Suara.com - Kekayaan Elon Musk kembali merosot akibat perseteruannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Orang terkaya di dunia itu menderita kerugian 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp193 triliun hanya dalam satu hari.
Lantaran, anjloknya saham Tesla paada 1–2 Juli 2025 ini memengaruhi keuntungannya. Penurunan besar dalam kekayaan bersihnya sebagian besar dipicu oleh harga saham Tesla yang merosot tajam, menyusul meningkatnya perselisihan publik dengan Presiden Donald Trump.
Menurut Indeks Miliarder Bloomberg, kekayaan Musk turun dari sekitar 367 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.982 triliun menjadi 355 miliar dolar AS atau sekitar Rp5.786 triliun. Penurunan satu hari sebesar 3,3 persen menjadikannya kerugian kekayaan pribadi terbesar kedua dalam sejarah manusia.
Penurunan tajam kekayaan bersih Elon Musk terjadi setelah saham Tesla anjlok 6–7 persen pada 1 Juli 2025. Penurunan tersebut menyusul ancaman publik Donald Trump untuk mencabut kredit pajak kendaraan listrik (EV) federal Tesla, yang diperkirakan bernilai 2,8 miliar dolar AS. Serta memutus kontrak pemerintah SpaceX, yang bernilai 22 miliar dolar AS, jika Musk tidak mengurangi kritiknya terhadap undang-undang yang didukung Trump.
Pertikaian politik berisiko tinggi ini mengguncang investor dan menyeret turun kapitalisasi pasar Tesla sekitar 150 miliar dolar AS. Karena Musk memiliki saham besar di Tesla, penurunan tersebut menghapus 12 miliar dolar AS dari kekayaan pribadinya hampir seketika.
Musk tidak asing dengan fluktuasi kekayaan yang besar. Hanya beberapa minggu sebelumnya, pada 6 Juni 2025, ia kehilangan 33,9 miliar dolar AS dalam satu hari setelah momen panas lainnya dalam perseteruan yang sedang berlangsung dengan Trump menyebabkan penurunan 14 persen dalam harga saham Tesla.
Meskipun penurunan 12 miliar dolar ASbaru-baru ini lebih kecil dibandingkan sebelumnya, penurunan tersebut masih menjadi salah satu kerugian kekayaan terbesar dalam satu hari dalam sejarah. Kekayaan Musk sangat sensitif terhadap pergerakan saham Tesla, dan ketidakpastian politik saat ini telah memperkuat volatilitas tersebut.
Sebagai informasi, usai pecah kongsi dengan Donald Trump, Musk telah menetapkan pikirannya untuk memulai usaha baru: Mendirikan partai politiknya sendiri.
Saat keretakan hubunganna dengan Presiden AS Donald Trumpini terus terpampang nyata di depan publik, Elon Musk kembali melampiaskan penentangannya terhadap apa yang disebut "Big Beautiful Bill," - sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak dan belanja, yang menurutnya akan merusak mantra efisiensi yang ingin ditanamkannya di Washington.
Baca Juga: Elon Musk Ogah Bayar Pajak Baru Buatan Presiden Trump
Musk bahkan memperingatkan anggota parlemen kubu Republik yang meloloskan RUU tersebut bahwa ia akan mencalonkan kandidat melawan mereka dalam pemilu pendahuluan tahun depan. Dia juga mengancam sistem dua partai AS yang lebih luas dengan janji akan membentuk faksi sendiri.
"Jika RUU belanja yang gila ini disahkan, Partai Amerika akan dibentuk keesokan harinya," tulisnya di X. "Negara kita membutuhkan alternatif untuk unipartai Demokrat-Republik, sehingga rakyat benar-benar memiliki Suara."
Partai ketiga yang benar-benar kompetitif akan menjungkirbalikkan dominasi Demokrat-Republik selama lebih dari satu abad di semua tingkat pemerintahan.
Tapi meskipun ada puluhan partai kecil yang sudah ada di seluruh AS selama puluhan tahun, sangat sedikit yang benar-benar mendekati atau bisa menyaingi dominasi dua partai besar itu.
Partai Libertarian, yang didirikan pada tahun 1971, adalah yang terbesar ketiga di Amerika. Berkampanye untuk pasar bebas, pemerintahan kecil, dan kebebasan pribadi. Partai ini memiliki kinerja pemilihan presiden terbaiknya pada tahun 2016 dengan kandidat Gary Johnson, yang memenangkan 3,27 persen suara nasional.
Namun, angka itu jauh dari puluhan juta suara yang dibutuhkan untuk memenangkan Gedung Putih, jabatan gubernur, atau bahkan kursi legislatif negara bagian.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
- 4 Zodiak yang Diprediksi Hidup Lebih Tenang dan Damai di Akhir Juli 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Bentrok Maut di Menteng Diduga Gara-gara Beli Nasi Uduk Tapi Ogah Bayar
-
Peringatan Hari Mangrove Sedunia, 15 Ribu Bibit Pohon Disebar di Batu Lumbang Tahura Ngurah Rai
-
5 Weton Paling Sakral dan Sakti, Punya Kekuatan Terpendam Menurut Primbon Jawa
-
9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
-
Kaesang Maju di Dapil Puan, Ganjar: Silakan, Saya Masih Yakin Jateng Kandang Banteng!
-
Bertabur Bintang Beken, 5 Drakor Adaptasi Webtoon Ini Malah Anjlok di TV Korea
-
Update Bentrok Berdarah di Menteng: Satu Korban Meninggal di RSCM, Lainnya Kritis
-
Kronologi Duel Remaja Viral di Palembang, Fakta Baru Terungkap setelah Polisi Turun Tangan
-
Kronologi Bentrok Berdarah di Menteng: 2 Orang Terluka, 3 Ditangkap Polisi
-
Soroti Kasus Pria Tewas usai Dituding Curi Ayam, Hasto: Kontras dengan Kasus Jampidsus