Rantai pasok (supply chain) yang panjang masih menjadi masalah klasik bagi perusahaan di Indonesia. Salah satu kerugian yang dialami ialah membengkaknya biaya. Untuk menghadapi permasalahan tersebut, maka diperlukan sebuah sistem otomatisasi dalam menjalankan setiap proses di perusahaan.
VP Product Management SiCepat, Reska Donaga mengatakan, saat ini SiCepat terus berevolusi menjadi perusahaan jasa pengiriman barang yang berbasis sistem.
Proses otomasisasi yang saat ini sedang dikerjakan adalah proses sortir barang di gudang. Saat ini, proses sortir atau scan barang masih belum efisien. Ke depan, SiCepat tidak akan menggunakan tangan manusia dalam melakukan sortir barang, tetapi menggunakan teknologi robot.
"Kami sedang membuat hub warehouse. Kita tidak pakai scanner atau jasa manusia, tapi pakai robotik. Kita kepingin yang awalnya satu detik sekali scan, menjadi satu barang hanya milidetik. Jadi bisa mempercepat prosesnya dan membuat biaya lebih efisien," kata Reska.
Country Director Qlik Indonesia, Andreas Nataniel mengatakan, dalam otomisasi rantai pasok akan mudah dilakukan dengan bantuan kecerdasan aktif atau active intelligence.
Terdapat beberapa keuntungan dari active intelligence, mulai dari sisi permintaan barang, pergudangan, menentukan kualitas produk yang dikirim, sampai dari sisi kepuasan konsumen itu sendiri.
"Dari aspek rantai pasok, kelebihan active intelligence bisa dilihat dari berbagai sudut," kata Andreas.
Country Manager ASEAN & HK Aerospike, Sunil Kumar mengungkapkan, perusahaan yang menggunakan kekuatan data secara real-time dapat memenuhi tuntutan ekonomi saat ini.
CTO Sibernetik Integra Data Arief Hasani mengungkapkan, tantangan terbesar dalam menyiapkan infrastruktur untuk supply chain adalah sistem yang resilient lalu sistem yang elastis terkait dengan biaya serta sistem yang responsif.
Baca Juga: Saham Apple Ambruk! Produksi iPhone 14 Tak Jadi Ditambah
“Untuk menjawab tantangan tersebut, kita sekarang sudah punya teknologi yaitu aerospike yang bisa melakukan hal tersebut dalam hitungan milisecond, kami juga punya kemampuan untuk merespon data yang masif tapi juga dashboard analytic yang real time,” jelas Arief.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
-
Lakukan Operasi Senyap di Bea Cukai, KPK Amankan 17 Orang
-
Juda Agung Tiba di Istana Kepresidenan, Mau Dilantik Jadi Wamenkeu?
-
Viral Dugaan Penganiayaan Mahasiswa, UNISA Tegaskan Sanksi Tanpa Toleransi
-
5 HP RAM 8 GB untuk Multitasking Lancar Harga Rp1 Jutaan Terbaik Februari 2026
Terkini
-
BPS Ungkap Dampak Bencana Sumatera pada Perekonomian Indonesia, Begini Penjelasannya
-
Juda Agung Tiba di Istana Kepresidenan, Mau Dilantik Jadi Wamenkeu?
-
Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen, Rupiah Malah Amblas ke Level Rp16.842!
-
COIN Optimistis Pemangkasan Biaya Transaksi CFX Akan Picu Efek Berganda
-
Izin Impor BBM Shell Belum Terbit, ESDM: Masih Dievaluasi!
-
Meski Turun, Jumlah Pengangguran RI Capai 7,35 Juta Orang
-
BPS Sebut Investasi Tumbuh Dua Digit di 2025, Ini Penyebabnya
-
ESDM Pastikan RKAB Batu Bara yang Beredar Hoaks
-
Besok Danantara Mulai 6 Proyek Hilirisasi Rp 97 Triliun
-
Naik TransJakarta Bisa Bayar Pakai GoPay, Begini Caranya