Suara.com - Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menyerukan ketenangan bagi investor dalam menyikapi gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di perdagangan Selasa (9/4/2025) setelah libur panjang Lebaran. Ia mengingatkan agar pelaku pasar tidak terjebak dalam reaksi berlebihan meskipun indeks terkoreksi tajam di awal sesi.
"Jangan bereaksi panik berlebihan. Fluktuasi pasar terjadi karena persepsi kolektif pelaku pasar dalam menilai sentimen yang ada. Naik-turunnya IHSG dan saham-sahamnya ditentukan oleh tindakan investor, bukan semata-mata oleh sentimen negatif," jelas Reza dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip via Antara pada Selasa (8/4/2025).
IHSG Tertekan Kebijakan Donald Trump
Pembukaan perdagangan hari ini mencatat pelemahan signifikan IHSG, yang turun 596,33 poin (9,16%) ke level 5.914,28. Indeks LQ45—kelompok 45 saham unggulan—juga anjlok 92,61 poin (11,25%) ke 651,90. Koreksi ini terjadi menyusul tekanan global akibat kebijakan tarif resiprokal (timbal balik) AS yang digagas Presiden Donald Trump.
Kebijakan kontroversial Trump tersebut, yang akan memberlakukan tarif impor hingga 50% terhadap China mulai 9 April 2025, telah memicu ketidakstabilan di pasar keuangan dunia. Langkah ini merupakan respons terhadap kenaikan tarif balasan China sebesar 34%, yang dinilai Trump sebagai "tindakan tidak adil". Namun, banyak ekonom mengkritik kebijakan ini karena berpotensi memicu perang dagang skala penuh dan merusak pemulihan ekonomi global.
Reza menekankan bahwa tidak semua sentimen negatif global berdampak langsung pada fundamental emiten domestik. Ia menyarankan investor ritel untuk lebih selektif dan tidak terburu-buru mengambil keputusan emosional.
"Bagi yang masih ragu, instrumen berisiko rendah seperti reksa dana pasar uang atau obligasi bisa menjadi alternatif sementara waktu," tambahnya.
Analis memprediksi volatilitas akan terus berlanjut seiring ketegangan AS-China. Namun, beberapa saham dengan fundamental kuat diperkirakan mampu bertahan dan bahkan menjadi peluang buy on weakness. Investor disarankan untuk:
- Fokus pada emiten dengan kinerja kuartalan solid – terutama di sektor konsumsi, perbankan, dan komoditas yang relatif lebih tahan gejolak.
- Memantau perkembangan kebijakan perdagangan – termasuk respons Bank Sentral AS (The Fed) dan otoritas Indonesia dalam menstabilkan pasar.
- Memanfaatkan diversifikasi portofolio – mengurangi eksposur berlebihan ke saham yang sangat terdampak tarif, seperti manufaktur dan ekspor.
Kebijakan tarif Trump menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk pelaku bisnis AS yang khawatir akan dampak jangka panjang terhadap rantai pasok dan inflasi. Beberapa analis bahkan menyebut langkah ini sebagai "bumerang" yang justru bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi AS sendiri.
Baca Juga: Perang Dagang Memanas Gegara Trump! Bursa Asia Runtuh, IHSG Ikut Tertekan?
Sementara itu, otoritas China telah menyatakan siap mengambil tindakan lebih lanjut jika tarif Trump benar-benar diterapkan, termasuk pembatasan ekspor langka bumi dan produk teknologi strategis.
“Bagi yang belum mau ikut, gak apa-apa wait and see dulu dan bisa sementara masuk ke instrumen fixed income maupun reksa dana pasar uang. Namun, tetap optimis kita semua bisa melalui badai ini dengan baik. Bukan malah membuat pelaku pasar lainnya tambah panik,” tuturnya.
Dengan kondisi global yang tengah bergejolak, pelaku pasar lokal diharapkan mampu menjaga optimisme dan berkontribusi dalam menjaga stabilitas pasar.
“Sebagai pelaku pasar yang masih cinta dengan IHSG, mari kita angkat IHSG demi kebaikan portofolio bersama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya kemungkinan segelintir pihak yang justru berharap IHSG jatuh dalam guna memanfaatkan momentum untuk masuk ke pasar di harga murah.
“Apakah memang banyak yang berharap akan terjadi demikian? Di tengah kondisi kusut seperti ini, kenapa banyak yang berharap terjadinya ARB (auto rejection bawah) dan halt trading, alih-alih memberikan harapan dan optimisme ke para pelaku pasar? Atau memang ada oknum pelaku pasar yang benar-benar berharap terjadinya ARB sehingga bisa ‘serok’ harga lebih rendah lagi,” kata dia.
Berita Terkait
-
IHSG Trading Halt, Daftar Harga Saham yang Ambruk Pagi Ini
-
Turun 9 Persen, BEI Bekukan Sementara Perdagangan IHSG
-
Imbas Tarif Impor Trump, IHSG Turun 9,16 Persen di Pembukaan Perdana Usai Libur Lebaran
-
Tarif Impor Trump Mengancam, Analis Ungkap Dampak Terhadap IHSG
-
Perang Dagang Memanas Gegara Trump! Bursa Asia Runtuh, IHSG Ikut Tertekan?
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
IBOS EXPO 2026 Siap Digelar Awal Tahun, Buka Peluang Bisnis dan Dorong Pertumbuhan Wirausaha
-
Lowongan Magang Bank BTN Terbaru Januari 2026, Terbuka untuk Semua
-
BRI Peduli Dukung Komitmen Kelola Sampah Modern Melalui Dukungan Operasional
-
Kementerian PU Bangun Sekolah Rakyat Tahap II di 104 Lokasi
-
Tak Cuma Impor Solar, Impor Avtur Juga Akan Dihentikan
-
Purbaya Buka Opsi Diskon Tarif Listrik untuk Korban Banjir Sumatra
-
Kementerian PU Targetkan 1.606 Unit Huntara di Aceh-Tapanuli Rampung Sebelum Ramadhan
-
RDMP Balikpapan Alami Hambatan, Bahlil Tuding Ada Pihak Tak Suka RI Swasembada Energi
-
Harga Emas dan Perak Meroket Usai Sengketa Trump vs The Fed Makin Memanas
-
Bahlil: Hanya Prabowo dan Soeharto Presiden yang Resmikan Kilang Minyak