Suara.com - Mobil Jeep Wrangler Rubicon eks Mario Dandy sampai saat ini masih terparkir di Kejaksaan Jakarta Selatan. Hal ini imbas dari belum ada peminat yang menawar mobil tersebut, meski telah dilelang.
Kepala Kejaksaann Negeri Jakarta Selatan, Haryoko Ari Prabowo menyebut, banyak faktor yang membuat orang malas menawar mobil tersebut.
Misalnya, karena harga lelang Rubicon tersebut terlalu tinggi. Selain itu, diduga mobil tersebut viral, sehingga tak ada pihak yang ingin menawar.
Adapun, Mobil berwarna hitam itu dilelang dengan harga limit Rp 89 juta sejak 19 April hingga 26 April. Daro rentang waktu tersebut, baru satu orang yang membayar uang jaminan sebesar Rp 242 juta.
"Ya kita akui bahwa ini kan mobil mungkin orang melihat secara keekonomian bagi orang yang mungkin suka mobil mungkin tidak terlalu bermasalah dengan harga. Cuman ini mobil kita tawarkan dengan harga Rp 800 juta sekian, ya kemungkinan harga itu ketinggian," ujarnya di Jakarta, Jumat (26/4/2024).
Untuk lebih menarik orang ikut lelang, Haryoko bakal menurunkan harga mobil Jeep Rubicon eks Mario Dandy. Namun, harga lelang juga tak akan terlalu murah.
"Tapi coba kita sesuaikan lagi dengan harga pasaran yang lain nanti kita coba cari-cari info lain. Kita masih punya range waktu dan harga. Cuma kita tidak mau menjual mobil ini sembarangan, terlalu murah juga nggak," imbuh dia.
Menurut Haryoko, proses lelang ulang mobil Rubicon ini akan dilakukan segera. Dia menginginkan lelang ini selesai pada maksimal September.
"Secepatnya lah, paling dalam minggu depan kita ajukan lagi, kita umumkan lagi, karena kita juga mengejar supaya ini nggak terlalu lama juga. Maksimal September harus clear, jadi mudah-mudahan aja dengan harga yang kita tawarkan besok banyak peminatnya," pungkas dia.
Baca Juga: Mobil Rubicon Mario Dandy Belum Laku Dilelang, Harga Turun Lagi
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
ESDM Akui Tahan Ekspor Batu Bara Demi PLN, Masalah Pasokan PLTU Terungkap di Tengah Pemadaman
-
Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak
-
Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!
-
Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika
-
Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?
-
Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran
-
Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas
-
Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa
-
Listrik Pulau Jawa Gelap Gulita, Siapa yang Bertanggung Jawab?
-
Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026