Rencananya pada 2025, Indonesia mematok sekitar 23 persen kebutuhan energi nasional dari energi terbarukan. Tren pada fesyen yang ramah lingkungan Kesadaran masyarakat pada produk fesyen yang ramah lingkungan semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini tidak lepas dari isu perubahan iklim yang menjadi perhatian global.
"Saat ini saat kita berbicara mengenai industri fesyen, kita berbicara tentang tren yang paling penting yaitu isu berkelanjutan. Saat ini kita harus menyadari bahwa produksi tekstil dan fesyen dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan keterampilan dan proses efisiensi terhadap sumber daya dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Yaya Winarno Junardi.
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep fesyen berkelanjutan atau ramah lingkungan (sustainable fashion) terus digaungkan oleh para desainer dan brand di seluruh dunia. Hal ini untuk membangun kesadaran pada konsumen mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
"Saat ini konsumen makin sadar pada isu lingkungan, termasuk juga pada apa yang mereka beli dan gunakan,” papar Iwan Kurniawan Lukminto.
Sebagai pelaku industri tekstil, Lukminto memaparkan tantangan lainnya di Indonesia untuk menciptakan iklim fesyen yang bekelanjutan juga ada pada isu keterjangkauan harga produk bagi konsumen. Masalah utama perkembangan industri fesyen yang ramah lingkungan terletak pada perbedaan harga produk.
Dibanding dengan produk fesyen konvensional, produk fesyen yang lebih ramah lingkungan lebih mahal.
Kepada DW Indonesia, Marina Chahboune, pakar bidang CSR dan tekstil berkelanjutan dari Closed Loop Fashion, menyebut industri tekstil harus mampu memahami bahwa murahnya produk yang mereka hasilkan selama ini tidak memperhatikan biaya lainnya, yakni kerusakan lingkungan.
"Harga yang ada pada produk fesyen konvensional bukanlah harga yang seharusnya, karena itu tidak mempertimbangkan harga dari lingkungan dan sosial. Jadi harga yang selama ini kita bayar bukanlah harga produk yang semestinya, itu adalah harga kompensasi rendahnya upah buruh hingga kerusakan lingkungan,” ujar Marina Chahboune.
Potensi dan komitmen Indonesia pada fesyen berkelanjutan Industri tekstil menjadi salah satu dari lima industri prioritas yang ditetapkan pemerintah Indonesia dalam proyek Industri 4.0. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat industri manufaktur Indonesia di Asia Tenggara.
Baca Juga: Makin Banyak Industri Tekstil dan Fashion Beralih ke Kapas Berkelanjutan, Kenapa
Namun, upaya untuk menguasai manufaktur akan terkendala oleh isu lingkungan. Bernard Wern dari Institut für Zukunftsenergie Systeme di Jerman, memaparkan bahwa saat ini banyak bisnis ritel yang menerapkan kebijakan ramah lingkungan. "Merek besar saat ini menerapkan produksi yang tidak lagi menggunakan energi batu bara.
Dan jika industri tekstil di Indonesia tidak berubah, maka ini akan menjadi masalah besar. Karena tidak ada lagi toko ritel yang berminat dengan produk dari Indonesia,” papar Bernard Wern kepada DW Indonesia.
Di sisi lain, Indonesia memiliki banyak potensi di bidang energi terbarukan yang mendukung iklim industri fesyen berkelanjutan. "Generasi selanjutnya harus memulai penggunaan energi terbarukan. Karena Indonesia memiliki potensi itu,” ungkap Bernard Wern.
Kementerian Perindustrian terus memetakan potensi Indonesia untuk mengambil peran dalam industri fesyen yang lebih ramah lingkungan. Saat ini Indonesia memiliki potensi besar pada industri tekstil berkelanjutan dari bahan sitetis.
"Untuk synthetic fiber yang kuat kan di polyester dan rayon. Nah rayon kita kan nomor dua terbesar di dunia. Kita ingin kan rayon bisa menggantikan kapas yang lebih buruk ke lingkungan,” papar Andi Susanto dari Direktorat Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian.
Sementara untuk produk tekstil berbahan polyester, saat ini Indonesia terus mengembangkan bahan polyester yang berasal dari daur ulang plastic berbahan PET (Polietilena tereftalat). "Kita sedang mendorong munculnya industri PET recycle.
Berita Terkait
-
Strategi Baru MA Lawan Korupsi: Gandeng KPK untuk Gembleng 200 Pimpinan Pengadilan
-
Viral Banser Tepis Kasar Tangan Jamaah Ibu-ibu Saat Kawal Ustazah, Wajah Syok Penceramah Disorot
-
Timnas Indonesia Harus Waspada, Chanathip Bertekad Bawa Thailand Juara Piala AFF 2026
-
Iran Tegaskan Persatuan Nasional di Tengah Ketegangan dengan Amerika Serikat
-
Harga LPG 12 Kg Melejit, Pemprov DKI Pantau Inflasi dan Wanti-wanti Tak 'Panic Buying'!
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
BTN Tak Bagikan Dividen, Laba Bersih Ditahan untuk Perkuat Modal
-
Babah Alun Rayakan Kemenangan Gugatan CMNP Terhadap Hary Tanoe dan MNC
-
Berkat Bantuan BI Rupiah Akhirnya Bangkit, Ditutup ke Level Rp 17.228
-
Pemerintah Tangguhkan Ekspor Minyak Mentah, Fokus Kebutuhan Dalam Negeri
-
BRI Consumer Expo 2026 Tawarkan Bunga KPR 1,75% dan Hiburan Meriah
-
Potret Horor Ketimpangan Ekonomi: Harta 50 Triliuner RI Bertambah Rp13,48 Miliar Setiap hari
-
Hari Bumi 2026, Telkom Pertegas Langkah Strategis Menuju Masa Depan Berkelanjutan
-
Kisah Nasabah PNM Mekaar, Ibu Anastasia: Membangun Salon Inklusif dan Gratis untuk ODGJ
-
Sambut Idul Adha, Berkurban Makin Praktis dan Nyaman lewat BRImo, Berikut Langkah-langkahnya
-
Pasang Surut Rupiah Sejak 1998, Kurs Dolar Kembali Mendekati Level Krisis Moneter?