Suara.com - Harga minyak anjlok lebih dari 6 persen ke level terendah dalam hampir tiga minggu, pada perdagangan Selasa, karena ketakutan gangguan pasokan mulai mereda dan melonjaknya kasus Covid-19 di China memicu kekhawatiran permintaan.
Mengutip CNBC, Rabu (16/3/2022) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup merosot USD6,99, atau 6,5 persen menjadi USD99,91 per barel.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut USD6,57, atau 6,4 persen menjadi menetap di posisi USD96,44 per barel.
Kedua kontrak itu ditutup di bawah USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Februari.
Brent jatuh serendahnya USD97,44 selama sesi Selasa dan WTI menyentuh USD93,53, level terendah sejak 25 Februari.
Kedua kontrak bergerak mendekati wilayah jenuh jual sejak Desember.
Brent dan WTI berada dalam kondisi jenuh beli baru-baru ini pada awal Maret, ketika keduanya mencapai level tertinggi 14 tahun setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Sejak itu, Brent kehilangan hampir USD40 dan WTI jatuh lebih dari USD30.
Penurunan tajam pada sesi Selasa terjadi ketika Rusia mengatakan telah menerima jaminan tertulis bahwa mereka dapat melakukan pekerjaannya sebagai pihak dalam kesepakatan nuklir Iran, menunjukkan Moskow akan mengizinkan pakta 2015 diberlakukan kembali.
Baca Juga: Rusia-Ukraina Mulai Damai, Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5 Persen
Pembicaraan untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir tersebut, yang akan mendorong pencabutan sanksi terhadap sektor minyak Iran dan memungkinkan Teheran untuk melanjutkan ekspor minyak mentah, baru-baru ini terhenti karena tuntutan Rusia.
Pada saat bersamaan, negosiator Ukraina, Selasa, mengatakan pembicaraan dengan Rusia mengenai gencatan senjata dan penarikan pasukan Rusia dari Ukraina sedang berlangsung.
Akibat invasi Rusia, yang disebutnya sebagai "operasi khusus", sanksi Barat terhadap Moskow tak mampu menghalangi China dan India membeli minyak mentah Rusia.
Penurunan harga yang curam pada sesi Selasa mengejutkan beberapa analis.
"Walau laporan perundingan yang menjanjikan (antara Rusia dan Ukraina) akan disambut, sulit untuk melihat bagaimana kedua pihak pada tahap ini akan siap untuk membuat konsesi yang dapat diterima oleh pihak mana pun," kata catatan penelitian dari Kpler.
"Dalam situasi saat ini, sulit untuk melihat bagaimana harga minyak mentah tidak under-priced." Sebut Kpler.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Produk Viva Cosmetics yang Ampuh Atasi Flek Hitam, Harga di Bawah Rp50 Ribu
- Denada Akhirnya Akui Ressa Anak Kandung, Bongkar Gaya Hidup Hedon di Banyuwangi
- 5 Rekomendasi HP Layar AMOLED 120Hz Termurah 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- KUIS: Kalau Hidupmu Jadi Lagu, Genre Apa yang Paling Cocok?
Pilihan
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
Terkini
-
Purbaya Sebut Pihak BEI Temui MSCI Senin, Jamin Pemerintah Tak Ikut Intervensi
-
Seloroh Purbaya Minta Ditraktir Prabowo Jika Ekonomi RI Tembus 6 Persen
-
Rosan Roeslani Tegas Bantah: Tak Ada Rencana Rombak Direksi dan Komisaris Bank Himbara
-
BI Catat Asing Bawa Kabur Dananya Rp 12,40 Triliun dari Pasar Saham
-
Pendampingan PNM Dirasakan Langsung oleh Perempuan Pesisir Kaltim
-
Kampanye Judi Pasti Rugi Makin Masif, Transaksi Judol Anjlok 57 persen
-
Purbaya Bantah Bos BEI dan OJK Ramai-ramai Mundur Gegara Prabowo Marah
-
Saham-saham Milik Konglomerat Terancam Aturan Free Float, Potensi Delisting?
-
Purbaya Pede IHSG Tak Lagi Kebakaran Senin Depan Meski Petinggi BEI dan OJK Mundur
-
Tak Hanya Danantara, Lembaga Keuangan Asing Bisa Jadi Pemegang Saham BEI