Bisnis / Keuangan
Rabu, 04 Maret 2026 | 06:55 WIB
Ferry Irwandi dalam program Q&A Metro TV (Instagram/irwandiferry)
Baca 10 detik
  • Ferry Irwandi menyoroti masyarakat Indonesia berorientasi spekulasi jangka pendek daripada memahami fundamental teknologi blockchain.
  • Indodax menilai industri kripto nasional memasuki fase konsolidasi, fokus bergeser ke tata kelola dan penguatan kepercayaan publik.
  • Mukhamad Misbakhun menegaskan negara memfasilitasi inovasi kripto di bawah pengawasan OJK melalui kerangka perlindungan konsumen.

Suara.com - CEO Malaka sekaligus kreator konten Ferry Irwandi menyoroti tantangan utama industri kripto Indonesia yang menurutnya bukan hanya soal volatilitas pasar, melainkan pola pikir masyarakat yang masih berorientasi spekulasi jangka pendek.

Ia menilai narasi yang berkembang saat ini masih didominasi hype dan pencarian keuntungan instan, sehingga mengaburkan pemahaman terhadap nilai fundamental teknologi blockchain.

“Tantangan utamanya adalah masyarakat masih menjadikan kripto sekadar alat spekulasi dan mencari sinyal profit instan, mengabaikan inovasi blockchain di baliknya," ujar Ferry Irwandi.

"Karenanya, tugas influencer bukan cuma menjual narasi manis dan probabilitas profit, tapi wajib mengedukasi fundamental dan manajemen risiko di pasar yang volatil ini," imbuhnya.

Forum diskusi dalam gelaran Indodax 12th Years Anniversary:On Chain, Forever Forward. (Dok. Indodax)

Menurut Ferry, peran influencer dan figur publik menjadi krusial dalam membangun ekosistem yang lebih sehat melalui edukasi yang berimbang dan bertanggung jawab.

Industri Kripto Masuki Fase Konsolidasi

Pandangan tersebut sejalan dengan refleksi Indodax yang kini memasuki usia ke-12. Perusahaan menilai industri kripto nasional telah bergerak menuju fase konsolidasi dan pendewasaan.

Jika pada satu dekade awal fokus utama berada pada pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi, kini perhatian mulai bergeser pada tata kelola, literasi, perlindungan konsumen, serta keberlanjutan ekosistem.

CEO Indodax, William Sutanto, menyampaikan bahwa tantangan industri saat ini bukan lagi sekadar membangun kesadaran, tetapi memperkuat kepercayaan publik.

Baca Juga: Legislator Minta Polri Agar Usut Pengancaman Terhadap Ibu Almarhum Nizam Syafei

“Memasuki tahun ke-12, kami melihat industri kripto Indonesia mulai memasuki fase konsolidasi dan pendewasaan," tutur William.

"Tantangannya bukan lagi soal membangun awareness, tetapi bagaimana membangun kepercayaan jangka panjang melalui tata kelola yang kuat, edukasi berkelanjutan, serta kolaborasi erat dengan regulator dan komunitas,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa penguatan keamanan dan transparansi menjadi prioritas utama.

“Tahun ini kami memprioritaskan penguatan keamanan dengan meningkatkan investasi pada IT security. Sejalan dengan itu, kami juga menaikkan standar transparansi, salah satunya melalui publikasi Proof of Reserves sebagai bentuk komitmen keterbukaan kepada member," ungkap alumnus Binus University itu.

"Langkah ini kami lakukan untuk memastikan kepercayaan publik tetap terjaga dalam berbagai siklus pasar, sehingga member dapat bertransaksi dengan aman, nyaman, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Dukungan Regulasi dan Peran Negara

Load More