Suara.com - Penyerapan anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akibat pandemi virus corona atau Covid-19 ternyata masih sangat minim sekali. Alhasil, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun sedikit sewot.
Sri Mulyani mengungapkan dalam keseluruhan penyerapan anggaran program PEN, tidak semuanya bisa dilakukan dengan cepat dan tepat karena memiliki tantangan tersendiri.
"Kami melihat program yang desainnya simpel dan sudah memiliki existing maka bisa dieksekusi cepat, seperti pemberian bansos PKH, kartu sembako bisa cepat. Namun apabila belum, dan merupakan program usulan baru, kami melihat ada yang betul-betul sangat challenging sehingga eksekusinya butuh waktu," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Senin (24/8/2020).
Dari data Kementerian Keuangan, hingga 19 Agustus 2020 realisasi anggaran Program PEN baru mencapai Rp 174,79 triliun. Realisasi anggaran tersebut baru sekitar 25,1 persen dari pagu Rp 695,2 triliun.
Jika ditelisik lebih jauh lagi data tersebut, realisasi insentif atau bantuan untuk sektor korporasi maupun dunia usaha non UMKM penyerapannya relatif rendah atau masih di bawah 15 persen.
Insentif untuk dunia usaha, misalnya, dari pagu yang dialokasikan pemerintah senilai Rp 120,6 triliun, penyerapan anggaranya masih di angka Rp 17,23 triliun atau 14,3 persen.
Tak hanya itu, program pembiayaan korporasi sampai hari ini realisasinya masih 0 persen. Padahal alokasi yang disiapkan pemerintah untuk pembiayaan korporasi senilai Rp 53,57 triliun.
Sementara itu realisasi dari sektor kesehatan sebesar Rp 7,36 triliun dari pagu Rp 87,5 triliun. Sementara untuk perlindungan sosial, realisasinya mencapai Rp 93,18 triliun atau 49,7 persen dari pagu Rp 203,91 triliun.
Untuk sektoral Kementerian Lembaga atau K/L dan Pemerintah Daerah dalam baru mencapai 13,1 persen dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Angka itu setara dengan Rp 12,40 triliun dari pagu sebesar Rp 106,05 triliun.
Baca Juga: Guru Honorer Akan Dapat Gaji Tambahan Rp 600 Ribu, Ini Kata Sri Mulyani
"Sehingga eksekuasi butuh waktu ini yang oleh Presiden minta K/L dalam buat dan desain program harus sesimpel dan akuntabel. Kendala awal data, baik data belum tersedia atau tersedia belum update terutama ketepatan nama, address dan kalau ada hubunganya dengan transfer no account dari tujuan tidak selalu tersedia," keluh Sri Mulyani.
Sri Mulyani pun mulai ketar-ketir dengan masih seretnya serapan anggaran yang dilakukan sejumlah Kementerian/Lembaga (K/L) pasalnya dari data yang ia miliki tak ada satupun serapan anggaran yang membuat dirinya senang.
Jika kondisi ini tak berubah, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III kata dia makin akan tertekan.
"Kuartal III jadi kunci agar bisa kurangi kontraksi dan menghindari techincal recession, 2 kuartal negatif berturut-turut," kata Sri Mulyani.
Untuk menggenjot belanja modal, Sri Mulyani mengatakan terus berbenah, salah satu cara yang dilakukan adalah mendukung dan membantu perubahan Daftar Isian Pelaksana Anggaran atau DIPA di setiap K/L yang mengusulkan.
"Kita juga terus melakukan perbaikan untuk membantu seluruh K/L dalam percepat penggunaan PEN maupun K/L dengan mendukung dan membantu perubahan DIPA bila dibutuhkan," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Kontradiksi Efisiensi Pemerintah saat Ekonomi Lagi Susah
-
Gebrakan Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya: Raih KWP Award 2026 Lewat Visi Transisi Energi
-
Bahlil Pastikan Stok BBM Aman: ICP Baru Naik 7 Dolar AS
-
Mendag: Harga Minyak Goreng Naik Akibat Mahalnya Plastik
-
Akan Beli Minyak dari Rusia, Bahlil Upayakan Dapat Harga Murah
-
Prediksi Purbaya: Defisit APBN Turun ke 2,8 Persen
-
Harga Minyakita Meroket, Mendag: Stoknya Memang Terbatas
-
IHSG Terus Memerah Hingga Akhir Perdagangan ke Level 7,621, Cek Saham yang Cuan?
-
Tak Cukup Kasih Modal, UMKM Perlu Akses Pasar Agar Naik Kelas
-
S&P Sorot Rasio Utang RI, Purbaya Klaim Belum di Level Berbahaya