- COCO melakukan diversifikasi strategis ke lini produk kakao setengah jadi.
- Pengembangan produk turunan kakao ini mencakup cocoa butter, cocoa cake, cocoa powder, dan cocoa mass.
- Data BPS 2022 menunjukkan, meskipun Indonesia adalah salah satu produsen kakao terbesar di dunia, negara ini masih mencatat impor kakao yang tinggi.
Suara.com - PT Wahana Interfood Nusantara Tbk. (COCO), pemilik merek Win & Co., mengambil langkah berani dengan melakukan diversifikasi strategis ke lini produk kakao midstream (setengah jadi).
Inisiatif ini menandai upaya perusahaan untuk tidak hanya memperluas pasokan bahan baku, tetapi juga memperkuat daya saingnya di kancah global yang bernilai puluhan miliar dolar.
Pengembangan produk turunan kakao ini mencakup cocoa butter, cocoa cake, cocoa powder, dan cocoa mass.
Direktur Utama Win & Co., Sugianto Soenario, menegaskan optimisme perusahaan. "Kami percaya bahwa ekspansi ke midstream cocoa merupakan langkah tepat untuk menjadikan Win & Co. sebagai trusted cocoa partner di tingkat nasional maupun internasional," ujar Sugianto.
Langkah Win & Co. didukung oleh data pasar yang sangat menjanjikan. Merujuk pada riset global Towards FnB, tren konsumsi produk turunan kakao di seluruh dunia diperkirakan akan melonjak dari USD26,59 miliar (sekitar Rp433 triliun) pada tahun 2025 menjadi sekitar USD45,70 miliar (sekitar Rp745 triliun) pada tahun 2034.
Meskipun saat ini pasar global didominasi Eropa, yang merupakan pusat impor dan pengolahan kakao, potensi pertumbuhan terbesar justru ada di Asia-Pasifik, yang merupakan konsumen besar produk olahan seperti biskuit dan es krim. Secara jenis produk, cocoa powder masih memimpin, namun cocoa butter diprediksi akan menjadi bintang dengan pertumbuhan tercepat.
Ekspansi ini juga menjadi jawaban atas ironi di pasar domestik. Data BPS 2022 menunjukkan, meskipun Indonesia adalah salah satu produsen kakao terbesar di dunia, negara ini masih mencatat impor kakao yang tinggi, mencapai 133 ribu ton.
Jika tidak ada aral melintang produksi midstream cocoa ini direncanakan akan dimulai pada Kuartal IV 2026. Perusahaan akan fokus pada segmen B2B (Business-to-Business) yang masih mendominasi pasar, sambil memanfaatkan platform digital untuk segmen B2C. Langkah ini sejalan dengan agenda pemerintah untuk mendorong ekspor produk bernilai tambah dan meningkatkan ketahanan industri pangan nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Dongkrak Ekonomi Lokal, SIG Tebar 292 Hewan Kurban di Momen Iduladha
-
Perusahaan Raksasa Ramai 'Tinggalkan' AI Gegara Biaya Mahal, Kecerdasan Buatan Terancam?
-
BEI Intensif Bertemu MSCI dan FTSE, Bahas Status Pasar Modal Indonesia
-
Bank Mandiri Bukukan Kinerja Kinclong, Kredit dan Aset Tumbuh Double Digit
-
Harga Minyak Dunia Naik Lagi Gegara AS Serang Iran, Dekati Level USD 100
-
Mendag Bertemu Perwakilan e-commerce Bahas Revisi Permendag Nomor 31 Tahun 2023
-
Investor Kripto Dinilai Sudah Matang dan Tak Cuma FOMO
-
Menkeu Optimistis Pendapatan Negara Capai Target, Coretax Dinilai Sudah Menunjukkan Hasil
-
Menkeu Purbaya Heran Rupiah Melemah Terus: Enggak Masuk Akal
-
Luhut Sebut Bea dan Cukai Tak Diperlukan Lagi, Purbaya Beri Jawaban