- Ketidakpastian politik AS akibat sengketa Trump-The Fed memicu kenaikan harga emas dan perak pada 12 Januari 2026.
- Ketua The Fed, Jerome Powell, diselidiki kriminal oleh Departemen Kehakiman terkait biaya renovasi gedung The Fed.
- Powell meyakini penyelidikan ini merupakan intimidasi politik karena menolak tekanan Trump untuk menurunkan suku bunga acuan.
Suara.com - Ketidakpastian politik di Amerika Serikat telah memicu kepanikan investor global, yang berujung pada lonjakan drastis harga aset aman (safe-haven).
Pada perdagangan Senin (12/1/2026), harga emas dunia melesat 1,4% ke level USD 4.572,36 per ons, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD 4.600,33.
Tak hanya emas, harga perak juga mencetak sejarah baru dengan menyentuh rekor USD 84,58 per ons sebelum terkoreksi tipis ke level USD 83,26.
Eskalasi harga logam mulia ini merupakan respons langsung pasar terhadap sengketa tajam antara administrasi Presiden Donald Trump dengan bank sentral.
Kondisi ini diperparah oleh sentimen global akibat ketegangan yang masih berlanjut di Iran, sehingga membuat pelaku pasar mengalihkan modal mereka ke komoditas yang dinilai lebih stabil di masa krisis.
Puncak dari kegaduhan ini terjadi ketika Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, mengonfirmasi bahwa dirinya kini menjadi subjek penyelidikan kriminal oleh jaksa penuntut federal.
Melalui pernyataan resminya pada hari Minggu, Powell mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS telah melayangkan somasi (subpoena) serta mengancam akan mengeluarkan dakwaan pidana.
Secara formal, otoritas hukum membidik kesaksian Powell di hadapan Senat terkait proyek renovasi gedung-gedung Federal Reserve, termasuk Eccles Building dan 1951 Constitution Avenue.
Proyek modernisasi bangunan dari era 1930-an tersebut menuai kritik tajam dari Donald Trump karena pembengkakan biaya yang diklaim mencapai USD 3,1 miliar—jauh melampaui estimasi awal The Fed yang sebesar USD 2,5 miliar.
Baca Juga: Sinopsis Greenland 2: Migration, Kisah Perjuangan Keluarga Garrity Bertahan Hidup di Bumi yang Kacau
Meski berkedok sengketa biaya bangunan, Jerome Powell secara terbuka menyebut langkah hukum ini sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya (unprecedented).
Ia meyakini bahwa penyelidikan ini merupakan bentuk intimidasi karena dirinya menolak tekanan Trump untuk menurunkan suku bunga demi kepentingan politik jangka pendek.
"Hal ini menegaskan apakah The Fed akan mampu terus menetapkan suku bunga berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi, atau apakah kebijakan moneter justru akan dipengaruhi oleh tekanan atau intimidasi politik," tegas Powell sebagaimana dikutip dari BBC.
Ia memperingatkan bahwa masa depan ekonomi AS akan sangat berbahaya jika bank sentral kehilangan objektivitasnya akibat tekanan eksekutif.
Langkah Departemen Kehakiman yang dianggap sebagai "perpanjangan tangan" politik ini menuai kecaman dari Capitol Hill. Senator Partai Republik, Thom Tillis, mengancam akan memblokir setiap kandidat pengganti Powell yang diajukan Trump hingga masalah hukum ini selesai.
Ia mempertanyakan kredibilitas Departemen Kehakiman yang dianggap telah kehilangan independensinya.
Sikap lebih keras datang dari Senator Demokrat, Elizabeth Warren. Ia menuduh Donald Trump sedang melakukan upaya pengambilalihan korup (corrupt takeover) terhadap sistem moneter nasional.
Menurut Warren, Trump sengaja mengkriminalisasi Powell agar bisa menempatkan sosok yang mudah dikendalikan sebagai pimpinan bank sentral yang baru.
Analisis Pasar: Tekanan yang Tidak Berdasar?
April Larusse, kepala spesialis investasi di Insight Investment, menilai bahwa serangan terhadap The Fed sebenarnya tidak memiliki landasan ekonomi yang kuat.
Meskipun Trump menginginkan suku bunga rendah untuk memacu pertumbuhan, inflasi yang masih membayangi masyarakat kelas menengah ke bawah tetap memerlukan kebijakan moneter yang hati-hati.
Dalam wawancara terbarunya dengan NBC News, Donald Trump tetap pada posisinya dengan mengkritik kinerja Powell. "Dia jelas tidak terlalu bagus di Federal Reserve, dan dia juga tidak terlalu bagus dalam proyek gedung," sindir Trump.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Satu Rumah Dihuni 10 Orang, Pemerintah Bedah 82 Hunian di Menteng Tenggulun
-
Proyek Percontohan Gentengisasi Prabowo Disorot, Kontraktor Jujur: Bukan Genteng, Kita Pakai Spandek
-
Kantongi Sertifikat, Pertamina Bisa Jual Avtur dari Minyak Jelantah Secara Global
-
RI-India Mau Kembangkan Industri Logam
-
Nasib THR Ojol Akan Ditentukan Selasa Pekan Depan
-
MKBD Tembus Rp 1 Triliun, KISI Perkuat Fundamental di Tengah Persaingan Sekuritas
-
Jangan Kehabisan! Penukaran Uang Baru BI Mulai Besok, Wajib Daftar Online Dulu
-
Krisis Batu Bara Ancam PLTU, Pasokan Listrik Aman?
-
Setoran Pajak Kripto Tembus Rp1,93 Triliun, PMK Baru Jadi Angin Segar Exchange Lokal
-
Kemenperin Bantah Industri Tahan Produksi Usai Kesepakatan Tarif RI-AS