- Harga emas mencapai USD 5.200 per ons; analis memproyeksikan target USD 6.750 pada Oktober 2026.
- Peran emas telah berevolusi menjadi lindung nilai sistemik karena rapuhnya fiskal dan ketegangan politik global.
- Permintaan investasi solid didorong bank sentral negara berkembang, meskipun terdapat potensi hambatan dari kondisi geopolitik.
Suara.com - Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya dengan merangkak ke level USD 5.200 per ons.
Meski angka ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) pada Januari lalu yang sempat menyentuh USD 5.600, para analis menilai fase konsolidasi saat ini bukan merupakan akhir dari tren kenaikan.
Nicky Shiels, Kepala Riset dan Strategi Logam di MKS PAMP, mengungkapkan bahwa jika merujuk pada standar historis, siklus bull market saat ini sebenarnya masih tergolong "muda".
Dalam laporan terbarunya, Shiels membandingkan lima siklus kenaikan emas dalam 50 tahun terakhir untuk memproyeksikan arah harga ke depan.
Siklus penguatan emas saat ini tercatat telah berjalan selama 39 bulan. Dalam periode tersebut, emas telah melonjak lebih dari 200%, perak naik sekitar 350%, sementara indeks Dolar AS melemah sebesar 13%.
"Secara historis, ini adalah profil performa siklus menengah (mid-cycle). Jika emas mengikuti rata-rata durasi dan performa siklus masa lalu, hal itu mengimplikasikan target harga sebesar USD 6.750 per ons pada Oktober mendatang, bertepatan dengan pemilihan sela di Amerika Serikat," jelas Shiels, dilansir via Kitco pada Kamis (26/2/2026).
Berbeda dengan siklus sebelumnya yang hanya didorong oleh suku bunga rendah dan ketidakpastian ekonomi, Shiels menyoroti adanya pergeseran struktural global yang membuat peran emas berevolusi:
- Rapuhnya Fiskal Global: Beban utang yang melonjak dan defisit yang persisten menciptakan kondisi "dominasi fiskal" yang lebih parah dibanding siklus masa lalu.
- Polarisasi Politik: Ketegangan politik di AS dan ketimpangan kekayaan global yang melebar memperkuat posisi emas sebagai pelindung nilai.
- Kekuatan Ekonomi China: Munculnya China sebagai kekuatan ekonomi raksasa memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap pasar komoditas dibandingkan Uni Soviet di era 70-an atau 80-an.
Fenomena ini membuat emas melepaskan korelasi tradisionalnya dengan suku bunga riil dan bertransformasi menjadi alat lindung nilai terhadap sistem keuangan secara luas (hedge to the system).
Permintaan investasi tetap solid dengan bank sentral negara berkembang (Emerging Markets) sebagai jangkar utamanya.
Baca Juga: Kilau Emas Antam Makin Gila! Terbang ke Rp3 Juta Hari Ini
Shiels mencatat adanya potensi akumulasi besar-besaran karena cadangan emas 20 negara berkembang teratas saat ini hanya sekitar 7.500 ton.
Untuk mencapai standar negara maju (G10), dibutuhkan tambahan sekitar 14.500 ton lagi—atau setara dengan enam tahun total pasokan produksi tahunan dunia.
Di sisi ritel, pasar semakin terdiversifikasi. Tingginya minat fisik terlihat dari masifnya penjualan emas di ritel besar seperti Costco, hingga munculnya token digital berbasis emas. Kepemilikan fraksional ini memungkinkan pool modal yang lebih luas untuk berpartisipasi di pasar logam mulia.
Meski prospeknya cerah, Shiels memperingatkan beberapa faktor yang dapat menghambat laju emas, antara lain:
- Perbaikan kondisi geopolitik yang signifikan.
- Penguatan Dolar AS yang berkelanjutan (saat ini pelemahan dolar baru mencapai 13%, masih ada ruang untuk melemah lebih dalam).
- Perubahan drastis pada kebijakan fiskal AS yang lebih disiplin.
Sebagai catatan tambahan, Shiels memprediksi emas akan terus mengungguli perak (outperform). Mengingat laju kenaikan perak saat ini menyerupai siklus 2008-2011, ia menilai perak justru sudah mendekati fase akhir siklus penguatannya.
Berita Terkait
-
Emas Antam Tiba-tiba Anjlok Tajam, Tapi Masih Dibanderol Rp 3 Juta/Gram
-
Harga Emas Pegadaian Rabu 25 Februari 2026, Galeri 24 Lebih Murah dari UBS
-
Emas Antam Meroket Lagi, Harganya Dipatok Rp 3.068.000/Gram
-
Harga Bitcoin Terkapar dan Sulit Bangkit, Emas Kembali Jadi Primadona
-
Harga Emas Galeri 24 dan UBS Naik di Pegadaian Hari Ini 24 Februari 2026
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Pabrik Melamin Pertama dan Terbesar RI Resmi Dibangun di Gresik, Nilai Investasi Rp 10,2 T
-
Menko Airlangga Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Lebihi 5,3 Persen
-
Investor Global Proyeksi Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Perang AS vs Iran, Ini Buktinya
-
Makin Diakui di Kancah Global, Pegadaian Raih "The Asset Triple A di Hong Kong
-
IHSG 'Ngamuk' Meroket ke Level 7.600
-
Purbaya Pamer Kondisi Ekonomi RI ke Investor AS, Minta Tak Ragu Investasi
-
Gawat! Mayoritas Pengusaha RI Ogah Tambah Karyawan
-
Hati-Hati Penipuan! Pendaftaran Agen LPG 3 Kg Tidak Dipungut Biaya
-
Rekor Buruk Rupiah Hari Ini
-
Percepat KPR, BTN Integrasikan Proses Lewat Satu Sistem Terpusat