- Riset LPEM FEB UI menunjukkan platform P2P lending AdaKami berkontribusi Rp 6,95 T hingga Rp 10,96 T terhadap PDB.
- Kontribusi PDB dihasilkan melalui efek berganda dari penyaluran pinjaman yang meningkatkan konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi.
- Penyaluran pinjaman juga membuka 47-78 ribu kesempatan kerja baru dan menjadi penyangga bagi konsumsi rumah tangga.
Suara.com - Riset dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan kalau platform peer-to-peer (P2P) lending bisa berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia.
Studi yang membahas soal AdaKami itu menemukan kalau platform tersebut turut berkontribusi terhadap PDB Indonesia dengan kisaran Rp 6,95 triliun hingga Rp 10,96 triliun pada tahun 2024.
Wakil Kepala LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo menyatakan, kontribusi tersebut dihasilkan melalui efek berganda (ripple effect) dari penyaluran pinjaman, yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peminjam, melainkan juga tercermin pada aktivitas ekonomi lokal melalui peningkatan perputaran ekonomi di berbagai sektor.
“Penyaluran pembiayaan mendorong ripple effect melalui peningkatan konsumsi rumah tangga, baik rutin maupun non-rutin, yang kemudian menggerakkan sektor ritel, grosir, transportasi, manufaktur, hingga sektor primer," katanya, dikutip dari siaran pers, Kamis (26/2/2026).
"Dengan demikian, dukungan terhadap sektor ekonomi riil terjadi melalui penguatan permintaan barang dan jasa produktif yang memicu aktivitas ekonomi dan produksi, setidaknya dalam jangka pendek," lanjutnya lagi.
Dalam periode analisis, LPEM FEB UI mencatat setidaknya 185 sektor ekonomi nasional memperoleh nilai tambah dari aktivitas ekonomi yang dipicu oleh pendanaan AdaKami.
Tiga sektor dengan porsi dampak terbesar adalah jasa lembaga keuangan lainnya (21,34%), jasa pendidikan pemerintah (10,03%), serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30%), yang kemudian menyebar ke sektor-sektor lain baik secara langsung maupun tidak langsung.
Besaran kontribusi tersebut setara dengan PDB negara kepulauan seperti Tonga, yang pada 2024 tercatat sebesar USD 558 juta atau sekitar Rp 9,38 triliun dengan kurs saat ini.
Selain memberikan kontribusi pada PDB, penyaluran pinjaman AdaKami juga berkontribusi membuka kesempatan kerja bagi 47-78 ribu orang yang tersebar di 17 sektor industri, antara lain perdagangan besar dan eceran (19,84%), jasa pendidikan (18,63%), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,11%).
Baca Juga: Kontribusi Rp 710 Triliun ke PDB, Industri Hasil Tembakau Minta Kebijakan Lebih Adil
Konsumsi rumah tangga
Hasil riset LPEM FEB UI menunjukkan bahwa penyaluran pinjaman AdaKami berperan sebagai bantalan keuangan (financial buffer) yang membantu rumah tangga memenuhi kebutuhan, terutama dalam situasi mendesak, sehingga mampu menjaga tingkat konsumsi (consumption smoothing).
Survei mencatat bahwa pinjaman AdaKami juga dimanfaatkan oleh pengguna untuk menghadapi tekanan ekonomi atau guncangan (shock), seperti pemutusan hubungan kerja, sakit keras, dan peristiwa meninggal dunia dalam keluarga.
Selain itu, 24,51 persen pengguna AdaKami menyatakan bahwa tanpa adanya pinjaman daring, mereka harus menggunakan tabungan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan.
Peran penyangga tersebut tercermin pada stabilitas pola konsumsi dan pengelolaan rumah tangga pengguna. Kelompok peminjam AdaKami memiliki rata-rata pengeluaran total sebesar Rp4,8 juta per bulan, yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
Di saat yang sama, pengguna AdaKami juga menunjukkan perilaku menabung yang relatif lebih baik, dengan rata-rata tabungan hampir Rp700 ribu, lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
Berita Terkait
-
Kontribusi Rp 710 Triliun ke PDB, Industri Hasil Tembakau Minta Kebijakan Lebih Adil
-
Samsung Rilis Bixby Terbaru di One UI 8.5: Lebih Natural, Cari Info Real-Time Tanpa Buka Browser
-
Bocoran Samsung One UI 9, Hadirkan Fitur Ask AI Berbasis Android 17
-
Akademisi UI: Keterlibatan Indonesia di BOP Mengkhianati Prinsip Bebas Aktif dan Bung Karno!
-
Kemenkeu Dukung Proyek Kapal Riset BRIN lewat Skema KPBU
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Perang Terbuka AS-Iran! Selat Hormuz Resmi Ditutup, Harga Minyak Dunia Terancam Meroket
-
Bersinergi dalam Prestasi, PNM Dorong Peningkatan Produktivitas Lewat Kegiatan Sportivitas
-
BRI Salurkan Ambulans untuk SMA Taruna Nusantara, Perkuat Layanan Kesehatan Sekolah
-
19.539 Unit Kopdes Segera Dibangun, Menkop: 83.000 KDMP Sudah Berbadan Hukum
-
Rupiah Terancam! Siap-siap Hadapi Tekanan Berat Senin Besok
-
Aturan Free Float, Puluhan Saham Big Caps Berisiko Kena Tekanan Jual
-
Bahlil Buka Peluang Aceh Dapat Porsi Manfaat Lebih Besar dari Blok Andaman
-
Ancaman Resesi Global! Trump Deklarasikan Perang, Pangkalan Militer AS Diserang Iran
-
IHSG Sepekan Menguat ke Level 5.924, Kapitalisasi Pasar BEI Meroket
-
Jaga Rekening Tetap Aktif, BRI Perkuat Sistem Keamanan dan Perlindungan Nasabah