- Harga minyak dunia melonjak mendekati level tertinggi 7 bulan akibat tensi militer AS-Iran.
- Potensi gangguan pasokan global hantui pasar jika diplomasi nuklir di Jenewa menemui jalan buntu.
- Stok minyak AS melonjak 11,43 juta barel, menahan laju kenaikan harga di tengah ancaman perang.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan Rabu (25/2/2026). Sentimen pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi motor utama yang mengerek harga emas hitam ini mendekati level tertingginya dalam tujuh bulan terakhir.
Mengutip data Reuters, harga minyak mentah Brent merangkak naik 45 sen atau 0,64 persen ke level USD 71,22 per barel pada pukul 08.40 WIB. Setali tiga uang, minyak mentah WTI AS juga terapresiasi 0,64 persen atau 42 sen ke posisi USD 66,05.
Pasar energi global saat ini dalam posisi siaga satu. Ketegangan meningkat setelah Washington mengerahkan kekuatan militer ke Timur Tengah guna menekan Teheran agar mau duduk di meja perundingan terkait program nuklir dan rudal balistiknya.
Kekhawatiran utama pelaku pasar adalah terputusnya rantai pasok dari Iran, yang notabene merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC. Jika eskalasi militer benar-benar terjadi, stabilitas suplai dari negara-negara tetangga di kawasan Teluk pun ikut terancam.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa kesepakatan masih mungkin dicapai dalam pertemuan di Jenewa hari Kamis besok, asalkan diplomasi diprioritaskan. Namun, batu sandungan besar ada pada syarat "zero enrichment" (nol pengayaan nuklir) yang diajukan AS.
"Presiden Trump telah memperingatkan akan ada 'konsekuensi buruk' tanpa kesepakatan. Pertanyaannya, apakah konsesi Iran mampu memenuhi garis merah AS?" ujar Tony Sycamore, Analis IG.
Di sisi lain, Iran dilaporkan mulai "mempertebal" pertahanan dengan menggandeng Tiongkok untuk pengadaan rudal penjelajah anti-kapal. Langkah ini diprediksi akan meningkatkan daya gempur Teheran terhadap armada angkatan laut AS yang kini mengepung pesisir Iran.
Meski dibayangi sentimen perang, kenaikan harga minyak sedikit terganjal oleh data internal AS. American Petroleum Institute (API) melaporkan adanya lonjakan stok minyak mentah AS yang cukup fantastis, yakni sebesar 11,43 juta barel.
Angka ini mengonfirmasi adanya kondisi over-supply di pasar global, meskipun stok bensin dan distilat seperti solar menunjukkan penurunan. Kini, mata dunia tertuju pada pidato State of the Union Presiden Donald Trump Selasa malam waktu setempat untuk melihat arah kebijakan strategis AS selanjutnya.
Baca Juga: Profil Jasper Jeffers, Jenderal yang Ditunjuk Amerika Serikat Pimpin ISF di Gaza
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Menkeu Purbaya Heran Rupiah Melemah Terus: Enggak Masuk Akal
-
Luhut Sebut Bea dan Cukai Tak Diperlukan Lagi, Purbaya Beri Jawaban
-
Harga BBM Subsidi Tak Naik, Kepercayaan Industri RI Langsung Melesat
-
Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56
-
Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?
-
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
-
Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis
-
Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama
-
Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital
-
Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok