Suara.com - Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan hari Selasa, menjelang pertemuan produsen OPEC Plus pekan ini yang mungkin tidak mengarah pada dorongan lebih lanjut dalam pasokan minyak.
Mengutip CNBC, Rabu (3/8/2022) harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 51 sen, atau 0,5 persen menjadi USD100,54 per barel.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), meningkat 53 sen, atau 0,6 persen menjadi menetap di posisi USD94,42 per barel.
Selain itu, yang memberikan dorongan pada kenaikan harga minyak adalah ekspektasi analis bahwa persediaan minyak mentah Amerika turun sekitar 600.000 barel pekan lalu.
American Petroleum Institute (API), kelompok industri, akan mengeluarkan laporan inventaris Amerika, Selasa, pada pukul 20.30 GMT. Sementara, Badan Informasi Energi (EIA) AS merilisnya Rabu pukul 14.30 GMT.
Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC Plus, bertemu pada Rabu. Dua dari delapan sumber mengatakan kenaikan produksi moderat akan dibahas. Sisanya mengatakan peningkatan tidak mungkin terjadi.
OPEC Plus memangkas perkiraannya untuk surplus pasar minyak tahun ini sebesar 200.000 barel per hari (bph) menjadi 800.000 bph.
"Trader energi semakin yakin bahwa OPEC Plus akan menolak desakan untuk meningkatkan output mereka," kata Edward Moya, analis OANDA.
Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari memicu kekhawatiran tentang pasokan minyak global dan mengirim harga melonjak mendekati rekor tertinggi. Tetapi dengan bank sentral menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan mengimbangi pasokan yang ketat.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik Lagi, Kini Dibandrol USD110/Barel
Survei menunjukkan pabrik-pabrik di seluruh Amerika Serikat, Eropa, dan Asia berjuang untuk mendapatkan momentum pada Juli karena lesunya permintaan global dan pembatasan ketat Covid-19 di China memperlambat produksi.
"Data tersebut tidak melakukan apa pun untuk mengurangi ketakutan akan resesi," kata Tamas Varga, analis PVM.
Juga membebani pasar adalah kekhawatiran bahwa kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan akan meningkatkan ketegangan antara Amerika Serikat dan China. Beijing menempatkan militernya dalam siaga tinggi dan mengatakan akan meluncurkan "operasi militer yang ditargetkan" sebagai tanggapan atas kunjungan tersebut.
Amerika Serikat, sementara itu, memberlakukan sanksi terhadap China dan perusahaan lain yang dikatakan membantu menjual puluhan juta dolar produk minyak dan petrokimia Iran ke Asia Timur.
Selain itu Washington mencoba untuk meningkatkan tekanan pada Teheran untuk mengekang program nuklirnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Hitung-hitungan Kerugian Negara dari Peredaran Rokok Ilegal
-
418 Ribu Penumpang Nikmati Diskon Kapal Feri, Kuota Masih Tersedia
-
Ternyata Kemasan Rokok Polos Melanggar Aturan
-
Prabowo Bakal Luncurkan BBM Baru, Segini Harganya
-
Begini Modus WNA Curi Emas di Wilayah Gunung Botak
-
Kemasan Rokok Polos Berisiko Gerus Penerimaan Negara hingga Puluhan Triliun
-
Patriot Bond Jadi Tempat Pencucian Uang, DPR: Insentif Menarik Investor
-
Berdampak ke Industri Kretek Lokal, Kemenperin Tolak Batas Tar dan Nikotin Rokok
-
Komitmen Penegakan Hukum, BRI Bantul Dukung Pengusutan Korupsi Eks Mantri
-
Kok Bisa ESDM Seenaknya Stop Sementara Ekspor Batu Bara, Ini Alasannya