun meminta Satgas Pangan kembali meninjau ke lapangan untuk mengetahui indikasi perubahan beras medium ke premium yang berdampak pada sulitnya masyarakat mendapatkan beras dengan harga murah.
Sebagai informasi, harga eceran tertinggi (HET) beras medium di wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, NTB, Sulawesi dan Bali sebesar Rp 9.450 per kilogram, sedangkan untuk premium Rp 12.800 per kg. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Mencekam! SPBE di Cimuning Bekasi Terbakar Hebat, Langit Malam Berubah Merah
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
Terkini
-
Sambangi Korsel, Bahlil Hasilkan 3 Kerja Sama Strategis di Sektor Energi
-
Tak Asal Tanam, Petani Sawit Mulai 'Melek' Gunakan Metode Ilmiah
-
Sumbang Rp 4,96 T, ITDC Beberkan Efek MotoGP ke Ekonomi RI
-
Menaker: WFH Tidak Boleh Kurangi Gaji dan Tunjangan Karyawan
-
Ekonom Beberkan Solusi Agar APBN Tak Terbebani Subsidi Energi
-
WFH Seminggu Sekali untuk Swasta Tak Harus Setiap Jumat
-
Dorong WFH 1 Hari dalam Sepekan, Menaker Pastikan Hak Pekerja Tak Dipangkas
-
Dana SAL Rp 420 Triliun, Purbaya Buka Opsi Pakai Kas Pemerintah demi Amankan APBN
-
Imbauan WFH 1 Hari Seminggu di Sektor Swasta Dapat Dukungan Pengusaha dan Pekerja
-
Purbaya Proyeksi Defisit APBN 2026 Tembus 2,9% Meski Harga Minyak Terus Naik