Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengusulkan agar Pemerintah menyusun kebijakan untuk memperkuat daya beli kelompok kelas menengah, karena kelompok ini memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian.
“Penguatan daya beli tidak hanya diperlukan bagi kelompok miskin, tetapi juga bagi kelas menengah serta kelompok yang sedang menuju kelas menengah (aspiring middle class),” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (30/8/2024)
Menurut data BPS, kelompok kelas menengah dan yang menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen dari total populasi Indonesia, dengan porsi konsumsi pengeluaran mencapai 81,49 persen dari total konsumsi nasional.
Namun, sejak pandemi COVID-19 pada 2019, jumlah kelas menengah mengalami penurunan, dari 57,33 juta orang (21,45 persen) pada 2019 menjadi 47,85 juta orang (17,13 persen) pada 2024.
Di sisi lain, jumlah kelompok yang menuju kelas menengah meningkat dari 128,85 juta orang (48,20 persen) pada 2019 menjadi 137,50 juta orang (49,22 persen) pada 2024.
Sebagian besar pengeluaran kelompok kelas menengah dan yang menuju kelas menengah dialokasikan untuk makanan dan perumahan. Pengeluaran untuk perumahan meliputi biaya sewa dan perabotan rumah tangga, tidak termasuk cicilan rumah atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Secara umum, proporsi pengeluaran kelas menengah untuk makanan mengalami peningkatan, sementara pengeluaran untuk hiburan dan kendaraan justru menurun.
“Kelompok kelas menengah memiliki peran yang sangat penting sebagai penyangga ekonomi suatu negara. Jika proporsi kelas menengah terlalu kecil, perekonomian menjadi kurang tangguh terhadap guncangan. Oleh karena itu, keberadaan kelas menengah sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi,” jelas Amalia, dikutip dari Antara.
Kelompok kelas menengah terdiri dari individu dengan pengeluaran bulanan antara Rp2.040.262 hingga Rp9.909.844 per kapita pada 2024. Jumlah ini dihitung berdasarkan standar Bank Dunia untuk kelas menengah, yaitu 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan di suatu negara.
Baca Juga: Balada Kelas Menengah: Maju Kena, Mundur Kena, Tak Tahu Mengadu ke Mana
Standar pengeluaran untuk kelas menengah ini meningkat dibandingkan 2019, yang berada pada kisaran Rp1.488.375 hingga Rp7.229.250.
Sementara itu, kelompok yang menuju kelas menengah mencakup individu dengan pengeluaran 1,5 hingga 3,5 kali garis kemiskinan, yaitu antara Rp874.398 hingga Rp2.040.262 pada 2024, dan Rp637.875 hingga Rp1.488.375 pada 2019.
Berita Terkait
-
Dear AQUA dan Le Minerale! Harga Air Galon Kalian Buat Kelas Menengah Jatuh Miskin
-
Nasib Kelas Menengah yang Ekonominya Empot-empotan
-
Ampun! Kondisi Ekonomi Kelas Menengah di RI Empot-empotan
-
Masyarakat Miskin Ekstrem di Indonesia Didominasi Lulusan SD dan Petani
-
Balada Kelas Menengah: Maju Kena, Mundur Kena, Tak Tahu Mengadu ke Mana
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Qavah Group Mau Lipat Gandakan Investasi China ke RI
-
Harga Minyakita di Wilayah Timur Masih Melambung, Kemendag Soroti Kendala Logistik
-
Kadin China Kirim Surat Protes ke Prabowo, Keluhkan Royalti Tambang, RKAB Nikel hingga Satgas PKH
-
Pemerintah Waspadai Lonjakan Harga Gula Pasir, Skema SPHP Diusulkan
-
Siloam Tutup RUPST Tahun Buku 2025, Lanjutkan Pertumbuhan Berkelanjutan Lewat Diferensiasi Arketipe
-
Rupiah Ambruk ke Rp17.500, Pedagang Elektronik Pasar Minggu Ungkap Penjualan Telah Anjlok 50 Persen
-
Paradoks Beras: Stok Melimpah 5,19 Juta Ton, Harga di 105 Daerah Masih Melonjak
-
Rupiah Tembus di Rp17.500, Pedagang Elektronik: Harga Sudah Naik 5 Persen
-
Rupiah Tembus Rp17.528, Harga Laptop dan Ponsel di Mall Ambasador Terancam Melonjak
-
Siap-siap! Dana Rp 31,5 Triliun Bakal Hilang dari Pasar Modal RI