Suara.com - Memiliki asuransi ibarat sedia payung sebelum hujan. Kamu nggak tahu kapan hujan akan turun. Itu sebabnya, sangat disarankan untuk selalu membawa payung di dalam tas supaya kamu tak kebasahan saat hujan tiba-tiba turun.
Dalam hidup, hujan bisa mewakili kondisi sakit atau darurat lainnya, yang bisa membuat kondisi keuangan kamu dan keluarga berantakan. Jika berlangsung dalam jangka waktu lama, bisa-bisa mengganggu tujuan hidup keluarga, seperti pendidikan anak, rencana pensiun, dan lainnya.
Kamu sudah punya asuransi yang melindungi diri dari hal-hal tak terduga? Itu bagus! Tapi, coba cek lagi, deh, apakah asuransi yang sekarang sudah cukup dan sesuai dengan kondisi saat ini?
Ingat, risiko hidup dan penyakit terus bertambah seiring bertambahnya usia dan berubahnya situasi. Apalagi di kondisi pandemi seperti saat ini. Sehingga, tak ada salahnya jika kamu mulai mempertimbangkan untuk membeli asuransi tambahan (rider) kesehatan atau rider lainnya.
Perlu tidaknya menambahkan rider asuransi dan bagaimana memilih rider yang cocok, Head of Health Strategic Business Unit Sequis Mitchell Nathaniel mengatakan pertimbangan awal yang perlu dilakukan oleh pemegang polis adalah mereview polis asuransi yang sudah dimilikinya, yakni memeriksa apakah manfaat yang disediakan masih mumpuni dengan kebutuhan perlindungan pada masa kini dan memperkirakan apakah nantinya masih relevan pada masa mendatang.
“Beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan, misalnya semakin banyak virus dan bakteri serta munculnya penyakit baru yang dapat mengganggu kesehatan. Sebagai contoh pandemi covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 telah menyebabkan jutaan kematian dan menyebabkan gangguan kesehatan jangka panjang sehingga asuransi jiwa dan kesehatan sangat dibutuhkan,” sebut Mitchell dalam keterangan persnya.
Selanjutnya, jika kamu merasa sudah perlu menambahkan manfaat tambahan, Mitchell menyarankan untuk memastikan kondisi keuangan mencukupi untuk membayar premi asuransi tambahan hingga jangka panjang.
Meski sepadan dengan manfaat yang bisa didapat, tapi jangan sampai keuangan keluarga jadi tidak sehat karena membeli rider, ya.
Pertimbangan lain yang disarankan Mitchell adalah soal kondisi kesehatan dan gaya hidup. Misal, kamu nggak punya banyak waktu berolahraga sementara gaya hidupmu juga kurang sehat. Kamu tentu lebih berisiko mengalami penyakit berat.
Baca Juga: Banyak Seleb yang Melakukannya, 4 Bagian Tubuh Ini Ternyata Bisa Diasuransikan, Lho
"Demikian juga mereka yang lebih banyak bekerja di luar kantor dengan mobilitas tinggi tergolong berisiko mengalami kecelakaan. Merasa sehat pun tidak jaminan pasti sehat. Oleh sebab itu, ketahui riwayat penyakit dalam keluarga karena risiko penyakit kritis bisa saja dipengaruhi oleh faktor keturunan,” sebut Mitchell.
Nah, kondisi-kondisi tersebut di atas bisa menjadi pertimbangan buat kamu memutuskan perlu tidaknya menambahkan rider, agar asuransi yang dimiliki dapat lebih optimal memberikan proteksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- 5 Sepeda Lipat yang Ringan Digowes dan Ngebut di Tanjakan
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
Profil Moody's Rating dan Dampaknya Terhadap Bursa Saham Indonesia
-
Panduan Lengkap Cara Daftar Antrian KJP Pasar Jaya 2026 Secara Online
-
Tok! OJK Bekukan Izin Underwriter UOB Kay Hian Sekuritas, Buntut Skandal IPO REAL
-
Pekerja BRI Insurance Galang Dana Mandiri demi Bencana Sumatra
-
Usai 'Dikeroyok' Sentimen Negatif, IHSG Jadi Indeks Berkinerja Paling Buruk di Dunia
-
Pertamina Integrasikan Tiga Anak Usaha ke Sub Holding Downstream
-
PANI Tutup 2025 dengan Pra Penjualan Rp4,3 Triliun, Capai Target 100%
-
Moodys Goyang Outlook 7 Raksasa Korporasi Indonesia: BUMN Mendominasi
-
IHSG Loyo ke Level 7.935 Pekan Ini, Investor Asing Masih 'Buang Barang' Rp11 Triliun
-
MBG Diperlukan Di Tengah Tantangan Ekonomi?