Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pada hari ini Kamis (21/11/2019) dibuka di zona merah. IHSG dibuka melemah 0,31 persen atau melemah 19 poin ke level 6.135,76.
Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini berada di level Rp 14.109 atau terapresiasi 14 poin.
Pada level tersebut setidaknya 57 saham menguat, 84 saham melemah dan 124 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp 55 miliar dari 80 juta lembar saham diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 5,4 ribu kali.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak merah 1 poin atau 0,11 persen menjadi 975,321.
Analis dari PT Valbury Sekuritas Indonesia Suryo N mengatakan pergerakan IHSG pada hari ini bakal di selimuti sentimen negatif seperti Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan menghentikan penurunan suku bunga acuan di Rapat Dewan Gubernur pada November 2019, sebagai antisipasi turunnya daya tarik instrumen keuangan dalam negeri yang dapat memicu pelebaran defisit transaksi berjalan.
Artinya, BI akan mempertahan suku bunag 7-Day Repo Rate di 5 persen hingga akhir tahun 2019. Hal ini dilakukan agar selisih suku bunga antara Bank sentral Indonesia dengan bank sentral negara ekonomi maju tidak semakin tinggi.
"BI juga akan memperhatikan kebijakan the Fed dalam hal suku bunga yang diperkirakan akan mempertahan suku bunga acuannya," kata Suryo.
Meski, sisi lain BI untuk menurunkan suku bunga masih ada ruang karena inflasi yang terkendali di bawah 3,5 persen dan pertumbuhan ekonomi yang prospektif ditopang konsumsi rumah tangga.
Sentimen pasar dari luar negeri
Baca Juga: Kembali Ditutup Menguat, IHSG Masih Nyaman di Zona Hijau
Dari ekternal, belum menunjakan adanya tanda-tanda perundingan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan Cina akan capai kesepakatan setelah Presiden AS Donald Trump menolak untuk menghapus bea masuk produk Cina.
Fitch menyebut, outlook utang pemerintah global tetap stabil di tengah perlambatan ekonomi yang kian terasa. Fitch menyebut, kebijakan moneter yang longgar di sepanjang semester II 2019 akan diikuti dengan stimulus fiskal di tahun 2020.
Kemampuan stimulus fiskal dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi akan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan dampaknya terhadap peringkat utang suatu negara. Kebijakan makro yang longgar dipicu oleh pertumbuhan investasi yang melambat dan volume perdagangan yang terkontraksi.
Namun Fitch memandang skeptis pelonggaran kebijakan makro tersebut mampu melawan dampak negatif dari perlambatan perdagangan yang terjadi. Fitch menggarisbawahi soal investasi. Ketika investasi di negara asal tumbuh melambat, maka investasi ke negara lain menjadi tidak menarik.
"Sentimen bagi pasar yang kembali didominasi faktor negatif, bisa menyulitkan bagi IHSG untuk dapat melaju keteritorial positif pada perdagangan saham hari ini," kata Suryo.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Brantas Abipraya Pastikan Pembangunan Gene Bank Indonesia Berjalan Optimal untuk Kesehatan Nasional
-
3 Saham Paling 'Sibuk' pada Sesi I, IHSG Ambrol di Zona Merah
-
Gubernur BI: UMKM Jangan Langsung Diberi Modal
-
Tak Mau Disalahkan, Bahlil Serahkan Urusan Mati Lampu ke PLN
-
Listrik Byar Pet, Pengamat UGM: PLN Jangan Jadi 'Perusahaan Lilin Negara'
-
IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran
-
Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran
-
PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga
-
Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!