- Pasar saham AS merosot tajam pada Selasa (3/3/2026) karena investor khawatir konflik Timur Tengah memicu inflasi energi berkepanjangan.
- Konflik meningkat setelah serangan Israel-AS di Iran memicu ancaman terhadap infrastruktur energi vital Selat Hormuz.
- Presiden Trump merespons dengan menjamin asuransi risiko politik dan kesiapan Angkatan Laut mengawal kapal tanker di Teluk.
Suara.com - Pasar saham Amerika Serikat ditutup merosot tajam pada perdagangan Selasa (3/3/2026) waktu setempat.
Para investor mulai menunjukkan kekhawatiran mendalam bahwa konflik bersenjata di Timur Tengah akan berlangsung dalam jangka waktu lama, yang pada akhirnya akan memacu lonjakan inflasi melalui harga energi.
Aksi jual terjadi secara meluas di berbagai sektor, mendorong Indeks Volatilitas Cboe (VIX), yang sering disebut sebagai "indeks ketakutan", mencatat level penutupan tertinggi sejak November tahun lalu.
Meskipun demikian, indeks utama berhasil bangkit dari posisi terendah harian mereka; S&P 500 mengakhiri sesi dengan penurunan 0,9%, setelah sempat anjlok lebih dari 2% pada awal perdagangan.
Memasuki hari keempat konflik, fokus utama pasar beralih pada dampak harga minyak terhadap inflasi global.
Eskalasi militer semakin nyata setelah pasukan Israel dan Amerika Serikat menghantam berbagai target di wilayah Iran, yang kemudian memicu serangan balasan Iran di sekitar kawasan Teluk dan merembet hingga ke Lebanon.
Kekhawatiran utama para pelaku pasar adalah terganggunya infrastruktur energi. Iran secara terbuka mengancam akan menyerang kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur arteri yang sangat krusial karena mengangkut sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Ancaman ini, ditambah dengan penghentian produksi oleh beberapa produsen gas dan minyak di Timur Tengah, telah mendorong meroketnya tarif pengiriman global serta harga gas alam.
Baca Juga: Di Balik Serangan Besar, Ini Strategi Senyap CIA dalam Melacak Posisi Ali Khamenei
Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, memberikan pandangannya mengenai situasi ini.
“Tampaknya ada anggapan bahwa mungkin (perang Iran) akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan orang 24 jam yang lalu, karena perang ini menyebar dan berpotensi berdampak pada infrastruktur energi.,” ujarnya, dilansir via Reuters.
Menanggapi krisis maritim di Teluk, Presiden Donald Trump pada hari Selasa mengumumkan langkah-langkah proteksi ekonomi.
Ia memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan finansial bagi perdagangan maritim yang melintasi kawasan Teluk.
Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut AS siap memberikan pengawalan bagi kapal-kapal tanker minyak di Selat Hormuz jika situasi semakin mendesak.
Secara teknis, pasar mengirimkan sinyal bearish yang cukup mengkhawatirkan. S&P 500 ditutup di bawah rata-rata pergerakan 100 hari (100-day moving average) untuk pertama kalinya sejak 20 November tahun lalu.
Berita Terkait
-
Tinggalkan Istana Usai Pertemuan: AHY Antar SBY, Gibran Satu Mobil Bareng Jokowi
-
Momen Tiga Presiden Bersatu di Istana, Bahas Stabilitas dan Isu Global
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Analis: Iran di Atas Angin, Ini Sebabnya
-
Namanya Zahra Azadpour Ditembak Mati di Teheran dan Aksi Diam Timnas Putri Iran
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Bos-bos BCA Kompak Serok Saham Sendiri Saat Harga Diskon, Apa Dampaknya?
-
Orang Kaya Ngeluh LPG 12 Kg Naik, Bahlil: Sorry Yee!
-
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Tapi Dua Kapal Milik Pertamina Masih Tersandera
-
Dobrak Sekat Perbankan dan Telko, BTN-Indosat Berduet Percepat Inklusi Keuangan
-
Harga Plastik Naik, Bapanas Waspadai Dampaknya ke Harga Beras dan Gula
-
Selat Hormuz Dibuka, PIS Siapkan Rute Darurat agar 2 Kapal Pertamina Kembali Berlayar