Suara.com - Nasib PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) semakin mengkhawatirkan. Perusahaan tekstil yang pernah menjadi kebanggaan bangsa ini kini berada di ambang kehancuran, mengancam ribuan nasib pekerja.
Informasi terbaru menyebutkan bahwa pabrik Sritex terancam mengalami pemutusan aliran listrik. Hal ini disebabkan oleh pemblokiran rekening perusahaan oleh kurator, yang mengakibatkan ketidakmampuan Sritex untuk membayar tagihan listrik.
Jika hal ini terjadi, maka seluruh aktivitas produksi akan lumpuh total dan ribuan pekerja akan kehilangan mata pencaharian.
"Ini semakin menambah geram kami (buruh) dan suasana akan makin mencekam," kata Koordinator Serikat Pekerja Sritex Group, Slamet Kaswanto dalam keterangannya dikutip Senin (9/12/2024).
Slamet mengatakan selain ancaman pemutusan aliran listrik, para pekerja Sritex juga menghadapi ancaman tidak menerima gaji. Dengan kondisi keuangan perusahaan yang semakin kritis, pembayaran gaji menjadi tidak pasti akibat tidak beroperasinya pabrik karena rekening perusahaan diblokir kurator.
Hal ini tentu saja sangat memukul para pekerja yang menggantungkan hidup dari upah yang mereka terima.
"Karena yang ada di benak mereka, perusahaan pailit adalah pabrik tutup, PHK, pesangon," katanya.
Ketidakpastian nasib Sritex telah menimbulkan kecemasan yang mendalam di kalangan para pekerja. Mereka khawatir akan masa depan mereka dan keluarga mereka. Banyak di antara mereka yang telah bekerja di Sritex selama bertahun-tahun dan telah menganggap perusahaan ini sebagai bagian dari keluarga.
"Hal itu bukanlah pilihan mereka semua, karena sejatinya mereka semua hanya ingin bekerja, terus dalam hubungan kerja, terus gajian untuk mencukupi kebutuhan hidup," tuturnya.
Baca Juga: Cerita Pengguna Jadikan Wuling Cloud EV Sebagai Mobil Keluarga
Pemerintah dan serikat pekerja telah berupaya keras untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi Sritex. Namun, hingga saat ini belum ada titik terang yang terlihat. Serikat pekerja terus mendesak pemerintah untuk turun tangan dan memberikan solusi yang konkret agar nasib para pekerja tidak semakin terpuruk.
"Kami juga ingin menyampaikan kepada pemerintah, untuk lebih serius lagi memikirkan kelangsungan kerja kami," ujar Slamet.
Situasi yang dihadapi Sritex saat ini merupakan cerminan dari krisis yang lebih luas dalam industri tekstil Indonesia. Peningkatan persaingan global, perubahan tren konsumen, dan masalah utang yang menumpuk menjadi beberapa faktor yang menyebabkan banyak perusahaan tekstil kesulitan bertahan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Harga BBM Pertamina Naik Lagi, Pertamax Turbo Hingga Pertamina Dex Melambung
-
SIG Tuntaskan Proyek Rp 1,4 Triliun di Tuban
-
Pemerintah Kasih Kode Harga BBM RON 92 Bisa Naik, Apa Dampaknya?
-
KB Bank Kantongi Laba Operasional Positif Rp9 Miliar pada Kuartal I-2026
-
IHSG Berpotensi Technical Rebound di Tengah Rekor Tertinggi Wall Street
-
Emas Stabil Hari Ini, Saatnya Investasi atau Menunggu? Cek Harga Terbarunya
-
Harga Minyak Dunia Sulit Turun di Tengah Upaya Damai Iran dan AS
-
Harga Emas Batangan Bisa Tembus Rp 3,3 Juta Hingga Kuartal II-2026
-
PHK Massal di IHT Bisa Terjadi Gegara Kebijakan Ini
-
Pemerintah Dorong Pengusaha Terlibat Industri Hiilirisasi Kelapa